RSS

MEMBANTAH KEBERADAAN AYAT-AYAT NYENTRIK DALAM AL-QUR’AN

Ada beberapa situs yang menyebarkan tuduhan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat nyentrik dan banyak kontradiktif. Maka pada kesempatan kali ini mari kita mencoba mengupas satu-persatu tuduhan mereka lengkap berikut bantahannya, semoga bermanfa’at.

TUDUHAN dan BANTAHAN PERTAMA

Di antara ayat-ayat nyentrik yang mereka tuduhkan adalah Qs. Al-Kahfi : 86. Dalam ayat ini terdapat kata-kata : تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ yang bermakna “matahari tenggelam di dalam laut yang ber-lumpur hitam ”. Lantas mereka berkata : “Qur’an mengajarkan bahwa matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam”.

Sesungguhnya pemahaman ayat ini tidak sebagaimana yang mereka fahami, karena tidak ada se-orang ahli tafsir dari kalangan kaum muslimin yang menafsirkan ayat ini sebagaimana yang mereka fahami dengan kesempitan fikiran mereka. Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya mengomentari penafsiran yang demikian : وأكثر ذلك من خرافات أهل الكتاب، واختلاق زنادقتهم وكذبهم

“Dan kebanyakan yang demikian itu berasal dari khurofatnya Ahli Kitab, dan karangannya kaum zindiq dan pendusta dari kalangan mereka.”

Makna kalimat “matahari tenggelam di dalam lautan” adalah makna kiasan, sebagaimana kalimat yang serupa sering dilontarkan oleh para ahli sastra, seperti : “ matahari pun hilang di telan bumi “, maknanya adalah kiasan, yaitu matahari menghilang seolah-olah ditelan bumi. Dan tidak ada se-orang ahli sastra pun yang menyalahkan kalimat ini, begitu pula dengan para ahli ilmu falaq, karena setiap pembicaraan dihukumi dengan tempatnya, sebagaimana tersebut dalam kaidah فِيْ كُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ

yaitu “setiap perkataan ada tempatnya”. Yakni, bila suatu perkataan dilontarkan tidak pada tem- patnya maka dapat dihukumi dengan salah, walau pun pada hakekatnya adalah benar. Seperti ketika dalam pelajaran sejarah ditanyatakan : “Kenapa Diponegoro bisa tertangkap ?”, lalu ada murid yang menjawab : “Karena taqdir.” Jawaban murid tersebut pada hakekatnya adalah benar, namun ti dak pada tempatnya sehingga gurunya menyalahkannya. Bukankah demikian ?

Begitu pula ketika berbicara tentang ketinggian gaya bahasa, maka tidak disalahkan mengatakan : “matahari tenggelam ditelan lautan” dalam dalam ilmu balaghoh jenis kalimat ini disebut Majaz ‘Aqli yaitu kiasan yang dapat diterima oleh akal. Contoh lain dari Majaz ‘Aqli ini seperti pada kali- mat : “Hujan telah menumbuhkan tanam-tanaman”, padahal hakekatnya bukan demikian, karena Alloh saja Yang bisa menumbuhkan tanam-tanaman melalui sari makanan yang dibawa oleh air hujan. Namun kesan yang segera terbesit dalam fikiran yaitu karena hujan maka tumbuh tanam-tanaman. Begitu pula bagi siapa pun yang berdiri di tepi pantai dari sebuah lautan yang luas ketika matahari tenggelam, maka ia melihat seolah-olah matahari tenggelam ditelan lautan. Tetapi hakekat nya tidaklah demikian. Inilah pemahaman yang disampaikan oleh seluruh ahli tafsir dari kalangan kaum muslimin tanpa ada perselisihan di dalam masalah ini.

Ada pun kalimat فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ “di dalam laut yang berlumpur hitam” menegaskan kepada ki-ta adanya beberapa faidah sains, yaitu :

  1. Warna laut ditentukan oleh keberadaan dasarnya. Bila dasar laut berlumpur hitam, maka laut pun tampak berwarna hitam, seperti LAUT HITAM yang ada di sebelah utara Turki.
  2. Dasar dari lautan yang luas dan dalam adalah berwarna gelap, karena tidak ada cahaya yang masuk ke dasarnya, sehingga nampak terlihat berwarna hitam.
  3. Semakin gelap warna lautan bebas menandakan semakin dalam dasar lautnya.

Dengan demikian kalimat “matahari tenggelam di dalam laut yang berlumpur hitam “ menunjuk-kan keberadaan Dzulqornain di tepi Laut Hitam atau di tepi lautan bebas yang luas dan dalam yang nampak dari sana seolah-oleh matahari tenggelam di telan lautan. Lalu di mana letak kenyentrikan ayat ini sebagaimana dituduhkan oleh mereka ?

TUDUHAN dan BANTAHAN KEDUA

Mereka mengomentari Qs. Al-Kahfi : 90 sebagai salah satu dari ayat-ayat nyentrik karena di dalamnya tersebut حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ “hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari“, mereka berkata : “ini berdasarkan anggapan bahwa bumi itu datar, kalau tidak bagaimana mung- kin ada ujung barat ( tempat matahari tenggelam ) dan ujung timur ( tempat matahari terbit ) di bumi ?

Tidak ada seorang pun ahli tafsir yang memahami ayat ini sebagaimana disebutkan oleh mereka, ka rena maksud dari “telah sampai ke tempat terbit matahari “ adalah ke tempat di mana seseorang da-pat melihat matahari tenggelam secara sempurna tanpa adanya halangan. Kalimat di atas sama seper ti kalimat : “kita telah sampai ke tempat semburan lava pijar”, apakah berarti kita mesti berada te-pat di lubang tempat semburan lava ? Tentu tidak demikian, namun maknanya adalah kita telah sam pai ke tempat di mana kita bisa melihat lava menyembur dari lubangnya. Bukankah begitu ?

TUDUHAN dan BANTAHAN KETIGA

Ayat lainnya yang dianggap nyentrik oleh mereka adalah firman Alloh ta’ala :

وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لأَسْقَيْنَاهُم مَّاءً غَدَقًا

“Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu ( agama Islam ), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar ( rezki yang banyak ).” ( Qs. Al-Jin : 16 )

Mereka menganggap bahwa ayat ini adalah sumbangan dari jin, karena kata “KAMI” dalam ayat ini mereka tafsirkan sebagai “jin sholeh”.

Sesungguhnya tidak seorang pun dari kalangan kaum muslimin yang menafsirkan kata “KAMI” da- lam ayat ini dengan “bangsa jin”, karena berdasarkan kaidah : السياق و السباق من الحصر “konteks kalimat dan urutan katanya termasuk dari pembatas makna” maka makna dari kata “KAMI” dalam ayat ini adalah ALLOH. Sebab konteks kalimat dalam ayat ini menunjukkan balasan kebaikan di syurga ba-gi orang-orang yang berjalan lurus di atas agama Islam, dan yang membalasnya tentu hanya Alloh ta’ala. Begitu pula dalam ayat sebelum dan sesudahnya, kata ganti yang menunjuk kepada jin yang sholih telah berubah menjadi orang ketiga, yaitu “MEREKA”. Perhatiakan ayat sebelumnya :

وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُوْلَئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا

“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang ta’at dan ada ( pula ) orang-orang yang me nyimpang dari kebenaran.” Barangsiapa yang yang ta’at, maka mereka itu benar-benar telah memi- lih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam.” ( Qs. Al-Jin : 14 – 15 )

Dalam akhir ayat ke-14 kata ganti untuk jin yang sholeh sudah diubah dari “kami” menjadi “mere- ka“, begitu pula dalam ayat ke-15.

Perhatikan pula ayat setelahnya :

لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَمَن يُعْرِضْ عَن ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا

“Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat.” ( Qs. Al-Jin : 17 )

Sehingga baik dilihat dari konteks kalimatnya maupun dari kalimat-kalimat yang mendahuluinya maupun yang setelahnya, kata “KAMI” dalam ayat ke-16 semuanya mengarah ke satu makna yaitu ALLOH, bukan kepada jin sholeh sebagaimana yang disangkakan oleh orang-orang yang tidak me- ngerti kaidah bahasa yang bersifat universal ini.

Penggunaan kata ganti “KAMI” dalam ayat ke-16 ini untuk menggantikan kata “ALLOH” karena ke tika Alloh memberi minum kepada penduduk syurga, tidak Alloh lakukan dengan tangan-Nya sendi ri, melainkan dengan menyuruh para pelayan-pelayan syurga untuk melayani para penduduk syur- ga. Seandainya menggunakan kata “ALLOH” bermakna Alloh sendiri Yang langsung memberi me-reka minum, dan makna ini bertentangan dengan keagungan Alloh subhanahu wa ta’ala karena sa-ma dengan menganggap Alloh sebagai pelayan bagi penduduk syurga. Maha Suci Alloh dan Maha Tinggi dari sangkaan yang demikian.

Dengan demikian, tuduhan mereka bahwa Qs. Al-Jin adalah sumbangan jin adalah suatu ke-dustaan yang nyata karena hanya didasarkan kepada sangkaan yang jauh dari kaidah ilmu yang be-nar, tidak memiliki sandaran dalil yang kuat dan ilmiah.

TUDUHAN dan BANTAHAN KEEMPAT

Mereka berkata : “Kalau kita perhatikan ayat 6 ( Surat AL-JIN ), dosa syirik ( meminta per-lindungan kepada syaitan / jin ) ternyata tidak lebih besar dari dosa mendurhakai Rasul ( ayat 23 ). Kalau bersekutu dengan syaitan paling-paling cuma berakibat pada bertambahnya dosa atau kesa- lahan ( ayat 6 ). Sebaliknya kalau mendurhakai Rasul, hukumannya langsung disebut SIKSA NE- RAKA JAHANNAM ( ayat 23 ). Ternyata, perbuatan yang paling dinista oleh Tuhan di zaman Mu- sa, malah dianggap sepele oleh Muhammad. Sebaliknya, dosa kecil, yaitu mendurhakai Nabi, ma- lah langsung dikutuk MASUK NERAKA JAHANNAM.”

Begitulah anggapan buruk mereka akibat kebodohan terhadap petunjuk dalil. Sesungguhnya surat Al-Jin ayat 6, yaitu :

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الإِنْسِ يَعُوذُوْنَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada be-berapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.”

Ayat ini tidak sedang berkomentar tentang kadar hukum di akhirat, namun ayat ini sedang memban-tah keyakinan orang-orang musyrik Arab yang biasa meminta perlindungan kepada bangsa jin keti-ka mereka sedang berjalan melewati suatu lembah atau daerah yang angker. Hal ini dapat diketahui dari asbabun-nuzun ( sebab turunnya ayat ) dari ayat ini. Karena bangsa Arab Jahiliyyah masih me-nganggap bahwa hal ini dapat memberi tambahan manfa’at kepada mereka. Pada hakekatnya bukan tambahan manfa’at yang mereka peroleh, namun tambahan dosa dan kesalahan yang mereka dapat-kan. Jadi sangat keliru bila ayat ini dibandingkan dengan ayat ke-23 :

وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”

Karena ayat ini memang menyebutkan kadar dosa, bukan membantah keyakinan yang keliru. Dan mendurhakai Rosul berarti mendurhakai Alloh, karena Alloh menyampaikan Kitab Suci-Nya mela-lui Rosul-Nya, sehingga dalam ayat ini disebutkan “Dan barangsiapa yang mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya “, bukan hanya “Rosul”, tetapi “Alloh dan Rosul-Nya”. Betapa liciknya dan khianatnya mereka dengan menukil semaunya sendiri dan menyembunyikan apa yang mereka anggap tidak bi-sa memuluskan tipu daya mereka, lalu menyimpulkan berdasarkan pendapat yang subyektif !!!

TUDUHAN dan BANTAHAN KELIMA

Di antara ayat yang mereka sebut sebagai nyentrik adalah Qs. Al-Jin : 19 :

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا

“Dan bahwasanya tatkala hamba Alloh ( Muhammad ) berdiri menyembah-Nya ( mengerjakan iba- dat ), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.”

Mereka berkata : “Ketika Nabi Anda Muhammad sholat, jin-jin pada kumpul semua mengerumuni sang Nabi. Wah… wah… wah… Ketika berdoa mestinya setan-setan pada takut, tapi ini kok malah beda ? Jin / Syaitan malah seneng dan ngumpul semua ?”

Perkataan mereka ini dilatarbelakangi oleh ketidakfahaman mereka akan perbedaan jin dengan sye-tan. Sesungguhnya tidak semua jin adalah syetan, karena syetan dalam bahasa ‘arab bermakna se-tiap apa saja yang suka membangkang, baik itu dari bangsa jin, manusia, binatang dan segala sesua-tu, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thobari. Oleh karena itu syetan bisa ber-ujud jin maupun manusia, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نِبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan ( dari jenis ) ma nusia dan ( dan jenis ) jin.” ( Qs. Al-An’am : 112 )

Bila jin tersebut adalah syetan, maka ketika mendengarkan bacaan Al-Qur’an, pasti akan menjauh karena terasa panas dan terbakar. Namun bila yang mendengarkan adalah jin yang beriman, maka bacaan Al-Qur’an akan terasa nyaman bagi mereka, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا

“Katakanlah ( hai Muhammad ) : “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin ( akan Al Qur’an ), lalu mereka berkata : “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang mena’jubkan, ( yang ) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami ber- iman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan ka mi.” ( Qs. Al-Jin : 1 – 2 )

Ayat ini berhubungan dengan ayat ke-19, yaitu ketika jin-jin yang beriman mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang menjalankan sholat malam, maka jin-jin tersebut berkerumun menyimak bacaan beliau, lalu mereka pun beriman.

Ayat ini didahulukan daripada ayat ke-19 padahal ayat ini berkaitan erat dengan ayat ke-19 karena Alloh hendak menjelaskan bahwa Qs. Al-Jin ini bukan buatan atau sumbangan jin, tetapi Firman Alloh yang mengisahkan tentang berimannya sekumpulan jin ketika mendengarkan bacaan Al-Qur-’an. Oleh karena itu surat ini diawali dengan perintah kepada Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam : قُلْ “Katakanlah !” Dengan demikian semua komentar yang lain dari mereka tentang Qs. Al-Jin telah terbantah dengan bantahan dari kami ini.

BANTAHAN KEENAM

Mereka mengatakan : “Dalam Al-Qur’an terdapat banyak kesalahan dalam hitungan”. Ke-mudian mereka menunjuk ke Qs. Fushshilat : 9 – 12 yang mereka sangka bertentangan dengan ayat-ayat yang lainnya yang menyebutkan bahwa Alloh menciptakan langit dan bumi dalam enam masa.

Dalam Qs. Fushshilat : 9 – 12 Alloh berfirman :

قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَندَادًا ذَلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah : “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua ma- sa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? ( Yang bersifat ) demikian itu adalah Rabb semesta alam”.

وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِن فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاء لِلسَّائِلِينَ

“Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan ( penghuni )nya dalam empat masa. ( Penjelasan itu sebagai jawaban ) bagi orang-orang yang bertanya.”

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاء وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلأَرْضِ اِئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ

“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berka-ta kepadanya dan kepada bumi : “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan su-ka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab : “Kami datang dengan suka hati”.

فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا وَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

“Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit uru-sannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami meme liharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengeta- hui.”

Lalu mereka berkata : “ 2 ( bumi ) + 4 ( makanan ) + 2 ( surga ) = 8 BUKAN 6.”

Dengan demikian mereka sangkakan bahwa terjadi kesalahan hitung di dalam Qs. Fushshilat ini. Pada hakekatnya tidaklah demikian. Lebih jelasnya, Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma menjelas-kan maksud dari ayat ini :

وَ خَلَقَ الأَرْضَ فِيْ يَوْمَيْنِ ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ فِيْ يَوْمَيْنِ

ثُمَّ دَحَى الأَرْضَ وَ دَحْوُهَا أَنْ أَخْرَجَ مِنْهَا الْمَاءَ وَالْمَرْعَى وَ خَلَقَ الجِبَالَ وَ الْجَمَالَ

وَ الآكَام وَ مَا بَيْنَهُمَا فِيْ يَوْمَيْنِ آخَريْنِ

“Alloh menciptakan bumi dalam 2 hari, kemudian menuju ke penciptaan langit, Dia mengerjakan- nya dalam 2 hari, kemudian Dia menghamparkan bumi, menghamparkannya yaitu dengan menge-luarkan air dan tumbuh-tumbuhan, menciptakan gunung-gunung, semua yang indah, bukit-bukit dan apa yang ada di antaranya dalam 2 hari.” (AR. Bukhori )

Dengan demikian berdasarkan penjelasan Ibnu ‘Abbas : Penciptaan bumi sebagai bentangan dilaku-kan dalam 2 masa, penciptaan langit ( bukan surga sebagaimana mereka sangkaan ) dilakukan da-lam 2 masa, dan penciptaan aneka bentuk dan kehidupan di bumi selama 2 masa, sehingga menjadi 2 + 2 + 2 = 6 bukan 8 seperti sangkaan mereka.

Bila ada pertanyaan : “Kenapa pada ayat ke-10 disebutkan 4 hari bukan 2 hari ?”

Hal ini karena penciptaan beragam bentuk dan kehidupan di bumi dilakukan setelah penciptaan la-ngit, sebagaimana dijelaskan dalam Qs. An-Naazi’at : 27 – 33 :

أَ أَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ ؟ بَنَاهَا . رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا , وَ أَغْطَشَ لَيْلَهَا وَ أَخْرَجَ ضُحَاهَا , وَ الأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا , أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَ مَرْعَاهَا , وَ الْجِبَالَ أَرْسَاهَا , مَتَاعًا لَكُمْ وَ ِلأَنْعَامِكُنمْ

“Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Alloh telah membinanya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadi- kan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripada nya mata airnya, dan ( menumbuhkan ) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.”

Ketika Alloh menciptakan langit berikut bintang-bintang, termasuk matahari, maka pengaruh pen-ciptaan langit berikut bintangnya mulai terjadi di bumi, seperti mulai adanya malam dan siang dan setting kehidupan lainnya yang akan diproses pada dua hari berikutnya setelah penciptaan langit. Sehingga 4 hari yang disebutkan dalam ayat ke-10 meliputi 2 hari yang dikarenakan mengikuti pen-ciptaan langit berikut bintang-bintangnya, dan 2 hari yang lainnya terproses setelah penciptaan la-ngit selesai. Maka tidak ada kesalahan hitung di sini, yang ada adalah salah sangka dari mereka yang memang tidak mengerti tentang tafsir Al-Qur’an.

TUDUHAN dan BANTAHAN KETUJUH

Kemudian mereka menuduh telah terjadi kesalahan hitung dalam ilmu waris, mereka men-contohkan : “Misalkan seorang lelaki mati meninggalkan tiga anak perempuan, dua orang tua dan is teri. Menurut ayat-ayat di atas ( yaitu Qs. An-Nisa’ : 11 – 12 ) ketiga anak perempuannya akan me-nerima 2/3 warisan, orang tuanya menerima 1/3 warisan dan isterinya 1/8 warisan. Sekarang perhitu ngannya : 2/3 + 1/3 + 1/8 = 9/8 = 1,125. Pembagian hartanya melebihi harta yang tersedia untuk di-bagikan. Bagaimana hitungan seperti ini mungkin terjadi ?”

Perhitungan waris yang melebihi harta si-mayit tidak pernah terjadi pada zaman Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam , namun pernah terjadi pada zaman para Shahabat beliau yang merupakan murid-murid Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Lalu mereka menyelesaikannya dengan merubah penye-but menjadi pembilang, sehingga hitungannya adalah :

2/3 + 1/3 + 1/8 = 16/24 + 8/24 + 3/24 = 27/24 = 9/8

Lalu penyebutnya diubah menjadi pembilang sehingga menjadi :

16/27 + 8/27 + 3/27 = 27/27 = 1

Demikian pula contoh-contoh hitungan waris yang lainnya dapat diselesaikan dengan cara seperti ini, dan ini menunjukkan bahwa sudah disiapkan suatu model perhitungan yang tepat dan adil bila terjadi hal semacam ini. Bahkan ini menunjukkan keunggulan Islam dalam ilmu hitung.

TUDUHAN dan  BANTAHAN KEDELAPAN

Mereka mengatakan : “Hari Alloh : 1000 tahun atau 5000 tahun ?” Mereka menuduh telah terjadi pertentangan dalam Al-Qur’an, yaitu ketika Qs. Al-Hajj : 47 menyebutkan bahwa 1 hari di si si Alloh lamanya adalah 1.000 tahun, namun dalam Qs. Al-Ma’arij : 4 disebutkan 1 hari lamanya sama dengan 50.000 tahun.

Sesungguhnya tidak terjadi pertentangan, karena seandainya tafsir ayat-ayat tersebut sebagaimana apa yang mereka sangkakan, maka maknanya sama dengan kondisi waktu di bumi, di mana 1 hari di daerah tropis lamanya 24 jam, namun 1 hari di daerah kutub lamanya 1 tahun. Apakah ini berten-tangan ?

Sesungguhnya penyebutan 1 hari di suatu ayat adalah 1.000 tahun dan di ayat yang lainnya 50.000 tahun karena perbedaan konteks pembicaraan. Bukankah setiap Pembicaraan Ada Tempatnya ?

Dalam Qs. Al-Hajj : 47 Alloh berbicara mengenai perhitungan hari di sisi-Nya, sedangkan dalam Qs. Al-Ma’arij Alloh berbicara tentang waktu tempuh manusia dengan kemampuannya yang serba terbatas, maka 1 hari dalam kecepatan malaikat menyamai 50.000 tahun dalam perjalanan manusia untuk bisa menghadap kepada Alloh ta’ala.

TUDUHAN dan BANTAHAN KESEMBILAN

Mereka menuduh Al-Qur’an tidak konsisten ketika menyebutkan jumlah syurga, terkadang disebutkan dalam bentuk tunggal, seperti dalam Qs. Az-Zumar : 73, Qs. Fushshilat : 21, Qs. Al-Ha-did : 41 dan lain-lain, namun terkadang menyebutnya dalam bentuk jamak seperti pada Qs. Al-Kah-fi : 31, Qs. Al-Hajj : 23, Qs. Fathir : 33 dan lain-lain, maka yang mana yang benar ?

Sesungguhnya “Setiap perkataan ada tempatnya”, ketika Alloh ta’ala menyebut syurga dengan ben tuk tunggal artinya syurga dalam artian kebalikan dari neraka, yaitu tempat kembalinya orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Ada pun syurga sendiri ada beberapa macam sesuai tingkatan amal orang yang memasukinya, yang paling tinggi adalah syurga Firdaus, kemudian syurga-syurga lainnya seperti Syurga Aden, Syurga Daarus-Salaam dan lain-lainnya. Masing-masingnya pun ma-sih memiliki tingkatan-tingkatan.

Setiap perkataan ada tempatnya”. Ketika Alloh menyebut syurga dalam bentuk jamak, maka kali-matnya senantiasa berkaitan dengan macam syurganya, bukan dengan makna syurga yang merupa-kan kebalikan dari neraka. Seperti ketika bercerita tentang Syurga Aden dalam Qs. Al-Kahfi : 31 dan Qs. Fathir : 33, maka ayat-ayat ini sedang berbicara tentang tingkatan atau taman-taman yang ada di syurga Aden. Demikian pula ketika sedang mengilustrasikan suasana di syurga, seperti dalam Qs. Al-Hajj : 23, maka ayat tersebut berbicara dengan bentuk jamak karena yang dibicarakan adalah tingkatan atau taman-taman yang ada di masing-masing syurga.

TUDUHAN dan BANTAHAN KESEPULUH

Mereka menuduh bahwa Al-Qur’an bertentangan, karena di dalam Qs. Al-Waqi’ah : 7 – 10 disebutkan bahwa manusia terbagi menjadi tiga golongan. Namun di dalam Qs. Az-Zalzalah : 6 – 8 disebutkan dua golongan, yaitu manusia yang berbuat kebaikan dan manusia yang berbuat kejelekan.

Sesunguhnya tuduhan mereka sangat jauh dari kebenaran. Memang Qs. Al-Waqi’ah sedang berbicara tentang tiga golongan manusia yang ada pada hari qiyamat, yaitu Ashhabul Yamin ( Golo ngan Kanan ), Ashhabusy-Syimal ( Golongan Kiri ) dan As-Sabiqunas-Sabiqun ( Golongan yang saling berlomba dalam kebaikan ). Sedangkan Qs. Az-Zalzalah : 6 – 8 tidak berbicara tentang penggolongan manusia pada hari qiyamat, namun sedang berbicara tentang keadilan dalam pembala san amal, yaitu siapa saja yang berbuat kebaikan seberat dzarrah pasti akan melihat balasannya, demikian pula siapa saja yang berbuat kejelekan seberat dzarrah pun pasti akan melihat balasannya. Di mana letak kontradiktifnya ?

TUDUHAN dan BANTAHAN KESEBELAS

Mereka menuduh telah terjadi kontradiktif dalam ayat-ayat mengenai siapa yang mencabut nyawa ? Dalam Qs. As-Sajdah : 11 disebutkan bahwa yang mencabut nyawa adalah satu malaikat yaitu Malaikat Maut, namun dalam Qs. Muhammad : 27 disebutkan lebih dari satu malaikat, dan dalam Qs. Az-Zumar : 42 disebutkan bahwa Alloh sendiri yang mencabut nyawa. Lantas yang mana yang benar ?

Sesungguhnya hanya Alloh Yang mencabut nyawa, hanya saja ketika mencabut nyawa sese-orang Alloh melakukannya melalui Malaikat Maut, oleh karena itu dalam Qs. Az-Zumar : 42 ha-nya menyebutkan bahwa hanya Alloh saja Yang memegang nyawa orang baik yang sudah mati mau pun yang belum mati, tidak menyebutkan Alloh Yang mencabut sendiri nyawa makhluk-Nya.

Sedangkan Qs. As-Sajdah : 11 menerangkan bahwa pelaksana pencabutan nyawa adalah Ma laikat Maut, dan jumlahnya hanya satu. Ada pun bila dalam Qs. Muhammad : 27 disebutkan lebih dari satu malaikat, itu karena orang kafir tidak hanya dicabut nyawanya, namun juga disiksa. Perhatikan betul-betul bunyi ayatnya :

فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمْ الْمَلائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ

“Bagaimanakah ( keadaan mereka ) apabila para malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul mukul muka mereka dan punggung mereka?”

Pencabut nyawanya tetap Malaikat Maut, namun yang memukul muka dan punggung mereka ada-lah malaikat-malaikat yang lainnya. Karena mereka bekerja dalam satu urusan yang bersamaan ma-ka mereka disebut secara bersamaan pula, sehingga sebutan mereka menjadi jamak atau lebih dari satu.

TUDUHAN dan BANTAHAN KEDUA BELAS

Ayat-ayat lain yang dituduh kontradiktif adalah Qs. Ali ‘Imron : 42 yang menyebutkan bah-wa makaikat yang berbicara dengan Maryam adalah lebih dari satu. Namun dalam Qs. Maryam : 17 disebutkan hanya satu malaikat. Lalu berapa jumlah yang benar ?

Sesungguhnya tidak ada kontradiktif dalam ayat-ayat ini, karena Qs. Ali ‘Imron : 42 menye- but kan tentang kedatangan para malaikat kepada Maryam untuk memberitakan kabar gembira bah- wa ia akan dikaruniai seorang putera yang kelak menjadi Rosul pilihan. Sedangkan Qs. Mayam : 17 menuturkan kisah kedatangan Jibril yang hendak meniupkan roh ke dalam rahim Maryam. Perhati- kan bunyi ayat seterusnya yaitu ayat yang ke-19 :

قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلامًا زَكِيًّا

“Ia ( Jibril ) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”.

Dalam ayat ini Jibril mengatakan bahwa ia diutus untuk memberi anak laki-laki kepada Maryam, bu kan sekedar memberikan kabar lagi. Sehingga tidak ada kontradiktif dalam hal ini, karena berbeda waktu dan kejadiannya.

TUDUHAN dan BANTAHAN KETIGA BELAS

Mereka juga mempermasalahkan penggunaan kata ganti “KAMI” untuk Alloh yang banyak terdapat di dalam Al-Qur’an. Mereka berkata : “Kata “Kami” dalam hal ini merujuk kepada berhala berhala Arab di jaman sebelum Islam.”

Perhatikan kebiasaan mereka yang memaksakan tafsiran ala mereka yang sama sekali jauh dari ke-benaran, karena isi Al-Qur’an justru mencela berhala-berhala Arab di zaman sebelum Islam, bukan malah menggabungkannya dengan Alloh sehingga digunakanlah kata ganti “Kami” !!!

Ada alasan kenapa Alloh menyebut diri-Nya dengan “KAMI”, yaitu, ketika Alloh ta’ala melakukan sesuatu tidak secara langsung, namun melalui para malaikat atau proses yang terjadi di alam, maka Alloh menyebut diri-Nya dengan “KAMI”. Seperti firman Alloh ta’ala : إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada malam kemuliaan.” ( Qs Al-Qodar : 1 )

Di ayat ini Alloh ta’ala menurunkan Al-Qur’an tidak secara langsung, melainkan melalui malaikat Jibril u .

Namun ketika Alloh ta’ala melakukannya sendiri tanpa melalui perantara, maka Alloh menyebut di-ri-Nya dengan “AKU”, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

“Alloh berfirman : “Wahai Iblis, apa yang menahanmu dari bersujud kepada Adam yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku sendiri ?” ( Qs. Shod : 75 )

Dalam ayat ini Alloh menyebut diri-Nya dengan “AKU”, karena memang Adam ‘alaihis-salam di-ciptakan secara langsung oleh Alloh, tidak melalui proses atau utusan para malaikat.

Perhatikan pula dalam ayat berikut :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Tidaklah Kami utus sebelummu seorang rosul pun kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwasan- nya tidak ada yang berhak disembah kecuali Aku maka sembahlah Aku.” ( Qs. Al-Anbiya’ : 25 )

Dalam ayat ini Alloh menyebut diri-Nya dengan dua sebutan, yaitu “KAMI” dan “AKU”, yaitu keti- ka Alloh menurunkan wahyu kepada para rosul melalui pengutusan malaikat maka Alloh menyebut diri-Nya dengan “KAMI”. Namun ketika menyebutkan isi da’wah yang diwahyukan kepada para Ro sul, maka Alloh menyebut diri-Nya dengan “AKU”. Ini merupakan petunjuk yang terang bahwa Alloh itu benar-benar Esa, bukan berbilang.

TUDUHAN dan BANTAHAN KEEMPAT BELAS

Mereka mengatakan : “Dalam Surat ini – yaitu Qs. Asy-Syu’aro : 192 – 196 -, dikatakan bah wa Al-Qur’an sudah disebut dalam kitab-kitab terdahulu. Pertama-tama perlu ditekankan bahwa ti-dak ada satu pun buku firman Tuhan terdahulu yang berbahasa Arab. Misalnya, buku Torah dan In-jil adalah dalam bahasa Hebrew dan Yunani. Dua keganjilan pun muncul : Bagaimana mungkin Al-Qur’an berbahasa Arab terkandung dalam buku-buku berbahasa lain ?”

Seperti biasanya, mereka selalu memaksakan pemahaman mereka yang buruk terhadap sebuah kali-mat. Perhatikan betul firman Alloh berikut :

وَإِنَّهُ لَفِي زُبُرِ الأَوَّلِينَ

“Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar ( tersebut ) dalam Kitab-kitab orang yang dahulu.”

( Qs. Asy-Syu’aro : 196 )

Tidak ada seorang ahli tafsir pun yang memahami ayat tersebut seperti yang mereka fahami, karena maknanya adalah isi atau inti sari dari ajaran Al-Qur’an yang berupa ‘aqidah tauhid telah terdapat dalam kitab-kitab sebelum Al-Qur’an. Oleh karena itu pada dua ayat sebelumnya disebutkan :

عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ

“ke dalam hatimu ( Muhammad ) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” ( Qs. Asy-Syu’aro : 194 )

Dan peringatan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah perin tah agar bertauhid atau mengesakan Alloh dan menjauhi dari syirik atau menyekutukan Alloh. Mak-na ini diperkuat dengan apa yang tersebut dalam ayat setelahnya :

أَوَلَمْ يَكُن لَّهُمْ آيَةً أَن يَعْلَمَهُ عُلَمَاء بَنِي إِسْرَائِيلَ

“Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahui- nya ?” ( Qs. Asy-Syu’aro : 197 )

Sebagaimana hal ini disebutkan dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’an, di antaranya adalah firman Alloh ta’ala :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Tidaklah Kami utus sebelummu seorang rosul pun kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwasan- nya tidak ada yang berhak disembah kecuali Aku maka sembahlah Aku.” ( Qs. Al-Anbiya’ : 25 )

Jadi seluruh kitab suci isinya adalah ajaran tauhid, dan inilah makna yang dikehendaki dari kalimat bahwa Al-Qur’an terdapat dalam kitab-kitab sebelumnya.

Kita buat sebuah perbandingan, yaitu ketika saya memiliki sebuah buku yang isinya ada pula di da-lam buku-buku milik teman-teman saya yang berlainan redaksi dan bahasanya, namun inti pembaha sannya sama. Apabila saya berkata : “Buku saya ini juga terdapat di dalam buku teman-teman sa-ya.”, apakah maknanya setiap kata dan hurufnya harus ada di dalam buku teman-teman saya ?!!!

TUDUHAN dan BANTAHAN KELIMA BELAS

Mereka kembali memaksakan pemahaman buruknya terhadap teks ayat-ayat Al-Qur’an, lalu mereka berkata : “Qur’an mengajarkan bahwa ada tujuh lapis langit ( surga ) dan bahwa bintang-bin tang ada di langit bawah dan bulan di tengah tujuh lapis langit itu.”

Dari mana mereka mengambil kesimpulan seperti itu ? Ada pun ayat-ayat yang mereka sangkakan sebagai dasar dari kesimpulan mereka tidaklah demikian maknanya, dan tidak ada seorang ahli taf-sir, bahkan tidak ada seorang muslim yang bodoh sekalipun yang memahami ayat-ayat tersebut se- perti penafsiran mereka. Di antara bentuk pemaksaan yang jelas seterang matahari adalah mereka meletakkan kata “surga” di dalam kurung sebagai tafsir dari langit versi mereka. Tidak ada seorang muslim pun yang menafsirkan langit dengan surga !

Betul memang bahwa bintang berada di langit yang paling dekat, karena bintang diciptakan sebagai hiasan bagi langit dunia, yaitu langit yang menaungi dunia. Tetapi bagaimana bisa mereka mengambil kesimpulan bahwa “menurut Al-Qur’an bulan lebih jauh daripada bintang” dengan mendasarkan kepada firman Alloh ta’ala :

وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا

“Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita ?”

( Qs. Nuh : 16 )

Seandainya mereka mengatakan bukankah kata فِيهِنَّ bermakna di dalamnya, yaitu di dalam tujuh la-pisan langit ?

Kita jawab : Sesungguhnya keadaannya tidaklah seperti itu. Karena seandainya ada orang yang ber-kata : “Aku sedang berada di dalam rumah.”, apakah kalimat ini mengharuskan orang tersebut ada di tengah-tengah rumah ? Tidak ada seorang ahli bahasa pun yang mengatakan demikian. Bahkan se seorang yang berdiri di balik pintu rumahnya yang bertingkat-tingkat tetap dibenarkan mengatakan “Saya seang berada di dalam rumah.” Bukankah demikian ? Dan para Ahli Tafsir yang dahulu hing-ga sekarang sepakat bahwa bulan berada di langit dunia, bukan di tengah-tengah langit.

Mereka menuduh bahwa adanya tujuh lapis langit hanyalah khayalan, karena bertentangan dengan ilmu astronomi modern.

Terhadap tuduhan mereka, kita akan ajukan pertanyaan : “Sudah sampai mana penelitian astronomi modern menjelajah angkasa raya ? Betapa banyak teori, hipotesa dan hasil pengamatan yang dinya-takan tidak berlaku karena berdasarkan hasil pengamatan terbaru ternyata hal itu keliru. Seperti ba- gaimana kekeliruan para astronomi yang menyangka di bulan ada kehidupan karena tampaknya ada saluran air di bulan, tetapi ternyata merupakan salah pengamatan dan diralat. Begitu pula dengan hi- potesa mereka tentang adanya makhluk Mars, yang ternyata tidak ada kebenarannya. Atau mungkin teori mereka tentang Black Hole yang akhirnya ditarik kembali oleh si pembuat teori. Apakah kita akan menyalahkan kebenaran wahyu dengan hanya mendasarkan kepada hasil penelitian yang be-lum pernah mencapai garis finish ?

TUDUHAN dan BANTAHAN KEENAM BELAS

Mereka menuduh Qs. An-Naml : 18 – 19 bertentangan dengan fakta ilmiah, mereka berkata: “”Semut berkomunikasi dengan suara dengan bau, bukan dengan suara. Solomon tidak mungkin mendengar semut berbicara, karena semut tidak mengeluarkan suara.”

Seandainya perkataan mereka benar, maka makna قال atau “berkata” tidak mesti dengan suara, seba-gaimana disebutkan dalam Al-Mu’jam Al-Wasith :

و يُستعمل القول مجازًا للدلالة على الحال

“Dan dipergunakan pula “berkata” dengan makna kiasan untuk menunjukkan kepada keadaan.”

Oleh karena itu dalam ayat ke-19 disebutkan dengan lafazh : فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا

“maka dia tersenyum dengan tertawa karena perkataan semut itu.” ( Qs. An-Naml : 27 )

yaitu dengan lafazh “karena perkataannya”, bukan dengan lafazh “karena mendengarnya”, tetapi maknanya sama, yaitu mengerti tentang yang dimaksud.

Walaupun demikian tidak mustahil dengan adanya kemajuan teknologi yang semakin canggih suatu ketika bisa diketahui adanya suara semut, yang mungkin saja alat tercanggih saat ini belum mampu menangkap sinyalnya.

TUDUHAN dan BANTAHAN KETUJUH BELAS

Mereka menuduh bahwa penjelasan Al-Qur’an tentang perkembangan janin bukan penjela-san yang ilmiah, karena hanya disebutkan sperma, namun tidak disebutkan adanya sel telur yang ju-ga sangat penting dalam pembentukan janin.

Terhadap tuduhan mereka, kita akan balik bertanya : “Apakah salah bila ada orang yang ber-kata Fulan anaknya Allan.” ? Padahal isteri Allan juga penting dalam proses kelahiran Fulan di du- nia ini, namun dengan tidak disebutnya isteri Allan bukan berarti kalimat tersebut salah atau tidak ilmiah. Bukankah begitu ?

Di tilik dari sisi bahasa, air mani dalam bahasa arab yang terdahulu tidak hanya dimaksud-kan untuk sperma laki-laki, namun bisa juga dipergunakan untuk menyebut sel telur, sehingga da- lam beberapa hadits disebut tentang : air mani laki-laki dan air mani perempuan.

TUDUHAN dan BANTAHAN KEDELAPAN BELAS

Mereka mencemooh ayat-ayat yang menyebutkan bahwa bintang-bintang diciptakan sebagai alat pelempar syetan.

Bintang memang diciptakan untuk beberapa fungsi, di antaranya sebagai alat untuk melempar sye-tan. Namun tidak hanya itu, bintang juga dicipta sebagai hiasan langit dan petunjuk jalan, sehingga dengan dasar posisi bintang-bintang ini manusia bisa membuat peta langit untuk menentukan arah.

Bila mereka mencemooh fungsi bintang sebagai alat pelempar syetan, bisakah mereka menjawab misteri komet atau bintang jatuh yang sampai sekarang para ahli astronomi pun belum ada yang mampu mengetahui asal dan sebabnya ?!!!

TUDUHAN dan BANTAHAN KESEMBILAN BELAS

Mereka berkata : “Menurut Qur’an, matahari dan bulan menunduk pada manusia.” Lalu me-reka berkata lagi : “Sayangnya, manusia tidak bisa membuat matahari dan bulan menunduk pada di-rinya. Bulan dan bintang selalu mengikuti arah orbit mereka masing-masing. Matahari, bulan, siang ataupun malam, tidak dapat dipengaruhi oleh keinginan manusia yang mana saja.”

Demikian pemahaman mereka yang tidak sempurna terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang akhirnya melahirkan kesimpulan yang sangat bodoh yang tidak pernah difahami oleh seorang muslim pun. Perhatikan betul ayat yang mereka salah fahami itu :

وَسَخَّر لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَآئِبَينَ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

“Dan Dia telah menundukkan ( pula ) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar ( da-lam orbitnya ), dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” ( Qs. Ibrohim : 33 )

Makna menundukkan dalam ayat ini bukan mengendalikan orbitnya karena di dalam ayat ini dise- butkan kata دَآئِبَينَ yang bermakna “beredar dalam orbitnya”. Artinya matahari dan bulan tetap ber- edar pada orbitnya sehingga berdampak adanya siang dan malam. Ada pun makna “menundukkan bagimu” bermakna menundukkannya untuk kebutuhan manusia sesuai dengan kebutuhan manusia, seperti manusia bisa mengeringkan baju dengan terik panasnya matahari, bisa mengetahui waktu sholat dengan melihat peredaran matahari, mengetahui bulan dengan peredaran bulan, dapat menca-ri nafkah dengan adanya siang, dan bisa beristirahat dengan sempurna dengan adanya malam. Ini adalah makna yang disepakati oleh seluruh kaum muslimin karena memang konteks kalimatnya menghendaki makna yang demikian.

TUDUHAN dan BANTAHAN KEDUA PULUH

Mereka menyalahkan ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang fungsi gunung yang diciptakan untuk mencegah goncangan di bumi, mereka berkata : “Penjelasan seperti itu bertentang-an langsung dengan ilmu geologi modern. Geologi membuktikan kepada kita bahwa gerakan tecto-nic plates atau gempa bumi itu sendirilah yang mengakibatkan terbentuknya gunung. Kedua, jika memang gunung diciptakan untuk menghentikan perguncangan bumi, mengapa ada berlusin-lusin gempa bumi tiap tahun ?”

Sesungguhnya perkaranya tidaklah seperti yang mereka sangkakan. Alloh subhanahu wa ta’ala ber-firman dalam Qs. Al-Anbiya’ : 31 :

وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِهِمْ

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu ( tidak ) goncang bersama mereka.”

Dalam ayat ini dan ayat-ayat lainnnya yang semakna dengannya disebutkan bahwa fungsi dari gu-nung adalah agar bumi tidak bergoncang bersama manusia. Karena di dalam bumi terdapat magma yang selalu berusaha mencari jalan keluar. Bila ada gunung meletus penyebabnya adalah karena ka-wahnya tersumbat oleh bebatuan atau lain-lainnya. Salah satu upaya untuk mencegah letusan adalah menyuntik sisi lain dari gunung sehingga terbentuk lobang untuk jalan keluar magma yang memang sudah saatnya keluar. Maka dapat dibayangkan seandainya tidak ada gunung, pasti bumi akan ber-goncang karena magma yang ada di dalamnya tidak menemukan jalan keluar. Inilah makna dari ayat-ayat ini, sehingga dalam ayat-ayat tersebut memakai lafazh “supaya bumi tidak bergoncang bersama mereka”. Pada kata “bersama mereka” mengindikasikan bahwa yang dimaksud gempa di sini adalah gempa vulkanik, bukan gempa tektonik.

Ada pun terjadinya lusinan gempa di bumi karena mungkin gunung berapi yang tersumbat kawah-nya atau karena gejala tektonik. Gempa-gempa yang semacam ini tidak termasuk dalam makna ayat-ayat di atas.

TUDUHAN dan BANTAHAN KEDUA PULUH SATU

Mereka berkata : “Qur’an mengungkapkan bahwa bulan punya cahaya sendiri ?” Lantas me-reka mengatakan : “Semua orang di dunia maju tahu bahwa bulan tidak punya cahaya sendiri.”

Demikian kesimpulan mereka karena tidak cermat mengamati bunyi kata perkata dalam ayat yang mereka sebut sebagai nyentrik dalam bab ini. Perhatikan baik-baik ayatnya :

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاء وَالْقَمَرَ نُورًا

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya.” ( Qs. Yunus : 5 )

Di ayat ini Al-Qur’an jelas membedakan matahari dan bulan, ketika menyebut matahari maka dise-but dengan kata ضِيَاء atau “bersinar”, sementara bila menyebut bulan Al-Qur’an menggunakan kata

نُورًا “bercahaya”. Kenapa dibedakan ? Karena kata ضِيَاء atau bersinar menghendaki makna matahari mesti memancarkan cahaya sendiri, karena asal maknanya adalah “lentera”, sedangkan kata berca-haya tidak mengharuskan ia memancarkan cahaya sendiri, dan memang bulan mendapatkan cahaya nya karena memantulkan cahaya sinar dari matahari. Sebagaimana firman Alloh ta’ala :

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَاراً فَلَمَّا أَضَاءتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لاَّ يُبْصِرُونَ

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Alloh hilangkan cahaya ( yang menyinari ) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.” ( Qs. Al-Baqoroh : 17 )

Dalam ayat ini disebutkan dua kata secara bersamaan, yaitu أَضَاءتْ yang artinya menyinari atau mene rangi dan kata نُور yang bermakna cahaya. Kenapa yang dihilangkan adalah نُور “cahaya”, bukan ضِيَاء “sinar” ? Karena sinar yang memancar dari api yang dinyalakan akan terlihat ketika dipantulkan ca- hayanya oleh benda-benda di sekelilingnya, kemudian diterima oleh mata manusia. Bukankah demi kian ? Sehingga penggunaan kata “bercahaya” lebih luas daripada “bersinar”, karena bersinar mesti berasal dari benda yang memiliki cahaya sendiri, sedangkan bercahaya bisa berasal dari benda yang memiliki cahaya sendiri atau pun karena memantulkan dari benda lain sehingga tampak bercahaya.

TUDUHAN dan BANTAHAN KEDUA PULUH DUA

Mereka menuduh terjadi kesalahan dalam Al-Qur’an, yaitu ketika beberapa ayat Al-Qur’an menyebutkan bahwa Alloh menciptakan segala sesuatu berpasangan. Lalu mereka menyebutkan be-berapa benda yang tidak memiliki pasangan, yaitu : bakteri dan jamur yang berkembang biak secara a-seksual, Elodea Eropa yang merupakan tanaman yang hanya memiliki satu jenis kelamin saja yang juga berkembang biak dengan a-seksual, dan gaya gravitasi bumi yang hanya punya daya tarik tanpa ada pasangannya.

Perhatikanlah, betapa sempitnya pola fikir mereka. Bukankah a-seksual adalah pasangan da- ri seksual ? Bukankah gaya gravitasi bumi tergolong gaya magnet bumi yang juga memiliki gaya to lak-menolak sebagaimana magnet-magnet yang lainnya ?

TUDUHAN dan BANTAHAN KEDUA PULUH TIGA

Mereka menuduh Al-Qur’an tidak tahu sejarah, karena Samiri dalam kisah Nabi Musa ‘alai- his salam adalah Samaritan yang belum ada pada zaman Nabi Musa. Ketika dibantah bahwa Samiri adalah Shomer bukan Samaritan, mereka kembali memaksakan fahamnya, berlagak sok tahu melebi hi para ahli tafsir kaum muslimin. Sebagaimana kebiasaan mereka, yaitu memaksakan tafsirnya, me reka bersikeras pokoknya harus Samaritan, bukan Shomer !!!

Terhadap kekeraskepalaan mereka, kita katakan : Kata “Samiri” tanpa ada huruf “T”, seandainya pendapat mereka benar, mestinya Al-Qur’an tidak menyebut “Samiri” tetapi “Samarit”. Lantas apa yang mereka baca di dalam Al-Qur’an ? Samiri atau Samarit ?!!!

TUDUHAN danBANTAHAN KEDUA PULUH EMPAT

Mereka menyebut Qs. Al-A’rof : 157 sebagai kesalahan, karena Injil belum ada ketika za-man Nabi Musa ‘alaihis-salam. Demikian mereka menyimpulkan pendapatnya berdasarkan ayat :

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ

“( Yaitu ) orang-orang yang mengikut Rosul, Nabi yang ummi yang ( namanya ) mereka dapati ter-tulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.”

Mereka berkata : “Ayat di atas ditulis memakai present tense dan jelas-jelas pada masa itu Injil be-lum ada.”

Memang ayat ini didahului oleh ayat-ayat yang bertutur tentang kisah Nabi Musa ‘alaihis salam, na mun kata يَجِدُونَه “mereka dapati” adalah fi’il mudhori’ yang bermakna sekarang ( present tense ) atau akan datang ( future tense ), sehingga bisa dimungkinkan untuk dimaknai dengan present tense atau future tense tergantung konteks kalimatnya. Tapi bila dihubungkan dengan kata sebelumnya, yaitu يَتَّبِعُونَ “mereka mengikuti” yakni mereka kaum muslimin mengikuti Rosul Nabi yang Ummi, yai tu mengikuti Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, sedangkan kata يَجِدُونَه “mereka dapa- ti” diletakkan setelah kata يَتَّبِعُونَ “mereka mengikuti” hal ini mengharuskan maknanya kembali kepa- da Bani Isroil pada zaman Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam yang mana ketika itu Injil sudah ada. Seandainya maknanya adalah Bani Isroil pada zaman Nabi Musa saja niscaya Al-Qur’an akan mengatakannya dalam bentuk madhi atau past tense, karena mengimbangi kata يَتَّبِعُونَ “mereka mengikuti” yang diletakkan sebelumnya yang berbentuk present tense atau future tense. Yaitu bila pendapat mereka benar ayatnya mesti berbunyi : الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي وَجَدُوْهُ “( Yaitu ) orang-orang yang mengikut Rosul, Nabi yang ummi yang ( namanya ) telah mereka dapati …”, tetapi nyatanya ayat ini tidak memakai fi’il madhi atau past tense, dengan demikian penafsiran mereka itu yang salah.

TUDUHAN dan BANTAHAN KEDUA PULUH LIMA

Setelah mengutip terjemah Qs. Al-Qoshosh : 8 dan 38, mereka mengatakan : “Di sini Qur’an jelas-jelas mengatakan Haman dan Fir’aun hidup pada masa dan tempat yang sama. Tapi itu tidak benar menurut sejarah. Fir’aun hidup pada masa Musa, dan Haman adalah menteri pada masa peme rintahan Ahasuerus ( Xerxes I ). Ayat Qur’an ini bukan saja salah tentang lokasinya, tetapi juga sa-lah tentang waktunya – 1.000 tahun !”

Begitulah cara mereka memahami Al-Qur’an. Andaikata perkataan mereka benar, maka kita akan balik bertanya : “Apakah tidak mungkin di dunia ini ada dua orang yang sama dalam nama ?” Banyak kita dapati di dunia ini, bahkan dalam satu waktu dan tempat yang tidak berjauhan terdapat orang yang memiliki nama yang persis sama. Bahkan pernah dilaporkan di beberapa stasiun televisi asing adanya penemuan dua keluarga yang sewaktu yang memiliki nama, bentuk dan kehidupan yang sangat mirip, padahal berasal dari dua keluarga yang berbeda. Apalagi bila rentang waktunya adalah 1000 tahun, di tempat yang berjauhan lagi, maka kesamaan nama dan keahlian adalah sangat memungkinkan untuk terjadi.

TUDUHAN dan BANTAHAN KEDUA PULUH ENAM

Mereka mempertanyakan mana yang lebih dahulu diciptakan : langit atau bumi ? Lalu mere-ka mengutip Qs. Al-Baqoroh : 29 yang menyebutkan bahwa bumi terlebih dahulu diciptakan daripa-da langit, dan Qs. An-Nazi’at : 27 – 30 yang menyebutkan bahwa langit yang terlebih dahulu dicip-takan. “Mana yang lebih dulu diciptakan ?”

Jawaban dari perkataan mereka telah ada pada bantahan yang terdahulu, yaitu bumi sebagai hampa-ran adalah yang pertama kali diciptakan dalam 2 hari, kemudian langit diciptakan dalam 2 hari, lalu diakhiri kembali dengan penciptaan segala ragam bentuk dan kehidupan di muka bumi dalam waktu 2 hari. Qs. Al-Baqoroh : 29 menceritakan tentang apa yang pertama kali diciptakan, tentu jawaban-nya adalah bumi. Sedangkan Qs. An-Nazi’at : 27 – 30 menyebutkan perincian penyempurnaan pen-ciptaan bumi yang dilakukan setelah penciptaan langit selesai. Kenapa demikian ? Karena tidak mungkin akan ada kehidupan bila tanpa adanya matahari, sedangkan matahari diciptakan ketika pen ciptaan langit, sehingga penciptaan bumi belum bisa sempurna sebelum adanya penciptaan langit be rikut bintang-bintangnya, termasuk matahari.

TUDUHAN dan BANTAHAN KEDUA PULUH TUJUH

Kemudian mereka berkata : “Penyimpangan berikut ini tentang langit dan bumi, bersatu atau berpisah ?” Kemudian mereka mengutip terjemah Qs. Fushshilat : 29 yang menurut sangkaan mere-ka menyebutkan bahwa langit dan bumi terpisah. Lantas mereka mengiringinya dengan mengutip terjemah Qs. Al-Anbiya’ : 30 yang menyubutkan bahwa langit dan bumi dahulunya adalah satu.

Sesungguhnya sangkaan mereka ini karena ketidakmampuan mereka dalam merangkai se-tiap peristiwa yang tersebut dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an. Perhatikan Qs. Al-Anbiya’ : 30 :

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya da hulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.”

Apakah mereka tidak bisa memahami ayat ini dengan baik ? Perhatikan perkataan كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا “keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya“. Memang dahulunya langit dan bumi adalah satu, lalu Alloh pisahkan keduanya untuk dicipta berdasarkan ben tuk yang Alloh kehendaki. Bumi terlebih dahulu diciptakan sebagai hamparan, kemudian menyusul langit dibina menjadi tujuh lapis. Setelah itu Alloh memanggil langit dan bumi, dan keduanya pun menjawab panggilan Alloh dengan patuh dan sukarela. Lantas, di mana letak penyimpangan yang mereka tuduhkan ?

TUDUHAN dan BANTAHAN KEDUA PULUH DELAPAN

Mereka menuduh telah terjadi pertentangan dalam Al-Qur’an tentang bagaimana manusia di ciptakan. Karena menurut mereka, disebutkan dalam Qs. Al-‘Alaq : 2 bahwa manusia diciptakan dari segumpal darah, dalam Qs. Al-Anbiya’ : 30 dan Qs. Al-Furqon : 54 disebutkan dari air, dalam Qs. Al-Hijr : 26 disebutkan dari tanah liat kering, dalam Qs. Ali ‘Imron : 59 dan Ar-Rum : 30 dise- butkan dari debu / tanah ( dust ), dalam Qs. Maryam : 67 disebutkan dari tidak ada sama sekali, da-lam Qs.Hud : 61 disebutkan dari bumi, dan dalam Qs. An-Nahl : 4 disebutkan dari air mani, yang mana yang benar ?

Jawabnya semua benar. Kenapa ? Karena manusia diciptakan berdasarkan proses demi pro-ses. Manusia dahulunya tidak ada, kemudian Alloh ciptakan manusia yang pertama, yaitu Adam. Ini artinya manusia dahulunya tidak ada lalu diadakan, dan ini tidak bertentangan dengan ayat-ayat lain yang bertutur tentang bahan penciptaan manusia. Seperti ketika saya mengatakan : “Rumah saya ini dahulu tidak ada, lalu saya bangun.” Apakah kalimat ini bertentangan dengan perkataan saya : “Ru- mah saya saya bangun dari semen.” Atau kalimat : “Saya membangun rumah ini dari pasir kali yang bagus kualitasnya.” Atau dengan kalimat : “Rumah ini dibangun dengan batu bata yang nomor wa-hid.” Dan lain-lainnya. Apakah semua kalimat tersebut bertentangan ?

Begitu pula dalam penciptaan manusia. Tentang bagaimana proses selengkapnya dari penciptaan manusia pertama, yaitu :

  1. Bahan dasar penciptaan manusia adalah debu atau tanah ( Qs. Ali ‘Imron : 59 dan Ar-Rum : 30 ) yang diambil dari bumi ( Qs.Hud : 61 ).
  2. Kemudian tanah debu tersebut menjadi basah, tentunya karena ada tambahan unsur air ( Qs. Al-Anbiya’ : 30 dan Qs. Al-Furqon : 54 ), sehingga berubah menjadi tanah lumpur yang lengket ( Qs. Ash-Shoffat : 11 ).
  3. Lalu tanah lumpur tersebut menghitam dan berubah menjadi lumpur hitam yang diberi bentuk ( Qs. Al-Hijr : 26 ).
  4. Kemudian mengering menjadi tanah liat yang kering seperti tembikar ( Qs. Al-Hijr : 26 dan Qs. Ar-Rohman : 14 ).
  5. Lalu Alloh menjadikan Adam darinya.

Sedangkan Hawa, maka Alloh ciptakan dia dari tulang rusuk Nabi Adam.

Adapun manusia yang lainnya, Alloh ciptakan dari air mani ( Qs. An-Nahl : 4 ), sebagaimana firman Alloh ta’ala :

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ

“Dia Yang telah menciptakan kamu dari tanah debu kemudian dari setetes air mani.”

( Qs. Al-Mu’min : 67 )

Demikian proses yang sebenarnya dari penciptaan manusia, dan tidak ada kontradiktif di dalamnya.

TUDUHAN dan BANTAHAN KEDUA PULUH SEMBILAN

Mereka berkata : “Dapatkah malaikat melawan Tuhan ? Satu ayat mengatakan tidak mung-kin, tapi di satu ayat lagi malaikat terbukti melawan Tuhan.”

Begitulah pemahaman mereka yang jelek. Sesungguhnya tidak ada satu malaikat pun yang melawan kepada Alloh, sebagaimana disebutkan dalam Qs. An-Nahl : 49 -50. Ada pun Iblis, maka ia bukan malaikat, namun tergolong bangsa jin, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ

Dan ( ingatlah ) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhan- nya.” ( Qs. Al-Kahfi : 50 )

Ada pun Iblis terkena sanksi karena tidak mau sujud, padahal perintahnya kepada malaikat, karena Iblis ketika itu berada di tengah-tengah para malaikat di langit, sehingga perintah Alloh untuk sujud menghormat kepada Adam juga meliputi Iblis yang bukan bangsa malaikat, namun dari bangsa jin. Lantas kenapa yang disebut dalam ayat tersebut hanyalah malaikat, bukan malaikat dan jin ? Karena penyebutan sesuatu boleh diringkas dengan hanya menyebutkan yang yang paling dominan di anta- ra yang hadir, seperti seruan : يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا “Wahai orang-orang laki-laki yang beriman”, meskipun yang diseur hanyalah kaum lelaki yang beriman, tetapi seruan tersebut meliputi pula kaum wanita yang beriman, sehingga bila ada wanita yang melanggar perintah atau larangan dalam seruan terse-but mereka pun pasti harus mendapatkan sanksi. Begitu pula tidak disalahkan bila seorang guru me-ngatakan : “Setiap siswa wajib datang sebelum bel tanda masuk berbunyi.” Meskipun yang disebut hanya “siswa”, tetapi bila ada siswi yang melanggar, ia pun kena sanksi. Bukankah demikian ?

TUDUHAN dan BANTAHAN KETIGA PULUH

Mereka berkata : “Siapa yang menurunkan Al-Qur’an dari Alloh kepada Muhammad ? Satu ayat mengatakan Jibril, dan ayat yang lainnya mengatakan Ruhul Qudus.”

Perhatikan, betapa jeleknya pemahaman tafsir mereka. Hadits-hadits Nabi shollallohu ‘alai- hi wa sallam banyak yang menjelaskan bahwa Ruhul Qudus adalah Jibril ‘alaihis salam. Para ahli Tafsir dari mulai generasi Shahabat hingga kini pun semua sepakat bahwa Ruhul Qudus adalah na-ma lain dari Malaikat Jibril. Sehingga tidak ada kontradiktif dalam ayat-ayat ini.

BANTAHAN KETIGA PULUH SATU

Merek berkata : “Apakah ayat-ayat yang diturunkan kepada Muhammad membenarkan ayat-ayat yang diturunkan sebelumnya ? … Ataukah ayat-ayat yang diturunkan kepada Muhammad menggantikan yang telah ada ?”

Jawaban kita adalah kaidah : “Setiap perkataan ada tempatnya”. Ketika ayat-ayat Al-Qur’an menyebutkan bahwa Al-Qur’an membenarkan kitab-kitab sebelumnya, maka makna ayat tersebut berkaitan dengan tema yang sama dalam ajaran seluruh Nabi dan Rosul, yaitu permasalahan seputar ‘aqidah. Maka Al-Qur’an membenarkan isi kitab-kitab sebelumnya, yaitu ajaran tauhid yang ada di dalam kitab Taurat, Zabur, Injil dan lain-lainnya. Namun dalam bidang syari’at fiqhiyyah atau tata cara ritual beribadah, maka Al-Qur’an datang untuk menggantikan syari’at kitab-kitab sebelumnya, dikarenakan perbedaan kemampuan antara generasi dahulu dengan generasi sekarang. Misalnya, ka- lau puasa yang tersebut dalam kitab-kitab ahli kitab terdahulu adalah sejak dari waktu ‘isya hingga waktu maghrib, dan Al-Qur’an menggantinya dengan sejak shubuh hingga maghrib. Dan lain-lain- nya. Sehingga tidak ada pertentangan antara ayat-ayat Al-Qur’an dalam hal ini.

TUDUHAN dan BANTAHAN KETIGA PULUH DUA

Mereka berkata : “Anak Nuh diselamatkan atau tidak ?” Lalu mereka menyebutkan Qs. Al-Anbiya’ : 76 yang mengisyaratkan bahwa keluarga Nuh diselamatkan dari bahaya banjir yang besar, setelah itu mereka menyebutkan Qs. Hud : 42 – 43 yang menyebutkan bahwa salah satu anak Nuh ikut di tenggelamkan dalam banjir besar tersebut. Mana yang benar ?

Lihatlah bagaimana khiyanatnya mereka, ketika menukil Qs. Hud : 42 – 43, mereka tidak melanjutkannya ke ayat-ayat berikutnya ! Karena jawaban dari tuduhan mereka ada pada ayat yang ke- 45 dan ke-46 :

وَنَادَى نُوحٌ رَّبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابُنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلاَ تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata : “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang se-adil-adilnya.” Alloh berfirman : “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu ( yang dijanjikan akan diselamatkan ), sesungguhnya ( perbuatan )nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui ( hakekat )nya. Sesung-guhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak ber-pengetahuan.”

Jadi meskipun salah satu anak Nabi Nuh tersebut adalah keluarga Nabi Nuh, namun termasuk ang-gota keluarga yang tidak diselamatkan oleh Alloh karena perbuatannya yang buruk.

TUDUHAN dan BANTAHAN KETIGA PULUH TIGA

Mereka mempertanyakan : ”Orang Kristen akan masuk Surga ?” Mereka mengutip terjemah Qs. Al-Baqoroh : 62 yang menurut anggapan mereka menyebutkan bahwa orang-orang mu’min, Yahudi, Nashrani dan Shobiin akan masuk syurga. Lalu mereka menyebut terjemah Qs. Al-Maidah : 72 yang menyebutkan bahwa orang Nashrani bakal masuk neraka, dan Qs. Al-Maidah : 85 yang menyebutkan bahwa Alloh tidak akan menerima agama selain agama Islam.

Perhatikan kebodohan mereka dalam memahami ayat ! Mereka ternyata tidak memahami Qs. Al-Baqoroh : 62 secara lengkap. Perhatikan dengan cermat bunyi ayatnya :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَادُواْ وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحاً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shobiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Alloh, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepa da mereka, dan tidak ( pula ) mereka bersedih hati.”

Memang pada ayat ini dijanjikan bahwa orang-orang Yahudi, Nashrani dan Shobiin bakal masuk syurga, tetapi ada syaratnya, yaitu : “siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepa- da Alloh, hari kemudian dan beramal saleh”.

Sehingga orang Kristen yang meyakini ‘Isa Putera Maryam sebagai tuhan atau anak Tuhan tidak ter masuk dalam orang Nashrani yang beriman dan beramal sholeh.

Begitu juga orang-orang Yahudi dan Shobi’in yang tidak masuk Islam, mereka digolongkan bukan termasuk orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, karena semua kitab suci yang asli, belum disentuh oleh tangan-tangan jahil, pasti menyebutkan akan kedatangan Nabi Muhammad shollallo-hu ‘alaihi wa sallam dan perintah untuk mengikutinya.

Kalau demikian, lantas kenapa Qs. Al-Baqoroh : 62 menyebutkan nama-nama Yahudi, Nashrani dan Shobiin ? Jawabannya karena siapa saja yang mengikuti agama Yahudi, Nashrani dan Shobiin dengan benar, yaitu mengikuti ketentuan yang tersebut dalam kitab suci mereka yang masih asli, be-lum dirubah, niscaya mereka bakal masuk Islam, seperti Dhoghothir, Najasyi dan lain-lainnya. Begi tu pula Salman Al-Farisi yang masuk Islam karena diberi petunjuk oleh seorang pendeta Nashrani yang masih memegang Injil yang masih asli.

TUDUHAN dan BANTAHAN KETIGA PULUH EMPAT

Setelah menukil terjemah Qs. Maryam : 23, mereka berkata : “Jadi Qur’an mengatakan bah- wa Yesus lahir di bawah pohon Kurma, yang jelas-jelas bertentangan dengan berbagai buku agama lainnya pada saat itu.”

Pada Qs. Maryam : 23 memang disebutkan bahwa Maryam bersandar kepada sebatang po-hon kurma karena merasakan sakit disebabkan kandungannya. Ayat ini tidak menyebutkan di mana Maryam melahirkan ‘Isa, apakah juga di bawah pohon kurma atau di dalam kandang kambing. Ayat ini dan ayat-ayat setelahnya hanya menyebutkan bagaimana cara Maryam mendapatkan makanan untuk bekal dia berpuasa.

Seandainya ayat ini memang menceritakan bahwa Maryam lahir di bawah pohon kurma se-bagaimana sangkaan mereka, maka kebenaran Al-Qur’an tetap didahulukan atas kebenaran kitab-ki tab lainnya, karena berdasarkan fakta : “di dunia ini hanya kitab suci Al-Qur’an yang dijamin masih asli belum mengalami perubahan walau satu huruf pun.”

TUDUHAN dan BANTAHAN KETIGA PULUH  LIMA

Mereka berkata : “Apakah homoseksual diizinkan dalam Islam ? Qur’an bertentangan de-ngan dirinya sendiri dalam topik ini.” Lalu mereka mengutip terjemah Qs. An-Nisa’ : 16 dan Qs. An-Naml : 55 yang melarang homoseksual. Kemudian mereka mengutip pula beberapa ayat yang mereka sangka membolehkan homoseksual, yaitu Qs. Ath-Thur : 24, Qs. Al-Waqi’ah : 17 dan Qs. Al-Insan : 19. Kemudian mereka juga menukil beberapa syair orang-orang yang fasiq untuk membe narkan penafsiran mereka yang tolol.

Begitu gaya mereka memaksakan penafsirannya, padahal ayat-ayat Al-Qur’an tidak ada satu pun yang memperbolehkan homoseksual. Ada pun ayat-ayat yang mereka sangkakan memperboleh-kan homoseksual sebenarnya berbicara tentang para pelayan di syurga yang melayani kebutuhan me reka, sebagaimana tersebut dalam rangkaian ayat yang berikutnya. Perhatikan bunyi ayat-ayatnya :

يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُونَ بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِن مَّعِينٍ

“Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan mi-numan yang diambil dari air yang mengalir.” ( Qs. Al-Waqi’ah : 17 – 18 )

Artinya anak-anak muda yang disebut dalam ayat-ayat tersebut adalah para pelayan yang melayani keperluan mereka, semisal makan, minum dan lain-lainnya sebagaimana pelayan di hotel atau resto-ran, bukan melayani birahi seperti yang difikirkan oleh mereka yang otaknya kotor. Tidak ada se-orang muslim pun yang menafsirkan ayat-ayat tersebut sebagaimana yang ditafsirkan oleh mereka yang berotak kotor ! Apalagi ditambah dengan menukil ucapan orang-orang fasiq, maka tambah je-las misi mereka untuk memaksakan kehendak dan penafsirannya yang tolol.

TUDUHAN dan BANTAHAN KETIGA PULUH ENAM

Mereka berkata : “Kadang-kadang bunyi ayat itu seakan-akan adalah apa yang dikatakan Tu han, dan kadang-kadang seperti orang lain yang mengatakan sesuatu tentang Tuhan.”

Begitu sangkaan mereka, namun sayangnya mereka tidak memberikan contoh yang spesifik untuk dapat kita buktikan kesalahan perkataan mereka. Tetapi pada bantahan-bantahan kita yang ter dahulu telah cukup memberi gambaran kepada kita bahwa peralihan konteks pembicaraan adalah ka rena suatu alasan yang kuat yang sesuai dengan kaidah sastra Arab, sebagaimana kaidah : “Setiap perkataan ada tempatnya.”

TUDUHAN dan BANTAHAN KETIGA PULUH TUJUH

Mereka menuduh Al-Qur’an buatan Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, padahal Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang ummi atau buta huruf. Para sas trawan besar di segala zaman tidak ada yang sanggup membuat sebuah surat yang menandingi Al-Qur’an, padahal Al-Qur’an sudah menantangnya dalam firman Alloh ta’ala :

وَ إِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُواْ بِسُورَةٍ مِن مِثْلِهِ وَ ادْعُواْ شُهَدَاءكُم مِن دُونِ اللّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ وَلَن تَفْعَلُواْ فَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

“Dan jika kamu ( tetap ) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Ka mi ( Muhammad ), buatlah satu surat ( saja ) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-peno- longmu selain Alloh, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat- ( nya ) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat-( nya ), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.“ ( Qs. Al-Baqoroh : 23 – 24 )

Bila para pujangga dan sastrawan besar dunia di segala zaman tidak ada yang sanggup membuat se-buah surat yang menandingi Al-Qur’an, bagaimana mungkin seorang Muhammad mampu membuat nya, padahal dia seorang yang buta huruf.

Bukti lainnya adalah banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi perintah yang ditujukan kepa- da Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, bahkan ada beberapa ayat yang berisi teguran ke pada beliau. Ini menunjukkan Al-Qur’an bukan buatan beliau, tetapi wahyu dari Alloh ta’ala.

Bukti yang lainnya adalah bacaan Al-Qur’an dengan izin Alloh mampu mengusir jin-jin ja- hat yang mengganggu orang. Bahkan bacaan Al-Qur’an mampu mengobati penyakit yang sudah ti-dak bisa ditangani oleh dokter atau tabib. Ini semua menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah firman Alloh dan bukan buatan Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Dan masih banyak bukti-bukti lainnya yang menguatkan bahwa Al-Qur’an bukan buatan ma nusia atau jin, namun wahyu dari Alloh ta’ala. Keterbatasan waktu dan tempat yang tidak memung-kinkan kita untuk menguraikannya secara lengkap.

TUDUHAN dan BANTAHAN KETIGA PULUH DELAPAN

Mereka berkata : “Kita telah mencapai kesimpulan bahwa Qur’an itu penuh pertentangan.“

Kita jawab : “Kesimpulan yang mana yang mereka tarik, karena nyatanya tidak ada perten-tangan dalam Al-Qur’an. Andai mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an penuh pertentangan, maka kesimpulan mereka itu salah, karena mereka memahami ayat-ayat Al-Qur’an tidak secara utuh, di-penggal semaunya, diberi penafsiran semaunya, bahkan dipaksa agar penafsirannya mengikuti pe-nafsiran mereka yang jauh dari kebenaran. Semua telah kita bantah. Maka kesimpulan kita adalah mereka yang menuduh demikian dalam website www.tinggalkan-islam.org adalah orang-orang bo-doh yang suka memaksakan kehendak dan berotak kotor. Semua tuduhan mereka jauh dari kebena-ran dan terbukti diada-adakan secara bohong. Seandainya masih banyak ruang yang tersisa maka akan kami uraikan secara detail tentang bukti kobodohan dan ketololan mereka dalam memahami Al-Qur’an yang suci. Semoga Alloh melindungi kaum muslimin dari segala tipu daya orang-orang yang mendengki kepada Islam. Aamiin.

TUDUHAN dan BANTAHAN KETIGA PULUH SEMBILAN

Mereka berkata : “Bagaimana caranya umat Islam dapat membenarkan begitu banyak kesalahan histories di dalam Al-Qur’an ? Misalnya :

i) Allah ( 5 : 116 ) menuduh orang-orang Kristen menyembah tiga Allah ( Trinitas ) yang terdiri dari Allah, Maryam dan Isa.

ii) Bahwa orang Yahudi menyembah Ezra ( 9 : 30 )

iii) Bahwa kematian dengan cara penyaliban dipakai di zaman Musa pada tahun 1500 sM. Namun Encyclopedia Britannica, yang sesuai dengan semua catatan sejarah, melaporkan bahwa cara penyaliban itu tidak ada sebelum tahun 500 sM.

iv) Maryam, ibu Isa, adalah saudara kandung Harun dan Musa walaupun dalam sejarah mereka telah hidup 1500 tahun sebelum Maryam, ibu Isa ( 19 : 28 )

v) Haman adalah kawan Firaun walaupun Haman hanya hidup 1000 tahun setelah Firaun sudah mati ( 28 : 6 , 38 : 40, 24 : 36 )

Ini adalah lima kesalahan antara ratusan kesalahan histories dan tata bahasa yang dapat ditemukan dalam Al-Qur’an. Dengan demikian, bagaimana mungkin Al-Qur’an dapat diandalkan sebagai sumber kebenaran yang sempurna ?”

Kita jawab : “Tidak ada kesalahan sejarah dalam Al-Qur’an. Ada pun lima kesalahan yang mereka sebutkan adalah bukti yang dipaksakan karena ketidakfahaman mereka tentang tafsir Al-Qur’an.

Mereka menuduh kalau Al-Qur’an menuduh orang Kristen menyembah Trinitas, yaitu : Alloh, Maryam, dan Isa. Memang benar Al-Qur’an menyebutkan bahwa orang Kristen menuhankan Trinitas, yaitu : Alloh Yang mereka sebut Tuhan Bapa, Isa yang mereka sebut tuhan anak, dan Roh Qudus, bukan Maryam. Ada pun Qs. Al-Maidah : 116 tidak sedang berbicara tentang Trinitas. Perhatikan bunyi ayatnya :

وَ إِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوْنِيْ وَ أُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِيْ وَ لاَ أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ

“ Dan ( ingatlah ) ketika Alloh berfirman: “Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepa- da manusia : “Jadikanlah aku dan ibuku dua sesembahan selain Alloh ?”. ‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku ( mengatakannya ). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.

Perhatikan baik-baik, ayat tersebut tidak sedang berbicara tentang Trinitas, tetapi sedang berbicara tentang alasan terjadinya pengkultusan kepada Nabi ‘Isa dan ibunya. Sebagian aliran dari agama Kristen memang ada juga yang menuhankan Maryam, dan para theolog mengetahui perkara ini. Yaitu ketika terjadi Konsili di Ephese, kaum Katholik menyejajarkan Maria dengan Trinitas. Apa artinya ? Artinya mengangkat Maryam kepada kedudukan tuhan-tuhan dalam agama Kristen lainnya.

Mengenai kaum Yahudi memang awalnya adalah agama yang monotheisme. Namun dalam perkembangannya, agama Yahudi meyakini bahwa Alloh memiliki anak, yaitu Uzair ( Ezra ). Uzair adalah seorang sholih yang hafal kitab Taurat, kemudian Alloh mematikannya selama 100 tahun. Ketika dihidupkan kembali setelah kematiannya itu, kitab Taurat telah musnah karena serbuan dari Bukhtunshir. Maka Uzair membawa bukti akan keberadaan dirinya dengan memaparkan hafalan Tauratnya. Ketika itulah orang-orang Yahudi mengkultuskannya dengan anggapan, kalau Nabi Musa datang kepada mereka membawa Taurat dalam bentuk kitab maka ia diyakini sebagai Rosul utusan Alloh, sedangkan Uzair datang membawa Taurat dengan tanpa kitab, yaitu hanya dengan ha-falannya, maka mereka pun menganggap Uzair lebih tinggi kedudukannya daripada Musa, lalu me-reka meyakini Uzair sebagai anak Alloh, dan mereka pun mengkultuskannya. Inilah makna dari fir-man Alloh ta’ala :

وَ قَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللّهِ وَ قَالَتْ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُم بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِؤُوْنَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللّهُ أَنَّى يُؤْفَكُوْنَ

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Alloh” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Alloh”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Alloh mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?”

( Qs. At-Taubah : 30 )

Dan dalam ‘aqidah Islam, pengkultusan merupakan salah satu dari bentuk-bentuk penyembahan ke-pada selain Alloh.

Tentang hukuman penyaliban yang tersebut dalam firman Alloh :

قَالَ آمَنتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلاَفٍ وَلأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَابًا وَأَبْقَى

“Berkata Fir’aun: “Apakah kamu telah beriman kepadanya ( Musa ) sebelum aku memberi izin kepa damu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu seka- lian.Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih ke- kal siksanya”. ( Qs. Thoha : 74 )

Dalam ayat ini Fir’aun baru memberikan ancaman untuk memotong tangan dan kaki para penyihir-nya yang beriman, lalu menyalibnya di pangkal pohon kurma. Ayat ini tidak menyebutkan apakah Fir’aun telah melaksanakan ancamannya. Dan seandainya ayat ini memang seperti yang mereka fa- hami, yaitu benar-benar telah ada hukum salib pada zaman itu, perkara ini tidak bertentangan de- ngan fakta sejarah yang mana pun. Karena penulisan sejarah terkadang ada yang terlewat, atau ter- kandung padanya unsur subyektifitas. Sebagai contoh kasus, bagaimana sejarah tentang Supersemar yang selama berpuluh-puluh tahun pada masa orde baru diyakini dan disepakati oleh para sejara- wan, namun akhirnya diragukan oleh sebagian sejarawan pada masa revormasi. Dan berbagai kisah sejarah lainnya yang sebenarnya tidak akurat tetapi sampai sekarang masih diyakini oleh para sejara wan, baik lokal maupun internasional. Karena penulis sejarah hanyalah manusia biasa, artinya pe- nuh dengan segala keterbatasan. Kenapa kemudian kita menyalahkan Kitab Suci hanya karena ha-sil kesimpulan manusia yang penuh dengan segala keterbatasan ?!!

Tentang penyebutan Maryam saudara Harun dalam firman Alloh ta’ala :

يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَ مَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا

“Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina” ( Qs. Maryam : 28 )

Maknanya adalah sebagaimana hadits Nabi Muhammad r :

الْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ

“Seorang mu’min adalah saudara mu’min yang lainnya.” ( HR. Muslim )

Dan tidak ada seorang muslim pun yang meyakini bahwa Maryam adalah saudara kandung Nabi Ha run sebagaimana sangkaan mereka. Kenapa dalam ayat ini disebutkan Saudara Harun ? Karena Na-bi Harun adalah seorang pengabdi Alloh yang sholeh, dan Maryam pun adalah seorang pengabdi Alloh. Sehingga ketika orang-orang melihat Maryam yang seorang pengabdi Alloh ternyata hamil di luar nikah, mereka menyangka Maryam telah berbuat zina, padahal para pengikut Nabi Harun ti- dak pernah melakukan zina dan perbuatan mesum lainnya ? Demikian makna yang dikehendaki oleh ayat ini sebagaimana difahami oleh seluruh kaum muslimin disepanjang zaman.

Mengenai Haman dan Fir’aun, sudah kita jawab dalam bantahan yang terdahulu, yaitu apa-kah tidak mungkin bila ada dua orang tokoh yang berlainan zaman dan tempatnya yang memiliki kesamaan dalam hal nama ? Tentu sangat mungkin terjadi.

Kalau demikian, kesalahan sejarah yang mana yang mereka tuduhkan ?

TUDUHAN dan BANTAHAN KEEMPAT PULUH

Mereka menuduh telah terjadi pertentangan dalam Al-Qur’an, kata mereka : “Paling tidak dua ayat yang jelas, Qur’an memerintahkan penghapusan dialek apapun selain dari bahasa ‘Arab da lam teks Qur’an ( 16 : 103; 41 : 44 )” Kemudian mereka menukil ucapan Imam Suyuthi dalam Al-Itqon bahwa beliau menyebutkan ada 118 kata-kata non ‘arab dalam Al-Qur’an, juga menukil uca-pan Ibnu ‘Abbas yang menyebutkan bahwa ada beberapa kata-kata Qur’an yang berbahasa Persia, Ethiopia dan Nabatean.

Perhatikan, betapa jelek kesimpulan yang biasa mereka buat dari sebuah ayat ! Mereka me-nyebutkan bahwa paling tidak ada dua ayat yang memerintahkan menghapus dialek apapun selain ‘arab dalam Qur’an, lalu mereka menyebutkan Qs. An-Nahl : 103 dan Qs. Fushshilat : 44. Padahal tidak ada sama sekali kata dalam ayat-ayat yang mereka sebutkan yang memerintahkan penghapu-san kata-kata non arab. Perhatikan Qs. An-Nahl : 103 :

وَ لَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَ هَـذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ

“Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya Al Qur’an itu diajar- kan oleh seorang manusia kepadanya ( Muhammad )”. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan ( bahwa ) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al Qur’an adalah dalam bahasa Arab yang terang.”

Dalam ayat ini Al-Qur’an hanya menyebutkan bahwa bahasa yang digunakan dalam Al-Qur’an ada- lah bahasa arab yang terang, tidak ada bunyi “penghapusan kata non arab”. Andai mereka berkata : “Dalam ayat tersebut ada kata-kata penolakan bahasa ‘ajam atau non ‘arab,” maka kita jawab : Se-sungguhnya ayat ini sedang membantah mereka yang menuduh Nabi Muhammad r menjiplak kitab kitabnya Ahli Kitab, padahal kitab-kitab Ahli Kitab berbahasa non arab dan pada zaman itu belum ada yang diterjemah dalam bahasa arab. Tetapi ayat ini tidak menyebutkan sama sekali adanya peng hapusan kata non arab sebagaimana yang mereka sangkakan.

Perhatikan pula Qs. Fushshilat : 44 :

وَ لَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوْا لَوْلاَ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ أَأَعْجَمِيٌّ وَ عَرَبِيٌّ قُلْ هُوَ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا هُدًى وَ شِفَاء وَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَ هُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُوْلَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَّكَانٍ بَعِيْدٍ

“Dan jikalau Kami jadikan Al Qur’an itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah ( patut Al Quraan ) dalam bahasa asing sedang ( rasul adalah orang ) Arab? Katakanlah : “Al Quraan itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mu’min. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quraan itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh”.

Mana bunyi yang memerintahkan penghapusan kata non ‘arab ? Tidak ada ! Karena ayat ini sedang menjelaskan salah satu alasan di antara sekian banyak alasan kenapa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa ‘arab, yaitu kata Nabi Muhammad r adalah orang ‘arab yang tidak mengerti bahasa selain bahasa ‘arab, sehingga bila turun dalam bahasa selain Arab, tentu beliau tidak mampu memahami-nya.

Memang dalam Al-Qur’an terdapat sejumlah kata yang berasal dari non ‘arab, tetapi sudah dibahasa’arab-kan. Dalam istilah tata bahasa disebut kata serapan. Seperti Solomon menjadi Sulai-man, David menjadi Dawud dan lain-lainnya. Meskipun kata-kata tersebut berasal dari bahasa non ‘arab, tetapi dengan diserap ke dalam bahasa ‘arab maka ia telah menjadi bagian dari bahasa ‘arab. Seperti kata NASIB, KUAT, SEHAT, SAKIT. ASYIK dan lain-lainnya yang sebenarnya berasal dari bahasa ‘arab : نَصِيْبٌ – قُوَّةٌ – صِحَّةٌ – سَاقِطٌ – عَشِيْقٌ , tetapi karena sudah diserap dalam bahasa Indonesia maka ia telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari bahasa Indonesia. Bukankah demikian ?

BANTAHAN KEEMPAT PULUH SATU

Mereka menuduh telah terjadi kontradiksi dalam Al-Qur’an, yaitu ketika Qs. Al-An’am : 22 – 23 disebutkan bahwa orang-orang Kafir berusaha menyembunyikan sesuatu dari Tuhan, sementa-ra Qs. An-Nisa’ : 42 menyebutkan bahwa orang kafir tidak menyembunyikan apa pun dari Tuhan.

Kita jawab : Sesungguhnya tidak terjadi kontradiksi dari ayat-ayat yang mereka sebutkan. Perhatikan Qs. Al-An’am : 22 – 23 :

وَ يَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيْعًا ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِيْنَ أَشْرَكُواْ أَيْنَ شُرَكَآؤُكُمُ الَّذِينَ كُنتُمْ تَزْعُمُونَ ثُمَّ لَمْ تَكُن فِتْنَتُهُمْ إِلاَّ أَنْ قَالُواْ وَ اللّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِيْنَ

“Dan ( ingatlah ), hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya kemudian Kami ber- kata kepada orang-orang musyrik : “Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dulu kamu kata- kan ( sekutu-sekutu ) Kami ?”. Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan: “Demi Alloh Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Alloh”.

Di sini disebutkan bahwa orang-orang kafir berusaha membohongi Alloh ta’ala, tapi apa mungkin Alloh dibohongi ?

يَوْمَئِذٍ يَوَدُّ الَّذِيْنَ كَفَرُواْ وَ عَصَوُاْ الرَّسُوْلَ لَوْ تُسَوَّى بِهِمُ الأَرْضُ وَ لاَ يَكْتُمُونَ اللّهَ حَدِيثًا

“Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disa- maratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan ( dari Alloh ) sesuatu kejadian- pun.” ( Qs. An-Nisa’ : 42 )

Artinya, meskipun mereka berusaha berdusta dihadapan Alloh, tetapi Alloh Maha Tahu. Sehingga Alloh bongkar kedustaan mereka dengan mendatangkan berbagai bukti, termasuk tangan dan anggo ta tubuh berbicara memberi kesaksian atas kedustaan ucapan lisan mereka. Dengan demikian, kedua ayat yang mereka tuduh kontradiktif ini malah saling mendukung dalam penjelasan dan maknanya. Bukankah begitu ?

TUDUHAN dan BANTAHAN KEEMPAT PULUH DUA

Mereka menuduh bahwa dalam Qs. Al-Waqi’ah : 13 – 14 menyebutkan bahwa orang-orang yang bakal masuk syurga mayoritas datang dari bangsa-bangsa sebelum Muhammad dan minoritas dari orang-orang yang percaya kepada Muhammad, tapi dalam Qs. Al-Waqi’ah : 39 – 40 dikatakan bah-wa mayoritas akan berasal dari orang-orang yang datang sebelum dan sesudah Muhammad. Lalu mereka berkata : “Saya mencoba membatasi diskusi ini dengan mengutip tafsir dari ayat-ayat ini da-ri ulama-ulama muslim, tapi mereka tidak pernah menampilkan pembenaran yang jelas atas perten-tangan yang telak ini.”

Jawaban kita :

Terang saja mereka tidak bisa mendapati penjelasan yang benar dalam perkara ini, karena ha ti mereka telah tertutupi oleh kedengkian yang meluap-luap sehingga membutakan akal fikiran mere ka. Padahal jawabannya sangat jelas seterang matahari, bagi siapa yang memiliki mata yang sehat, fikiran yang jernih dan hati yang bersih.

Sesungguhnya Qs. Al-Waqi’ah : 10 – 14 sedang berbicara tentang As-Sabiqunas-Sabiqun atau Al-Muqorrobun, sedangkan Qs. Al-Waqi’ah : 38 – 40 sedang membicarakan tentang Ashhabul Yamin. Bukankah manusia di akhirat terbagi menjadi 3 golongan : As-Sabiqunas-Sabiquun ( Al-Mu qorrobun ), Ashhabul Yamin, dan Ashhabusy-Syimal ? Qs. Al-Waqi’ah : 10 – 14 tengah mencerita kan tentang mayoritas As-Sabiqunas-Sabiqun adalah orang-orang yang terdahulu dan minoritasnya dari orang-orang yang datang kemudian, ada pun Qs. Al-Waqi’ah : 38 – 40 sedang membahas ten- tang mayoritas Ashhabul-Yamin adalah orang-orang yang terdahulu dan yang datang kemudian, ka- lau begitu dimana letak pertentangannya ?

TUDUHAN dan BANTAHAN KEEMPAT PULUH TIGA

Mereka menuduh terjadi pertentangan antara Qs. An-Nisa’ : 3 menyebutkan bahwa keadilan itu mungkin, namun dalam Qs. An-Nisa’ : 129 menyebutkan bahwa keadilan itu tidak mungkin.

Kemudian mereka menebar cerita bohong bahwa Nabi Muhammad lebih sayang kepada ‘Aisyah dan berencana menceraikan Saudah karenanya.

Begitulah tabiat mereka yang seenaknya menebar tafsir yang batil dan cerita yang penuh ke-dustaan, sebuah cerita yang tidak pernah dikenal oleh para ulama kaum muslimin.

Sesungguhnya Qs. An-Nisa’ : 3 dan Qs. An-Nisa’ : 129 saling melengkapi. Qs. An-Nisa’ : 3 berbicara tentang syarat poligami, yaitu kewajiban bersikap adil, sebagaimana disebutkan dalam ayat :

وَ إِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَ ثُلاَثَ وَ رُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُوْلُواْ

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim ( bi-lamana kamu mengawininya ), maka kawinilah wanita-wanita ( lain ) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka ( kawinilah ) seorang sa- ja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” ( Qs. An-Nisa’ : 3 )

Pengertian adil di sini diterangkan dalam Qs. An-Nisa’ : 129 yang berbicara seputar konflik yang mungkin terjadi di antara suami dan isteri. Perhatikan Qs. An-Nisa’ : 129 :

وَ لَنْ تَسْتَطِيعُواْ أَن تَعْدِلُواْ بَيْنَ النِسَاء وَ لَوْ حَرَصْتُمْ فَلاَ تَمِيْلُواْ كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوْهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِن تُصْلِحُواْ وَتَتَّقُواْ

فَإِنَّ اللّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri-( mu ), walaupun kamu sa- ngat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung ( kepada yang kamu cintai ), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbai- kan dan memelihara diri ( dari kecurangan ), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Ma- ha Penyayang.”

Dari sini dapat disimpulkan bahwa ketidakmungkinan bersikap adil yang disebut dalam Qs. An-Nisa’ : 129 adalah keadilan yang sempurna, karena setiap orang memiliki tingkat kecemburuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya si-Fulan memiliki dua orang isteri. Ketika isteri perta ma meminta dibelikan baju baru karena baju yang dimilikinya rusak atau hilang, lalu si Fulan pun membelikannya. Ketika isteri keduanya tahu, ia pun meminta dibelikan baju baru pula. Dalam kasus ini, bila ia membelikan baju baru pula kepada isteri keduanya, maka akan dipandang kurang adil oleh isteri pertama karena baju yang dimiliki isteri kedua masih bagus, sementara bagi isteri kedua pembelian baju baru bagi isteri pertama berarti memberikan suatu ganti yang lebih dari baju yang rusak atau hilang kepada isteri pertama karena kualitas baju baru dengan baju yang sudah tidak baru jelas berbeda. Di sinilah seorang suami tidak mungkin bisa berbuat adil secara sempurna. Begitu pula bila harga baju yang dibeli berbeda, mungkin karena ukuran bajunya yang berbeda atau karena motifnya, dan lain-lain. Oleh karena itu keadilan yang dimaksud sebagai syarat poligami dalam Qs. An-Nisa’ : 3 disebutkan dalam ayat ke-129 : “karena itu janganlah kamu terlalu cenderung ( kepa- da yang kamu cintai ), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung”, artinya berbuatlah adil yang masih mungkin dilakukan oleh manusia yang penuh dengan segala keterbatasan, adapun ke- adilan yang sempurna hanya milik Alloh semata.

Adapun kisah-kisah yang mereka sebut, bahwa Nabi Muhammad terlalu mencintai ‘Aisyah sehingga berencana menceraikan Saudah kecuali Saudah mau memberikan hari gilirannya kepada ‘Aisyah adalah kisah dusta yang dibuat-buat. Karena kisah yang sebenarnya justru Saudah sendiri yang menghibahkan sendiri hari gilirannya kepada ‘Aisyah karena dirinya sudah merasa tertalu tua. Begitu pula kisah dusta yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad menolak nasihat Fatimah anak- nya agar bersikap adil kepada seluruh isterinya. Darimana mereka memungut cerita bohong ini ?!!!

TUDUHAN dan BANTAHAN KEEMPAT PULUH EMPAT

Mereka berkata : “Kita baca dalam Surat 90 : 1, mereka bilang bahwa Tuhan tidak bersumpah di ta-nah suci ( Mekkah ), kemudian dalam Surat 95 : 3 kita lihat Dia bersumpah di tanah suci Mekkah. Pertentangan antara kedua ayat ini sangat jelas.”

Kita Jawab :

Tidak ada pertentangan dalam kedua ayat ini. Karena makna dari Qs. Al-Balad : 1 :

لاَ أُقْسِمُ بِهَذَا الْبَلَدِ

“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini ( Mekah )”

Memang makna kata لاَ adalah “tidak”, namun peletakan kata لاَ di sini adalah sebagai sanggahan atas ketakinan kaum musyrikin, sebagaimana dijelaskan oleh Mujahid. Kalimat ini sama dengan ke-tika ada yang menuduh seseorang mencuri –misalnya-, lalu dia menyanggahnya dengan berkata : “Tidak, Demi Alloh, aku tidak mencuri.” Artinya : kata “tidak” adalah sanggahan, lalu diiringi kata sumpah. Begitu pula dalam Qs. Al-Balad : 1 ini, maknanya adalah “Tidak” yaitu menyanggah keyakinan salah kaum musyrikin, lantas diteruskan dengan sumpah “Aku bersumpah dengan kota ini ( Mekkah )” dan seterusnya. Sehingga fungsi لاَ di sini bisa dianggap sebagai penegas. Sehingga makna ayat ini tidak bertentangan dengan Qs. At-Tin : 3 :

وَ هَذَا الْبَلَدِ الأَمِينِ

“dan demi kota ( Mekah ) ini yang aman.”

TUDUHAN dan BANTAHAN KEEMPAT PULUH LIMA

Mereka berkata : “Di satu surat ( Qs. 5 : 90 ) dikatakan anggur / arak adalah hasil buatan Setan. Tapi di ayat berikutnya ( Qs. 47 : 15 ) dikatakan bahwa ada sungai-sungai dari arak di surga. Pertanyaan saya : bagaimana Setan sampai bisa memasukkan hasil kerjaannya di Surga ?”

Jawaban kita :

Perhatikan bagaimana mereka memaksakan tafsirnya. Qs. Al-Maidah : 90 memang menyatakan pengharaman Khomr, tapi lihat bunyi ayatnya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَ الْمَيْسِرُ وَ الأَنصَابُ وَ الأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya ( meminum ) khamar, berjudi, ( berkorban untuk ) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbua- tan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Dalam ayat ini Alloh menyebutkan bahwa minum khomr adalah perbuatan syetan, bukan khomr adalah buatan syetan. Lihat betapa liciknya mereka dalam berargumen ! Karena kata perbuatan de-ngan kata buatan adalah dua kata yang maknanya sangat jauh berbeda. Kata buatan menghendaki se luruh khomr adalah buatan atau produksi syetan, sedangkan perbuatan menghendaki makna celaan kepada peminum khomr karena termasuk perbuatan syetan. Dan Khomr diharamkan karena mema-bukkan, sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam :

كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

“Setiap yang memabukkan adalah Khomr, dan setiap yang memabukkan itu haram.”

( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Ath-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah dan lain-lainnya )

Sedangkan Qs. Muhammad : 15 sedang berbicara tentang Khomr di syurga, di mana Khomr di syur ga rasanya lezat namun tidak memabukkan, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

لاَ فِيهَا غَوْلٌ وَ لاَ هُمْ عَنْهَا يُنزَفُونَ

“Tidak ada dalam khamar itu alkohol dan mereka tiada mabuk karenanya.” ( Qs. Ash-Shoffat : 47 )

Dalam ayat yang lain disebutkan :

لاَ يُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَ لاَ يُنزِفُونَ

“mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk.” ( Qs. Al-Waqi’ah : 19 )

Semua ini menunjukkan bahwa Khomr di surga bukan seperti khomr di dunia, sehingga walau pun di Syurga ada sungai khomr, tetapi tidak ada yang mabuk karenanya, karena memang khomr-nya ti-dak memabukkan. Sedangkan yang tergolong perbuatan syetan adalah minum khomr yang bisa memabukan, yaitu khomr yang ada di dunia.

TUDUHAN dan BANTAHAN KEEMPAT PULUH ENAM

Mereka menuduh bahwa Qs. Al-An’am : 14 dan Qs. Az-Zumar : 12 bertentangan dengan Qs. Al-An’am : 163. Karena dalam Qs. Al-An’am : 14 dan Qs. Az-Zumar : 12 disebutkan bahwa Muham-mad adalah orang yang pertama kali menyerahkan diri, sedangkan dalam Qs. Al-An’am : 163 dise-butkan bahwa Ibrohim adalah orang yang pertama menyerahkan diri. Mereka berkata : “Pertanyaan-nya = Muhammad atau Ibrohim yang pertama kali berserah diri ( menjadi Islam ) ?”

Jawaban kita :

Setiap orang wajib menjadi pelopor dalam kebaikan, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Berlomba-lombalah ( dalam berbuat ) kebaikan !” ( Qs. Al-Baqoroh : 148 dan Al-Maidah : 48 )

Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah pelopor dalam keislaman umatnya, sehingga dia diperintahkan untuk mengatakan :

إِنِّيَ أُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَسْلَمَ

“Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerah diri ( kepada Alloh ).” ( Qs. Al-An’am : 14 )

Demikian pula dalam Qs. Az-Zumar : 12 :

وَ أُمِرْتُ ِلأَنْ أَكُوْنَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ

“Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri”.

Sedangkan Nabi Ibrohim ‘alaihis salam diperintahkan untuk menjadi pelopor keislaman kaumnya pula, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ بِذَلِكَ أُمِرْتُ وَ أَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri ( kepada Alloh )”. ( Qs. Al-An’am : 163 )

Hal ini sama seperti bila ada seorang kepala kantor yang mengatakan kepada tiap-tiap kepala bagian untuk menjadi orang yang pertama-tama melaksanakan peraturan baru yang telah ditetapkan. Apa artinya ? Artinya, masing-masing kepala bagian mesti menjadi pelopor dalam pelaksanaan peratu-ran baru tersebut di dalam lingkup bagiannya. Bukankah begitu ?

TUDUHAN dan BANTAHAN KEEMPAT PULUH TUJUH

Mereka berkata : “Dalam Qs. 10 ( Yunus ) : 80 – 83 jelas Al-Qur’an bilang bahwa setelah pertemu-an dengan tukang sihir Fir’aun hanya kaumnya pihak Musa yang bertobat. Kontradiksi / bertenta-ngan dengan Qs. 17 : 120 – 126 di mana jelas dikatakan di ayat ini tukang-tukang sihir Fir’aun pun ikut beriman kepada Tuhannya Musa. Jelas sekali kontradiksinya, di mana Alloh SWT lupa apakah hanya kaumnya Musa saja yang bertobat ( Qs. 10 ( Yunus ) : 83 ) atau juga tukang sihirnya Fir’aun juga bertobat ( Qs. 7 : 120 -126 ).”

Jawaban kita :

Alloh tidak lupa dan tidak pula salah, tetapi mereka saja yang tolol, tidak mengerti cara merangkai sebuah kisah. Qs. Yunus : 79 – 86 hanya bertutur seputar kisah pertemuan Musa ‘alaihis salam de- ngan para tukang sihir, dan tidak dilanjutkan kepada penjelasan hasil akhir pertarungan antara sihir tukang-tukang sihir Fir’aun dengan Mu’jizat Musa. Dan memang sebelum kekalahan para tukang si hir Fir’aun yang beriman hanya pemuda-pemuda dari kaumnya Musa.

Hal ini tidak bertentangan dengan Qs. Al-A’rof : 111 – 126, karena dalam di sini diceritakan sampai akhir pertarungan antara sihir para tukang sihir Fir’aun dengan Mu’jizat Nabi Musa dan berakhir de ngan kemenangan Mu’jizat Nabi Musa. Inilah yang menjadikan para tukang sihir itu sadar dan ber-iman kepada Alloh.

Bila dirangkaikan maka cerita dalam Qs. Yunus : 79 – 86 disempurnakan dalam Qs. Al-A’rof : 111 – 126. Hal ini sama dengan cerita Diponegoro – misalnya – yang dibuat dalam dua seri, di dalam seri pertama diceritakan bagaimana kemenangan-kemenangan Diponegoro melawan Belanda. Dan dalam seri kedua diceritakan bagaimana Diponegoro tertawan dan Belanda pun menang. Apakah bo leh kita katakan bahwa Seri Pertama bertentangan dengan Seri Kedua, karena dalam Seri Pertama Diponegoro yang menang, tapi dalam Seri Kedua Belanda yang menang, yang mana yang benar ? Jawabannya : Semua Benar, yang tolol adalah mereka yang memahani hanya sepotong-sepotong da ri ceritanya ! Bukankah demikian ?!!!

TUDUHAN dan BANTAHAN KEEMPAT PULUH DELAPAN

Mereka menuduh bahwa Qs. An-Nisa’ : 48 bertentangan dengan Qs. An-Nisa’ : 153. Mereka berka-ta : “Kesimpulan = Alloh pendusta karena katanya nggak diampuni dosa syirik, eh ternyata bahkan dalam surat yang sama dosa syirik diampuni.”

Maha Suci Alloh dari apa yang mereka tuduhkan. Mari kita lihat bagaimana kebodohan me-reka dalam memahami Al-Qur’an :

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَ يَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari ( syirik ) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Alloh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” ( Qs. An-Nisa’ : 48 )

Dalam ayat ini Alloh tegaskan bahwa DOSA SYIRIK adalah yang tidak akan diampuni, namun pela-kunya masih mungkin diampuni bila dia bertaubat dari dosa syiriknya sebelum ajal menjemputnya, tapi bila dia tidak bertaubat dari dosa syiriknya, maka dosa syirik tidak akan diampuni, sebagaimana sabda Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ مَاتَ لا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَ مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa mati dalam keadaan tidak mempersekutukan Alloh dengan sesuatu apapun maka ia masuk syurga, dan barangsiapa yang mati dalam keadaan mempersekutukan Alloh dengan sesuatu apapun maka ia masuk neraka.” ( HR. Al-Bukhori dan Muslim )

Inilah sebabnya ayat 48 memakai lafazh أَن يُشْرَكَ بِهِ yang artinya “perbuatan mempersekutukan-Nya” tidak memakai lafazh “pelaku dosa mempersekutukan-Nya”. Sehingga ayat ini tidak bertenta-ngan dengan ayat ke-153 :

يَسْأَلُكَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَن تُنَزِّلَ عَلَيْهِمْ كِتَابًا مِنَ السَّمَاء فَقَدْ سَأَلُواْ مُوسَى أَكْبَرَ مِن ذَلِكَ فَقَالُواْ أَرِنَا اللّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ بِظُلْمِهِمْ ثُمَّ اتَّخَذُواْ الْعِجْلَ مِن بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ فَعَفَوْنَا عَن ذَلِكَ وَ آتَيْنَا مُوسَى سُلْطَانًا مُّبِينًا

“Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata : “Perlihatkanlah Alloh kepada kami dengan nyata”. Maka mereka disambar petir karena kezaliman- nya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami ma’afkan ( mereka ) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata.“

Karena ayat ini memakai lafazh اتَّخَذُواْ الْعِجْلَ yaitu “mereka menyembah anak sapi” yang artinya me nyebutkan pelaku, yang mana para pelaku penyembah anak sapi ini belum mati sehingga masih ter-buka kesempatan bertaubat dari dosa syiriknya sebagaimana tersebut dalam ayat-ayat yang lainnya. Dengan demikian tidak terjadi pertentangan di antara dua ayat ini.

TUDUHAN dan BANTAHAN KEEMPAT PULUH SEMBILAN

Mereka menuduh Qs. 29 : 29 – 30 bertentangan dengan Qs. 27 : 56. Dalam Qs. 29 : 29 – 30 yaitu pa da kasus Nabi Luth jelas dikatakan : “Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan : “Da-tangkanlah kepada kami azab Alloh, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.”, yaitu nantangin Nabi Luth. Ini kontradiksi dengan Qs. 27 : 56 karena dalam ayat ini disebutkan : “Maka tidak lain ja waban kaumnya melainkan mengatakan : “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu.”

Jawaban kita :

Tidak ada pertentangan di sini. Karena kalau kita amati konteks kalimatnya dan kalimat-kali mat yang terdapat dalam ayat-ayat sebelumnya akan jelas bagi kita duduk permasalahannya. Perhati kan Qs. Al-Ankabut : 29 :

أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُوْنَ الرِّجَالَ وَ تَقْطَعُوْنَ السَّبِيلَ وَ تَأْتُونَ فِي نَادِيكُمُ الْمُنْكَرَ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلاَّ أَنْ قَالُوْا ائْتِنَا بِعَذَابِ اللَّهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِيْنَ

“Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungka- ran di tempat-tempat pertemuanmu ?” Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Da-tangkanlah kepada kami azab Alloh, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”

Ayat ini menceritakan jawaban kaumnya ketika menyadarkan mereka dari perbuatan homoseksual, menyamun dan berbuat mesum di tempat-tempat pertemuan atau di muka umum, yang tentu pelaku nya orang-orang yang merasa dirinya jagoan, karena tidak mungkin menyamun kecuali orang-orang yang bermental preman, maka jawaban kaumnya yang demikian adalah menantang Nabi Luth untuk mendatangkan azab Alloh, karena mereka merasa kuat dan tidak takut dengan azab Alloh.

Adapun Qs. An-Naml : 54 – 56 :

وَ لُوْطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُوْنَ الْفَاحِشَةَ وَ أَنتُمْ تُبْصِرُوْنَ

“Dan ( ingatlah kisah ) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan per buatan fahisyah itu sedang kamu memperlihatkan(nya)?”

أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُوْنَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُوْنِ النِّسَاءِ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

“Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk ( memenuhi ) nafsu-(mu), bukan ( mendatangi ) wanita ? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui ( akibat perbuatanmu )”

فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلاَّ أَنْ قَالُوْا أَخْرِجُوْا آلَ لُوْطٍ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُوْنَ

“Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan : “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang ( menda’wakan dirinya ) bersih.”

Ayat-ayat ini hanya menyangkut upaya Nabi Luth untuk menyadarkan kaumnya dari kebiasaan ho-moseksual, yang orang-orangnya tidak sama dengan yang disebut dalam Qs. Al-‘Ankabut : 29, kare na di sini tidak disebutkan kata-kata menyamun. Dipertegas lagi dengan tuduhan kaumnya bahwa Luth dan para pengikutnya adalah orang-orang yang sok suci, yaitu tidak mau melakukan homoseks maka orang-orang yang disadarkan ini mengancam akan mengusir Nabi Luth dan pengikutnya.

Kita buat sebuah permisalan. Kalau kita mengajak orang-orang di lingkungan kita yang suka berjudi dan memalak, dan sambutan mereka hanyalah jawaban : “Buktikan kalau kami mau di azab, silakan da tangkan azab Alloh !”, lalu kita datangi orang-orang lain di lingkungan kita yang juga suka berju di namun bukan orang yang biasa memalak orang, kita sadarkan mereka, dan jawaban mereka ha-nyalah ancaman pengusiran. Apakah bila kita ceritakan pengalaman ini kepada seseorang, dia akan menuduh bahwa cerita kita bertentangan ? Tentu tidak, karena “SETIAP PEMBICARAN ADA TEMPATNYA”.

TUDUHAN dan BANTAHAN KELIMA PULUH

Mereka menuduh Qs. 68 : 49 bertentangan dengan Qs. 37 : 145. Dalam Qs. 68 : 49 menunjukkan Yunus akhirnya mendapat nikmat Tuhan dan tidak dicampakkan ke tanah yang tandus. Kontradiksi dengan Qs. 37 : 145 yang menyebutkan ternyata Yunus jadi dilemparkan ke tanah yang tandus yang dimaksud !!

Jawaban kita :

Demikian pemahaman mereka terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang sangat jauh dari kehendak ayat. Perhatikan Qs. Al-Qolam : 49 :

لَوْلاَ أَنْ تَدَارَكَهُ نِعْمَةٌ مِنْ رَّبِّهِ لَنُبِذَ بِالْعَرَاء وَهُوَ مَذْمُومٌ

“Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat ni’mat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke ta-nah tandus dalam keadaan tercela.”

Dalam ayat ini disebutkan bahwa seandainya tidak karena nikmat Alloh, niscaya Yunus akan dilem-par ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Penekanannya adalah kata-kata : “dalam keadaan terce-la”, bukan “dilempar ke tanah tandus”.

Dan dalam Qs. Ash-Shoffat : 145 disebutkan dengan lafazh :

فَنَبَذْنَاهُ بِالْعَرَاءِ وَ هُوَ سَقِيْمٌ

“Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit.”

Yaitu tidak dalam keadaan tercela, namun dalam keadaan sakit. Sehingga tidak ada pertentangan di antara dua ayat ini.

Bila mereka menanyakan, kenapa dilempar ke tanah yang tandus ?

Karena supaya mudah terlihat oleh orang, sehingga Yunus bisa segera diselamatkan. Andaikata dilempar ke tanah yang memiliki tanaman, ada kemungkinan tidak langsung dapat diketahui oleh orang-orang sehingga ikan Nun-nya terlanjur membusuk, dan bagaimana nasib Nabi Yunus bila de-mikian ?

Demikian Bantahan dan Jawaban kami terhadap artikel yang terdapat dalam www.tinggalkan-islam.org , semoga bisa menjadi bekal bagi kaum muslimin untuk membentengi iman dan islam kita dari syubhat atau keraguan yang ditebarkan oleh musuh-musuh Islam.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 100 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: