RSS

SYIRIK dan MUSYRIK

Dalam kenyataannya, kebanyakan manusia di dunia ini bertuhan lebih dari satu. Al-Qur’an menamakan mereka ini musyrik, yaitu orang yang syirik. Kata syirik ini berasal dari kata “syaraka” yang berarti “mencampurkan dua atau lebih benda/hal yang tidak sama menjadi seolah-olah sama”, misalnya mencampurkan beras kelas dua ke dalam beras kelas satu. Campuran itu dinamakan beras isyrak. Orang yang mencampurkannya disebut musyrik.

Lawan “syaraka” ialah “khalasha” artinya memurnikan. Beras kelas satu yang masih murni, tidak bercampur sebutir pun dengan beras jenis lain disebut beras yang “Khalish”. Jadi orang yang ikhlash bertuhankan hanya Allah ialah orang yang benar-benar bertawhid. Inilah konsep yang paling sentral di dalam ajaran Islam.

Mentawhidkan Allah ini tidaklah semudah percaya akan wujudnya Allah. Mentawhidkan Allah dengan ikhlash menghendaki suatu perjuangan yang sangat berat.Mentawhidkan Allah adalah suatu jihad yang terbesar di dalam hidup ini.

Kenyataannya, orang-orang yang sudah mengaku Islam pun, bahkan mereka yang sudah rajin bershalat, berpuasa dan ber’ibadah yang lain pun, di dalam kehidupan mereka sehari-hari masih bersikap, bahkan bertingkah laku seolah-olah mereka masih syirik (bertuhan lain di samping Tuhan Yang Sebenarnya). Mereka masih mencampurkan (mensyirikkan) pengabdian mereka kepada Allah itu dengan pengabdian kepada sesuatu “ilah” yang lain. Pengabdian sampingan itu biasanya ialah di dalam bentuk “rasa ketergantungan” kepada ilah yang lain itu. Oleh karena itu, al-Qur’an mengingatkan setiap Muslim, bahwa dosa terbesar yang tak akan terampunkan oleh Allah ialah syirik ini (LihatQ.4:48 dan 116):

Artinya kira-kira: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampunkan orang-orang yang mensyirikkan-Nya, tapi Ia akan mengampuni kesalahan lain bagi siapa yang diperkenankan-Nya. Barangsiapa yang mensyirikkan Allah, sesungguhnyalah ia telah berdosa yang sangat besar.”

RasuluLlah pun pernah mengatakan, bahwa pokok pangkal setiap dosa ialah syirik ini, jadi senada dengan peringatan yang disampaikan al-Qur’an. Dapat difahami, bahwa setiap orang yang akan melakukan sesuatu dosa, apalagi buat pertama kali, akan merasakan, bahwa hati nuraninya akan memberontak. Detak jantungnya akan bertambah cepat, timbul rasa malu kalau-kalau perbuatannya itu akan dilihat orang lain, terutama kenalannya, maka pada saat itu ia lebih takut (malu) kepada orang (ilah lain) dari pada kepada Allah, Yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Maka pada saat itu ia sudah syirik sebelum melaksanakan keinginan hawa nafsunya itu.

Peringatan al-Qur’an dan ucapan Rasul itu disampaikan karena Allah sendiri tahu, bahwa memang tidak mudah mencapai tingkat tawhid yang ikhlash itu. Sangat banyak kendala dan halangan yang harus diatasi jika orang ingin mencapai tingkat tawhid yang murni ini.

1. Alihatun atau Tuhan-tuhan yang Populer

a. Harta atau Duit Sebagai Ilah

Tuhan lain atau “tuhan tandingan”, yang paling populer di zaman modern ini ialah duit, karena ternyata memang duit ini termasuk “ilah” yang paling berkuasa di dunia ini. Di kalangan orang Amerika terkenal istilah “The Almighty Dollar” (Dollar yang maha kuasa). Memang telah ternyata di dunia, bahwa hampir semua yang ada di dalam hidup ini dapat diperoleh dengan duit, bahkan dalam banyak hal harga diri manusia pun bisa dibeli dengan duit.

Cobalah lihat sekitar kita sekarang ini, hampir semuanya ada “harga”-nya, jadi bisa “dibeli” dengan duit. Manusia tidak malu lagi melakukan apa saja demi untuk mendapat duit, pada hal malu itu salah satu bahagian terpenting dari iman. Betapa banyak orang yang sampai hati menggadaikan negeri dan bangsanya sendiri demi mendapat duit. Memanglah “tuhan” yang berbentuk duit ini sangat banyak menentukan jalan kehidupan manusia di zaman modern ini.

Pada mulanya manusia menciptakan duit hanyalah sebagai alat tukar untuk memudahkan serta mempercepat terjadinya perniagaan. Maka duit bisa ditukarkan dengan barang-barang atau jasa dalam berbagai bentuk. Oleh karena itu, duit juga disebut sebagai “harta cair” (liquid commodity). Kemudian, fungsi duit sebagai alat tukar ini menjadi demikian efektifnya, sehingga di zaman ini, terutama di negeri-negeri yang berlandaskan materialisme dan kapitalisme, duit juga dipakai sebagai alat ukur bagi status seseorang di dalam masyarakat.

Kekuasaan, pengaruh, bahkan nilai pribadi seseorang diukur dengan jumlah kekayaan (asset)-nya. Prestasi pribadi seseorang pun telah diukur dengan umur semuda berapa ia menjadi jutawan. Semakin muda seseorang mendapat duit sejumlah sejuta dollar dianggap semakin tinggi nilai pribadinya. Umpamanya, ketika penulis sedang mengetik naskah edisi baru ini (di Ames, Iowa, USA, awal Ramadhan 1406/ May 1986), di dalam siaran TV diumumkan, bahwa Michael Jackson mendapat piagam kehormatan tertinggi (Golden Award) sebagai “seniman” penyanyi termuda (di bawah 30 tahun) yang terhebat, karena ia berhasil mendapat kontrak sejumlah 15 juta dollar untuk menyanyikan lagu “Pepsi Cola” di dalam siaran-siaran TV dan radio selama tiga tahun. Jadi ia berpenghasilan 5 juta dollar setahun dalam masa tiga tahun mendatang ini; kira-kira 20 x gaji presiden Amerika Serikat (Ronald Reagen) pada masa yang sama. Kehidupan dan gaya hidup orang-orang yang banyak duit ini di USA sengaja ditonjolkan melalui program yang periodik di TV (The Lifestyles of the Rich and Famous).

b. Takhta Sebagai Ilah

“Tuhan tandingan” kedua yang paling populer ialah pangkat atau takhta, karena pangkat ini erat sekali hubungannya dengan duit tadi, terutama di negeri-negeri yang sedang berkembang. Pangkat atau takhta bisa dengan mudah dipakai sebagai alat untuk mendapat duit atau harta, terutama di negeri-negeri di mana kebanyakan rakyatnya masih berwatak “nrimo”, karena belum terdidik dan belum cerdas. Apalagi, kalau di negeri itu kadar kebebasan mengeluarkan pendapat, baik secara lisan maupun tulisan, masih rendah.

Di negeri-negeri yang rakyatnya sudah cerdas, dan kebebasan mengeluarkan pendapat terjamin penuh oleh undang-undang, memang peranan pangkat dan kedudukan tidak mudah, bahkan tidak mungkin dipakai untuk mendapatkan duit/harta. Oleh karena itu, orang-orang yang ikut aktif di dalam perebutan kedudukan yang bersifat politis di negeri- negeri yang sudah maju ini biasanya orang-orang yang sudah kaya lebih dahulu. Mendiang presiden Kennedy, umpamanya, menolak pembayaran gajinya sebagai presiden yang jumlahnya ketika itu 125 ribu dollar setahun, karena ia sudah jutawan sebelum jadi presiden. Ia merebut kedudukan kepresidenan dengan mengalahkan Nixon, ketika itu, karena dorongan rasa patriotiknya, atau mungkin juga demi menjunjung tinggi nama dan kehormatan keluarganya, namun bukan karena menginginkan kekayaan yang mungkin diperoleh dari kepresidenan itu.

Jadi, nyata benar bedanya dengan bekas presiden Marcos dan isterinya Imelda, umpamanya, yang telah menjadi kaya raya akibat kedudukannya, karena itu mereka telah bersikeras terus mempertahankan kedudukan itu, walaupun rakyat sudah menyatakan ketidak-senangan mereka kepadanya. Hal ini bisa terjadi di negeri Marcos, karena kecerdasan dan kebebasan rakyatnya masih jauh di bawah kecerdasan dan kebebasan rakyat Amerika Serikat.

Contoh-contoh seperti Marcos dan Imelda ini banyak sekali terjadi di negeri-negeri yang sedang berkembang, seperti Tahiti dengan Duvalier-nya, Iran dengan mendiang Syah-nya, dan lain-lain…!

Suatu hal yang sangat menarik, karena berhubungan dengan masalah ini, ialah, bahwa Al-Qur’an sudah mengajarkan kepada para Muslim yang benar-benar bertawhid (beriman) agar mereka memilih pemimpin, selain Allah dan Rasul-Nya, hanyalah “orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan membayarkan zakat seraya tundak hanya kepada Allah.” Ayat selengkapnya berbunyi:

“Sungguh, pemimpinmu (yang sejati) hanyalah Allah dan Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan MEMBAYARKAN ZAKAT, seraya tunduk (patuh kepada Allah).” (Q.5:55)

Bukankah yang diwajibkan membayar zakat ini ialah orang yang kaya, atau paling tidak orang yang sudah berkecukupan. Orang yang miskin, dan karena itu tidak mampu membayarkan zakat, walaupun sudah ta’at melakukan sembahyang, belum memenuhi syarat untuk dipilih sebagai pemimpin. Akan terlalu berat baginya mengatasi keinginan melepaskan diri dari tekanan kemiskinan itu, sehingga mungkin ia akan lebih mudah tergoda untuk memperkaya dirinya dahulu, sebelum atau sambil menjalankan tugasnya sebagai pemimpin itu.

Sungguh, sangat tinggi hikmah yang terkandung di dalam ayat ini, terutama mengenai masalah memilih atau menentukan pemimpin. Sangat sayang, bahwa kebanyakan ummat Islam pada saat ini belum sempat mencapai tingkat kecerdasan yang memadai untuk memahami dan menghayati kandungan ayat suci ini. Oleh karena itu, ummat ini belum juga berhasil memilih pemimpin mereka sesuai dengan kandungan ajaran Allah ini. Akibatnya, ummat Islam belum mampu mencapai tingkat kemerdekaan (tawhid) yang minimal menurut standard yang dikehendaki al-Qur’an. Benar juga kiranya, jika ada yang mengatakan, bahwa “al-Qur’an masih terlalu tinggi bagi kebanyakan ummat Islam pada masa ini”. Dengan perkataan lain, ummat Islam pada masa ini masih terlalu rendah mutunya, sehingga belum pantas untuk menerima al-Qur’an yang mulia itu.

Oleh karena itu, kita tak perlu heran jika nilai-nilai dasar dan pokok yang diajarkan di dalam al-Qur’an masih lebih mudah terlihat dipraktekkan di negeri-negeri, yang justru mayoritas penduduknya resmi belum beragama Islam.

c. Syahwat Sebagai Ilah

Tuhan ketiga yang paling populer pada setiap zaman ialah syahwat (sex). Demi memenuhi keinginan akan sex ini banyak orang yang tega melakukan apa saja yang dia rasa perlu. Orang yang sudah terlanjur mempertuhankan sex tidak akan bisa lagi melihat batas-batas kewajaran, sehingga ia akan melakukan apa saja demi kepuasan sex-nya.

Contoh-contoh dalam sejarah mengenai hal ini cukup banyak, sehingga Allah mewahyukan riwayat yang sangat rinci tentang nabi Yusuf yang telah berjaya menaklukkan godaan sex ini. Nabi Yusuf dipujikan dalam al-Qur’an sebagai seorang yang telah berhasil menentukan pilihan yang tepat ketika dihadapkan dengan alternatif: pilih hidayah iman atau kemerdekaan. Beliau memilih ni’mat Allah yang pertama, yaitu hidayah iman. Dengan mengorbankan kemerdekaannya beliau memilih masuk penjara daripada mengorbankan imannya dengan tunduk kepada godaan keinginan syahwat isteri menteri, majikan beliau.

“Dia (Yusuf) berkata: “Hai Tuhanku! Penjara itu lebih kusukai dari pada mengikuti keinginan (syahwat) mereka, dan jika tidak Engkau jauhkan dari padaku tipu daya mereka, niscaya aku pun akan tergoda oleh mereka, sehingga aku menjadi orang-orang yang jahil.” (Q. 12:33).

Dari ayat ini jelas betapa hebat tekanan sex pada seseorang yang sehat dan masih remaja seperti Yusuf ketika digoda oleh isteri majikan beliau yang cantik jelita, namun dengan tawhid yang mantap beliau tidak sampai terjatuh ke lembah kehinaan.

Sajak “Aku” nya Chairil Anwar yang sudah dikoreksi kiranya dapat dipakai untuk melukiskan pribadi Yusuf AS ini sebagai berikut:

AKU

Bila sampai waktuku
‘Kumau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga ‘kau.
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini hamba Allah
Dari gumpalan darah
Merah
Biar peluru menembus kulitku
‘Ku ‘kan terus mengabdi
Mengabdi dan mengabdi
Hanya kepada-Mu
Ilahi Rabbi

2. Tuhan-tuhan Triple “Ta”

Ketiga macam “tuhan-tuhan” tersebut di atas sebenarnya sangat dekat hubungannya satu sama lain, karena yang satu akan lebih mudah didapat dengan memperalat yang lainnya, sehingga tepat jika dikatakan “trinita tuhan-tuhan” atau “Tuhan-tuhan tiga ta: harta, takhta, dan wanita”. Ketiga “ta” ini adalah tuhan-tandingan yang selalu”disembah manusia dari zaman awal kejadiannya sehingga zaman nanti.

Manusia yang telah memperkembang potensi ‘aqal dan rasanya secara seimbang, sehingga mencapai tingkat minimal yang dikehendaki al-Qur’an akan mampu melihat dengan mata dan hatinya, bahwa ketiga “tuhan” tersebut di atas selain mempunyai sifat “kuasa” dan “menyenangkan” juga bersifat mengikat atau membatasi kemerdekaan manusia.

Manusia dengan tingkat kearifan seperti ini, terutama jika jiwanya telah matang dalam mentawhidkan Allah, bisa juga melihat kenyataan, bahwa tuhan tandingan seperti duit, pangkat, dan syahwat itu memang besar sekali manfaatnya, karena bisa menjamin banyak macam kebutuhan manusia. Namun, ia juga menyadari sepenuhnya, bahwa semua tuhan-tuhan tandingan ini tiada yang mutlak nilai kekuasaan dan pengaruhnya.

Secara sederhana bisa terlihat olehnya di dalam kenyataan hidupnya, bahwa banyak pula hal yang sangat penting bagi kebahagiaan manusia yang sejati tidak mungkin diperoleh dengan duit itu. Walaupun duit bisa membeli makanan yang enak-enak, umpamanya, namun duit tak mungkin membeli selera untuk seseorang yang memang sedang patah seleranya akibat sesuatu penyakit.

Duit memang bisa membeli obat, tapi bukan kesehatan. Duit memang bisa dipakai untuk membeli rumah yang indah bagaikan istana, namun tidak akan mampu membeli kebahagiaan suatu rumah tangga yang sakinah (rukun damai). Duit boleh dipakai untuk membeli buku sebanyak sebuah perpustakaan, namun duit tidak akan bisa membuat si pembeli buku menjadi tahu (‘alim) akan isi buku-buku itu. Duit memang bisa dipakai untuk membeli perhiasan mewah dan permainan, namun ia tak berdaya menjadikan si pembeli cantik dan gembira oleh perhiasan dan permainan itu.

Pendek kata, hampir semua yang menyebabkan manusia bisa berbahagia, dalam arti kata yang sebenarnya, tidak dapat dibeli dengan duit itu. Oleh karena itu, sejarah kemanusiaan selalu membuktikan bahwa kebanyakan orang kaya (harta) mati dalam kesedihan, terutama jika hatinya tetap gelap tanpa sinaran iman.

Sajak di bawah ini sangat tepat menggambarkan kenyataan tersebut

$$$
What money will buy:
A bed but not sleep
Books but not brains
Food but not appetite
Finery but not beauty
A house but not a home
Medicine but not health
Luxuries but not culture
Amusements but not happiness
Religion but not salvation

3. Takhta dan Penyalahgunaannya

Demikian pula halnya orang yang berpangkat tinggi, karena pangkat itu selalu sebanding dengan kekuasaan atau pengaruh. Apabila kekuasaan yang mengiringi pangkat itu tidak seimbang dengan kekuasaan pengawalnya (control), yang biasanya disebabkan oleh terjadinya hubung-singkat antara kepemimpinan politik dengan kepemimpinan militer, akan mudah sekali menyebabkan pemegang pangkat tersebut menjadi musyrik. Dalam sejarah kemanusiaan sering terbukti, bahwa pemimpin yang mengalami hal tersebut akan menganggap pangkat yang diperolehnya adalah prestasi pribadinya semata, maka mulailah ia mempertuhankan dirinya sendiri. Rakyat yang seyogyanya dipimpinnya, serta negara yang dipercayakan kepadanya akan dianggapnya milik pribadinya. Ingatlah kaisar Perancis, Louis ke-XIV, yang berani berkata: “L’etat, c’est Moi” (Negara, itulah Aku). Louis telah menganggap negara sebagai milik pribadinya.

Tokoh yang sangat populer dalam hal ini dari sejarah kuno, sehingga berulang kali diceritakan di dalam al-Qur’an ialah Fir’aun dari Mesir, dan Namrud dari Mesopotamia. Fir’aun, yang oleh kegagahannya dan keberhasilannya dalam menjayakan negeri Mesir semasa Nabi Musa dilahirkan, telah berani menganggap dirinya paling berkuasa. Rakyat, yang pada mulanya terbius oleh kekaguman akan pemimpin hebat ini menerima saja segala tuntutan Fir’aun.

Akhirnya, Fir’aun menobatkan dirinya menjadi tuhan, atau maharaja, pembuat dan penentu hukum, maka semua keinginan dan titahnya menjadi undang-undang kerajaan Mesir ketika itu. Rakyat akhirnya ditindas oleh Fir’aun, yang sudah mulai menganggap dirinya tidak pernah bersalah. Sesuai dengan “penyakit iblis” yang sangat mudah ditularkan itu, maka rakyat Mesir pun mulai menilai diri mereka sebagai manusia yang lebih mulia dari manusia lain, karena asal usul dan darah mereka. Maka dengan sendirinya, jika ada yang lebih mulia tentu ada pula lawannya, yaitu yang kurang derajatnya.

Orang-orang Yahudi, yang dibawa oleh Nabi Yusuf dan para saudaranya, keturunan Nabi Ya’qub ke Mesir beberapa generasi sebelumnya, telah berkembang dengan subur dan makmur di bawah kebijaksanaan pemerintah raja-raja sebelumnya. Maka rasa iri dan hasad yang timbul di kalangan bangsa Mesir asli menyebabkan mereka tega menindas bangsa Yahudi ini.

Segala pekerjaan yang kotor dan berat ditugaskan hanya untuk dilakukan oleh Yahudi. Bahkan mereka dijadikan hamba bangsa Mesir, yang mesti bekerja tanpa upah. Maka bentuk sosial dan ekonomi Mesir pun berubah menjadi masyarakat yang berkelas-kelas. Akhirnya, Fir’aun dengan dukungan rakyat Mesir asli telah mcngangkat dirinya menjadi tuhan (pembuat dan penentu hukum) bagi negeri Mesir.

Allah melahirkan Musa AS di kalangan bangsa Yahudi, yang sedang tertindas itu. Musa sempat mengecap pendidikan tertinggi ketika itu, yaitu dibesarkan dan diasuh di dalam istana Fir’aun sendiri. Ketika Musa, sesudah menerima wahyu, menyatakan kepada Fir’aun, bahwa tuhan satu-satunya yang benar dan paling berkuasa ialah Allah Pencipta seluruh alam, maka Fir’aun dengan bangganya menjawab: “Aku tidak menyangka, bahwa kalian masih punya tuhan selain diriku.” (Q. 28:38).

Pada hakikatnya Fir’aun bukan tidak percaya akan adanya Allah Maha Pencipta langit dan bumi. Ia hanya kejangkitan penyakit, yang sengaja ditularkan oleh iblis, yaitu sombong atau bangga akan keturunan, yang sudah kita kupas dalam bab yang lalu. Fir’aun sebenarnya percaya akan adanya Allah Maha Pencipta, tapi di samping itu ia ingin mempertahankan statusnya sebagai satu-satunya pembuat dan penentu undang-undang (ilah) bagi negeri dan rakyat Mesir, yang sudah berjaya dibangun oleh ayahnya dan dikembangkan olehnya sendiri, dengan menindas dan menghisap darah kaum Yahudi sebagai penyedia tenaga buruh (budak) yang gratis.

Oleh karena itu, konsep TAWHID yang ditawarkan Musa demi menegakkan kembali hak asasi manusia bagi kaum Yahudi ini telah dicemoohkan Fir’aun dan ditolaknya mentah-mentah sampai ia akhirnya ditenggelamkan Allah SWT di laut Merah, ketika sedang mengejar pengungsi Yahudi yang dipimpin Musa AS ini.

Penyakit jiwa yang sama telah dialami juga oleh Namrud ketika ditantang Nabi Ibrahim AS. Namrud juga sempat mengagungkan dirinya sebagai pencipta dan penentu undang-undang, yang bisa dipaksakannya kepada rakyatnya, karena kebetulan rakyat berwatak suka berpikir di dalam bentuk simbol-simbol dan slogan-slogan. Rakyat, yang terdidik berpikir simbolistis dan karenanya mudah percaya kepada tahyul dan klenik ini, diperas oleh Namrud dengan menyediakan patung-patung ciptaan seniman pemahat yang paling unggul, yaitu Azar.

Setiap patung ini menyatakan simbul keagungan bangsa, yang sebenarnya tiada lain melainkan keagungan dan kemegahan (baca: impian) Namrud sendiri. Oleh karena itu, semua patung-patung ini harus diagungkan oleh rakyat dengan menyatakan kepatuhan mereka kepada negara, yang sudah diidentikkan dengan Namrud sendiri. Dengan demikian ia berhasil memakmurkan negerinya dengan memanfa’atkan tenaga rakyat yang murah, sehingga ia bisa menumpuk harta kekayaan yang berlimpah-limpah. Maka tegaklah kekuasaan Namrud yang mutlak, sebagai satu-satunya pembuat dan penentu undang-undang bagi bangsanya.

Allah telah mentaqdirkan Ibrahim AS justru lahir sebagai anak kandung Azar sendiri. Ibrahim AS, sesudah mendapat wahyu dari Allah SWT, mulai mendidik rakyat dengan mendemonstrasikan betapa tidak masuk akalnya penyembahan akan patung-patung yang merupakan simbul keinginan-keinginan Namrud ini. Beliau memenggal kepala patung-patung ini kecuali yang terbesar, dan meletakkan kampak yang dipakainya di tangan patung yang terbesar ini.

Ketika Ibrahim AS diinterogasi di hadapan orang ramai siapa yang memenggal kepala patung-patung itu, maka sambil tersenyum beliau mengatakan: “Kukira si patung besar itu, bukankah di tangannya ada kampak; tanyakanlah kepadanya!” Mendengar jawaban yang cerdik ini rakyat kecil mulai terbuka pikiran mereka, bahwa patung-patung itu sebenarnya tiada berdaya apa-apa, bahkan tak dapat membela dirinya dengan mendustakan tuduhan yang dilemparkan Ibrahim kepadanya. Mereka segera menyatakan: “bukankah dia tidak bisa bicara?”

Tapi justru inilah yang paling ditakuti oleh setiap diktator, yaitu: RAKYAT YANG BISA BERPIKIR DAN BERANI BERBICARA. Maka Namrud merasa rahasia “kesaktiannya”, yang selama ini diagungkan oleh rakyat, akan terbuka, jika dialog antara rakyat –yang sudah mulai berpikir dan berbicara ini– dengan Ibrahim AS diteruskan.

Maka demi menyelamatkan wibawa dan kedudukannya, tanpa memberikan kesempatan akan berlanjutnya dialog antara Ibrahim AS dengan rakyat ini, Namrud segera menjatuhkan hukum dibakar hidup-hidup bagi Ibrahim AS, yang dianggap telah merendahkan wibawa tuhan-tuhan (baca: Namrud dan keluarganya) nan sakti.

Di dalam sejarah kemanusiaan selanjutnya terbukti, bahwa setiap diktator dan maha diraja selalu meletakkan takhtanya di atas segala-galanya. Karena itu nyawa rakyat tidak menjadi perhitungan sama sekali, kecuali jika bersangkutan langsung dengan kelestarian takhta itu. Maka setiap diktator harus mempunyai barisan tentara dan pengawal yang paling kuat serta sangat terlatih dalam menumpas setiap orang yang dianggap akan menyaingi atau menandingi kewibawaannya.

Seorang diktator tidak pernah bisa mentolerir hadirnya penanding wibawanya di dekatnya. Penanding-penanding ini pasti akan disingkirkan atau dimusnahkan sama sekali. Karena itu, ia akan dikelilingi hanya oleh “pendukung-pendukung (penjilat) setia”. Pendukung-pendukung ini biasanya mendapatkan imbalan yang lumayan. Imbalan ini biasanya berbentuk bahagian-bahagian kecil dari takhta (atau wewenang yang terbatas) tadi ditambah dengan jumlah yang lumayan dari dua jenis “tuhan” lainnya (harta dan wanita).

Namun sejarah juga telah berkali-kali membuktikan, bahwa akhirnya setiap diktator itu hancur oleh kekuasaan yang telah dibinanya sendiri. Lihat Hitler, Mussolini, Syah Iran, Marcos, Duvalier, dan lain-lain.

Maka setiap manusia yang ‘arif pasti akan bisa merasakan, bahwa semua “tuhan” yang populer tadi itu bersifat membelenggu serta membatasi kemerdekaannya. Kemerdekaan, yang merupakan ni’mat Allah satu-satunya yang telah membedakan manusia dengan makhluk lainnya ini, sangatlah mahal jika harus dikorbankan demi mendapatkan “tuhan- tuhan” yang sangat relatfp kekuasaannya ini. Kemerdekaan, bagi manusia seperti ini, merupakan nilai dan hak asasi yang paling mahal. Oleh karena itu, setiap orang yang bisa menghargakan serta mensyukuri ni’mat kemerdekaan pasti tidak akan menggadaikannya kupada “tuhan-tuhan” yang tiga tadi, betapapun cemerlang kelihatannya wibawa dan kemegahan yang mengelilingi ketiganya, konon pula kepada tuhan lain yang jauh lebih lemah dan terbatas kemampuannya.

4. Ilham yang Kejam

Ada pula sebahagian manusia, yang mempertuhankan sesuatu yang sebenarnya tiada manfaat baginya, bahkan merusak kesehatan diri dan lingkungannya, tapi ia sudah terlanjur meng-ilah-kan sesuatu ini. Tuhan yang satu ini demikian mencekam pengaruhnya atas diri manusia yang telah menjadi budaknya itu, sehingga seolah-olah tak terlepaskan dari dirinya.

Inilah rokok, ilah yang paling jahat jika sudah mengenai seseorang. Penulis sering memperhatikan orang yang ber-ilah-kan rokok ini. Bagi mereka rokok ini tak terpisahkan sama sekali dari kehidupannya. Ia bisa lupa makan, bahkan tak merasa perlu tidur jika sedang menghadapi sesuatu yang menegangkan, misalnya jika anaknya sakit keras, atau isteri yang sedang kesakitan hendak melahirkan, dan sebagainya. Namun merokok ia teruskan juga, bahkan semakin banyak.

Memang para ahli ilmu jiwa pun mengatakan, bahwa rokok dan minuman keras biasa dipakai sebagai tempat pelarian bagi mereka yang berwatak escapist (melarikan diri dari kenyataan). Jadi bagi orang ini rokok merupakan tempat pelarian dari kenyataan, tempat bergantung ketika sedang tegang menghadapi suatu mas’alah berat. Dengan perkataan lain, rokok menjadi ilah yang paling penting bagi si pencandu rokok. Sungguh suatu ilah yang paling sial, jika kita ketahui, bahwa para ahli kesehatan seluruh dunia sudah menyatakan, bahwa rokok itu bukan saja berbahaya bagi si perokok (penyebab utama penyakit kanker, jantung, dan lain- lain), tapi juga berbahaya bagi orang yang berada di sekitarnya.

Asap yang keluar dari rokok ini mengandung CO (carbon monoxide), yang sangat berbahaya bagi setiap orang, karena selamanya in status nascendi (artinya CO ini senantiasa akan mengambil O2 yang ada di udara untuk membentuk CO2; padahal kita sangat membutuhkan O2 ini untuk pernafasan kita). Syukurlah, sudah semakin banyak ‘ulama yang menyadari hal ini, sehingga mereka sudah mulai sepakat menyatakan, bahwa rokok itu termasuk sesuatu yang diharamkan. Di dalam sidang para ‘ulama di awal abad kedua puluh ini, mereka hanya memutuskan, bahwa rokok itu makruh, karena kebanyakan yang hadir ketika itu sudah kecanduan merokok. Padahal jika kita ikuti logika yang kita uraikan di atas, maka para perokok itu tidak bisa lain melainkan musyrik yang paling konyol.

5. Tawhid Seorang Muslim

Dengan bertuhan hanya kepada Allah SWT, yang kekuasaan-Nya memang muthlak dan benar-benar nyata, pada hakikatnya manusia akan mampu mcni’mati tingkat kemedekaan yang paling tinggi, yang mungkin tercapai oleh manusia. Inilah yang dituju oleh setiap Muslim di dalam hidupnya. Setiap Muslim yang betul-betul beriman adalah manusia yang paling bebas dari segala macam bentuk keterikatan, kecuali keterikatan yang datang dari Allah Penciptanya. Ia menghargakan kemerdekaan itu sedemikian tingginya sehingga tanpa ragu-ragu, jika perlu, ia siap mengorbankan hidupnya sendiri demi mempertahankan kemerdekaan itu. Jika hal ini terjadi, maka ia akan mendapat kehormatan yang paling tinggi dari Allah sendiri. Demikian rupa tinggi kehormatan itu, sehingga ummat Islam dilarang Allah mengatakan orang ini mati, jika ia gugur di dalam mempertahankan haknya ini. Karena walaupun tubuhnya sudah menjadi mayat, namun dalam penilaian Allah SWT orang ini tetap hidup. Apanyakah yanghidup? Tiada lain melainkan KEMANUSIAAN-nya. Bukankah sudah diterangkan di atas, bahwa nilai kemanusiaan seseorang itu sebanding dengan kemerdekaan yang dihayatinya.

Kalau seseorang telah gugur dalam mempertahankan kemerdekaannya, maka pada hakikatnya ia telah mempertahankan nilai kemanusiaannya yang sempurna, karena ia telah meletakkan hak kemerdekaannya, dus kemanusiaannya, lebih penting dari kehidupan jasmaninya. Apalah arti kehidupan jasmaniah jika nilai kemanusiaan sudah tiada. Apalah artinya kehidupan jasmani melulu, jika telah hampa akan nilai kemanusiaan yang mulia. Bukankah kehidupan hampa seperti ini oleh pepatah bangsa kita dinamakan: “bak hidup bercermin bangkai .?” Bunyi pepatah ini selengkapnya ialah: “Lebih baik mati berkalang tanah dari pada hidup bercermin bangkai”. Jelas sekali bahwa nilai Islam telah lama meresap ke dalam jiwa bangsa kita, sehingga pepatah kuno ini telah bernafaskan tawhid.

Kemerdekaanlah satu-satunya nilai, yang telah ditaqdirkan Allah berfungsi untuk membedakan manusia dengan makhluk Allah yang lainnya. Sungguhlah kehidupan orang yang tidak menghayati kemerdekaan, pada hakikatnya telah menempatkan kehadirannya di dunia yang fana ini serba salah. Dikatakan manusia ia tidak punya nilai kemanusiaan (kemerdekaan), dikatakan bukan manusia tubuh dan bentuknya menggambarkan dia tepat seperti manusia.

Oleh karena itulah, maka mereka yang telah berani membayar nilai kemerdekaannya dengan mengorbankan kelangsungan hidup jasmaniahnya dinilai Allah lebih hidup dari mereka yang sekadar “bercermin bangkai” tadi. Di dalam al-Qur’an mereka yang telah gugur karena mempertahankan kemerdekaannya ini dinamakan “syahid”, karena ia telah berani menjadi “saksi” akan kebenaran ajaran Allah SWT, yang mengatakan bahwa nilai kemanusiaan, yang pada hakikatnya abadi itu lebih penting dari kehidupan jasmaniah yang temporer (sementara atau fana) ini. Allah melarang ummat Islam mengatakan mereka mati, karena pada hakikatnya mereka itu hidup. Apanyakah yang masih hidup, padahal batang tubuhnya sudah tergeletak tak bergerak lagi? Mereka tetap hidup di dalam nilai kemanusiaannya (kemerdekaannya) yang abadi. Dalam ayat Allah SWT dikatakan: “Jangan engkau katakan mereka yang telah terbunuh dalam jalan Allah itu mati, karena sesungguhnya mereka itu hidup, tapi engkau tiada mengerti”. (Q. 2:154)

Kehidupan yang berma’na ialah kehidupan yang bebas dari segala macam keterikatan yang tak perlu. Namun bebas sepenuhnya tidaklah mungkin bagi setiap manusia. Sebagaimana telah diterangkan di atas, bahwa setiap orang mesti memerlukan sesuatu yang dipentingkannya. Oleh karena sifat asli manusia itu haniif (cenderung kepada kebaikan/kebenaran), maka sesuatu yang dipentingkan oleh manusia itu senantiasa berupa sesuatu, yang menurut penilaiannya baik/benar. Dengan demikian maka dapat difahami, bahwa yang dipertuhankan manusia itu biasanya sesuatu yang menurut dia benar/baik.

Jadi, tuhan itu selamanya merupakan suatu kebenaran atau kebaikan bagi yang mempertuhankannya, walaupun relatif atau sementara. Di dalam pengalamannya manusia merasa terikat akan tuhan-tuhan ini sebelum tuhan-tuhan ini diperolehnya. Misalnya, orang yang bersedia bekerja keras belajar sampai kurang tidur, bahkan terlupa makan sebelum menempuh ujian untuk mendapatkan ijazah tertentu. Pada saat itu ijazah inilah yang menjadi tuhannya, karena ijazah ini telah mengatur irama hidupnya. Namun setelah ijazah berada di tangan, maka kcpcntingannya dan nilainya segera jatuh menjadi hampir nol.

Dari contoh ini ternyata bahwa ketuhanan ijazah ini sangat relatif. Ia mencapai nilainya yang tertinggi pada saat menjelang ia akan diperoleh. Sesudah diperoleh, maka nilainya jatuh menjadi hampir kosong. Contoh-contoh lain bisa terlihat dengan mudah di dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ketika ia sudah mendapat ijazah yang dipentingkannya sebelumnya, maka ia mulai memikirkan bagaimana mendapatkan teman hidup atau isteri. Maka jika ia menemukan seorang gadis yang diingininya, maka ia mulai mencintai dan merindukan gadis itu. Kemanapun ia pergi dan dalam keadaan bagaimanapun ia tetap mengenang gadis kekasihnya ini.

Maka gadis inipun mulai mempengaruhi, bahkan kadang kala turut mengatur irama hidupnya. Dengan lain perkataan, gadis ini berubah menjadi tuhannya. Tingat ketuhanan gadis ini pun meningkat menjelang hari perkawinan mereka sampai kira-kira beberapa hari atau beberapa minggu setelah perkawinan itu terjadi. Sesudah itu nilai “ketuhanan” wanita ini biasanya akan menurun juga. Banyak pula pasangan suami isteri telah mulai bertengkar sebelum bulan madu mereka selesai dijalani, bahkan sampai bercerai.

Manusia memang selalu berpindah dari tuhan yang satu ke tuhan yang lain. Ketika manusia sedang lapar, maka makananlah yang mudah menjadi tuhan. Ketika sakit orang akan mempertuhankan kesehatan, walaupun ketika ia sedang sehat hampir tidak pernah menghargai kesehatan yang sedang dialaminya.

Walaupun demikian, manusia tidak mungkin mengatakan: “tidak ada tuhan”, karena mengatakan: “tidak ada tuhan”, samalah dengan mengatakan “tidak ada kebenaran”. Sedangkan mengatakan “tidak ada kebenaran” sama dengan mengatakan “semuanya salah”. Kalau semuanya salah, maka kalimat “semuanya salah” itu pun salah pula. Jadi, kalimat “tidak ada tuhan” itu menafikan dirinya sendiri.

Dari rangkaian logika ini terbukti bahwa kita tak mungkin mengatakan “tidak ada tuhan”, walaupun di dalam kenyataannya, sebagaimana diuraikan dalam alinea di atas, bahwa tuhan-tuhan yang dipentingkan manusia itu sangat relatif nilainya, dan sangat tergantung kepada posisi manusia yang bersangkutan terhadapnya. Itulah kiranya alasan mengapa al-Qur’an tidak punya istilah yang artinya identik (sama benar) dengan “atheist” atau “atheisme” (faham yang menafikan adanya tuhan).

Kalimat “tidak ada tuhan” ini tidak mungkin berdiri sendiri. Kalimat itu tidak logis atau tidak dapat diterima aqal atau nonsense alias tidak bermakna. Kalimat itu hanya bisa bermakna jika ia tidak diakhiri dengan titik. Jika kalimat “tidak ada tuhan” ini diakhiri dengan koma dan ditambah menjadi “tidak ada tuhan, kecuali X”, maka X menjadi satu-satunya Tuhan yang berbeda sifat dan posisinya terhadap tuhan-tuhan lainnya. Ia mau tak mau mestilah mutlak, tidak lagi relatif seperti tuhan-tuhan yang lain itu.

Karena mutlak, maka Ia mestilah unique. Kalau Ia unique, maka mestilah pula Ia berbeda dengan segala yang mungkin terpikirkan dan terbayangkan oleh manusia, walau apapun yang dinamakan X ini. Di dalam ajaran Islam X inilah yang dinamakan Allah. Perkataan Allah di dalam bahasa ‘Arab sudah ada sebelum lahirnya Muhammad SAW. Allah dalam bahasa ‘Arab merupakan satu-satunya kata benda (isim atau noun) yang tak punya jama’. Sedangkan kata ilahun punya “ilaahaini” (dua ilah) dan “alihatun” (tiga atau lebih ilah).

Maka ucapan “Laa ilaaha illa Allah” yang berarti “Tiada tuhan kecuali Allah” merupakan deklarasi kemerdekaan yang paling tinggi (The ultimate declaration of independence), tapi masih mungkin dicapai oleh setiap manusia. Deklarasi inilah yang membebaskan setiap manusia, yang mampu menghayatinya dengan istiqaamah (consistent), dari segala macam bentuk perbudakan dan penjajahan, termasuk penjajahan hawa nafsunya sendiri. Manusia yang menghayati deklarasi ini dengan istiqaamah adalah manusia yang paling sempurna nilai kemanusiaannya. Dalam istilah Islam manusia seperti ini dinamai “insan kamiil” atau insan sempurna. Barangkali pribadi seperti ini pulalah yang dimaksud dengan istilah “manusia seutuhnya” oleh GBHN kita.

Seorang yang telah mampu mencapai tingkat tawhid yang istiqaamah, maka seluruh irama hidupnya diatur oleh kehendak Allah SWT. Rasa lapar baginya merupakan cara Allah berkomunikasi dengan dia. Rasa lapar, yang tiada lain dari pada salah satu instinct, di dalam al-Qur’an dipakai istilah “wahyu”, walaupun mestinya tidak sama dengan tingkat wahyu yang diterima para nabi dan rasul, Lihat (Q. 16:68). Maka rasa lapar ini diartikan manusia yang bertawhid sebagai signal (wahyu) dari Allah agar ia makan demi mempertahankan kelangsungan hidupnya untuk berbakti (mengabdi) kepada Allah. Oleh karena itu, makan baginya bukan sekadar mengatasi rasa lapar, tetapi demi memenuhi perintah Allah, maka pasti akan dimulainya dengan membaca basmallah.

RasuluLlah telah menyatakan, bahwa orang yang makan dengan cara ini dinilai telah melakukan ‘ibadah. Demikian pula dengan aktivitas lain. Misalnya, jika ia belajar bukanlah karena ingin mendapat gelar sarjana. Ia belajar karena mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya yang telah mewajibkan setiap Muslim dan Muslimat untuk belajar. Maka jiwa tawhid akan merupakan motivator utama baginya untuk bekerja keras dalam menyelesaikan studinya itu, karena belajar itu dirasakannya sama dengan ‘ibadah lain yang akan mendapat ganjaran dari Allah SWT di dunia dan di akhirat nanti.

Dengan demikian, maka seorang yang istiqaamah dalam tawhidnya merasakan seluruh hidup dan kegiatan hidupnya tiada lain melainkan ‘ibadah yang kontinyu kepada Allah SWT. Manusia seperti ini pasti akan mempunyai sikap dan akhlaq yang lain dari manusia biasa. Ia punya rasa tanggungjawab yang sangat tinggi, jujur, amanah, kreatif, dan berani mengambil resiko, optimis terhadap masa depan, disamping tawakkal ‘ala Allah dalam melakukan setiap tugas yang berupa tantangan bagi kemampuan dirinya.’


Kuliah Tauhid
Ir. Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim M.Sc.
Diterbitkan oleh Pustaka-Perpustakaan Salman ITB
Bandung, 1400H, 1980
Cetakan 1, 1979, dan cetakan 2 1980
(Muhammad ‘Imaduddin ‘AbdulRahim Ph.D., KULIAH TAWHID, Yayasan Pembina Sari Insan (YAASIN), Jakarta, 1993)
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: