RSS

Menjawab Gugatan Soal Kisah Burung Ababil

oal Pasukan gajah

Peristiwa “burung ababil” ini terjadi waktu kelahiran muhammad, bukan setelah muhammad menjadi nabi. Ada bbrp teori, ada yg mengatakan itu hujan meteor. Ada yg mengatakan itu wabah penyakit.

Muslim menjawab :

lho.. bukannya yang anda tuntut adalah eksistensi Allah swt?

apa alasan anda kalau bukti berasal dari waktu sebelum Muhammad saw menjadi nabi

Antek FFI menggugat

Nih postingan seorang muslim:
http://www.indonesia.faithfreedom.org/oldforum/viewtopic.php?p=67449&sid=353745a596e65b1b03fa297882c0e9f1
Demikian pula virus dahsyat yang dibawa oleh serangga Ababil hanya menghancur luluhkan pasukan Abrahah. Dalam riwayat, Abu Thalib, kakek Nabi yang menyaksikan bencana itu tidak ikut korban dalam bencana itu.

Muslim menjawab :

terima-kasih anda memberikan link tersebut.

akan saya copy postingannya

bukankah apa yang disampaikan tersebut justru memperkuat bukti tentang eksistensi Allah swt ?

posingan netter Muslim yang anda referensikan :

Rasulullah bersabda:

“Umatku ini dirahmati Allah dan tidak akan disiksa di akhirat.
Namun, siksaan terhadap mereka di dunia berupa fitnah-fitnah, gempa bumi, peperangan, dan berbagai musibah.” (HR. Abu Dawud).

Manusia, alam, dan bencana

Di dalam Alquran, ketiga istilah tersebut dapat dibedakan. Azab lebih banyak digunakan untuk menyatakan siksaan dan hukuman Tuhan terhadap para pendosa dan orang-orang yang melampaui batas. Azab hanya ditujukan kepada para pendosa, sedangkan orang yang baik-baik luput dari azab itu. Sedangkan musibah dan bala lebih banyak digunakan untuk menyatakan ujian dan penderitaan kepada orang-orang, baik kepada para pendosa maupun kepada orang yang baik-baik. Perbedaan antara musibah dan bala hanya terletak pada skalanya. Musibah skalanya lebih besar dan lebih luas, sedangkan bala skalanya lebih terbatas dan umumnya bersifat personal. Sebab musabab musibah terkadang sulit dijelaskan karena lebih banyak bersifat makro dan akumulatif, sedangkan bala lebih banyak bersifat mikro dan kasuistik, misalnya kecerobohan seseorang berpotensi mendatangkan bala.

Dalam beberapa kasus memang agak sulit dipetakan secara skematis. Perilaku menyimpang dan dan perbuatan melampaui batas manusia sebagai makhluk mikrokosmos seringkali berbanding lurus dengan perilaku ganas alam raya sebagai makhluk makrokosmos. Alam raya memang telah ditundukkan (taskhir) untuk mengabdi kepada kepentingan manusia sebagai khalifah di bumi (khalaif al-ardl), akan tetapi alam raya sepertinya memberi syarat sepanjang manusia menjadi khalifah yang baik dan benar. Kapan manusia tidak lagi bersahabat dengan alam, bahkan merusaknya, maka alam pun tidak akan bersahabat, bahkan tidak segan-segan ”menghukum” sendiri manusia itu.

Hubungan dialektis antara makhluk mikrokosmos dan makhluk makrokosmos banyak diuraikan di dalam Alquran. Antara lain misalnya hujan yang tadinya pembawa rahmat (QS al-An’am/6:99), tiba-tiba menjadi sumber malapetaka banjir yang memusnahkan areal kehidupan (QS al-Baqarah/2:59). Gunung-gunung yang tadinya sebagai pasak bumi (QS al-Naba’/78:7), tiba-tiba memuntahkan debu, lahar panas, dan gas beracun (QS al-Mursalat/77:10).

Angin yang tadinya mendistribusi awan (QS al-Baqarah/2:164) dan menyebabkan penyerbukan dalam dunia tumbuh-tumbuhan (Q.S. al-Kahfi/18:45), tiba-tiba tampil begitu ganas memorak-porandakan segala sesuatu yang dilalewatinya (QS Fushshilat/41:16). Laut yang tadinya begitu pasrah melayani mobilitas manusia (QS al-Haj/22:65), tiba-tiba mengamuk dan menggulung apa saja yang dilaluinya (QS al-Takwin/81:6). Kilat dan guntur tadinya menjalankan fungsi positifnya, melakukan proses nitrifikasi (nitrification process) untuk kehidupan makhluk biologis di bumi (QS al-Ra’d/13:12), tiba-tiba menonjolkan fungsi negatifnya, menetaskan larva-larva betina (telur hama) yang kemudian memusnahkan berbagai tanaman para petani (QS al-Ra’d/13:12). Disparitas flora dan fauna tadinya tumbuh seimbang mengikuti hukum-hukum ekosistem (QS al-Ra’d/13:4), tiba-tiba tumbuh dan berkembang menyalahi keseimbangan dan pertumbuhan deret ukur kebutuhan manusia (QS al-A’raf/7:132).

Azab, mushibah, dan bala dalam Alquran memang ada. Azab yang merupakan siksaan yang ditujukan kepada umat-umat terdahulu yang melampaui batas, seperti umat Nabi Nuh yang keras kepala dan diwarnai berbagai kedlaliman (QS al-Najm/53:52), dihancurkan dengan banjir besar dan mungkin gelombang tsunami pertama dalam sejarah umat manusia (QS Hud/11:40); umat Nabi Syu’aib yang penuh dengan korupsi dan kecurangan (QS al-A’raf/7:85; QS Hud/11:84-85) dihancurkan dengan gempa yang menggelegar dan mematikan (QS Hud/11/94); umat Nabi Shaleh yang kufur dan dilanda hedonisme dan cinta dunia yang berlebihan (QS Al-Syu’ara’/26:146-149) dimusnahkan dengan keganasan virus yang mewabah dan gempa (QS Hud/11:67-6Cool.

Umat Nabi Luth yang dilanda kemaksiatan dan penyimpangan seksual (QS Hud/11:78-79) dihancurkan dengan gempa bumi dahsyat (QS Hud/11:82); penguasa Yaman, Raja Abraha, yang berusaha mengambil alih Ka’bah sebagai bagian dari ambisinya untuk memonopoli segala sumber ekonomi, juga dihancurkan dengan cara mengenaskan sebagaimana dilukiskan dalam surah Al-Fil (QS al-Fil/105:1-5).

Cara kerja azab Tuhan di dalam Alquran hanya menimpa kaum yang durhaka dan tidak menimpa atau mencederai orang-orang yang shaleh dan taat pada Tuhan. Sedangkan cara kerja mushibah dan bala tidak membedakan satu sama lainnya. Contoh adzab misalnya Nabi Nuh dan orang-orang taat yang menyertainya selamat dari terpaan banjir besar. Nabi Syu’aib dan pengikut setianya selamat dari amukan gempa yang menggelegar. Nabi Shaleh dan segelintir pengikut setianya selamat dari serangan wabah virus yang mematikan secara massal itu. Nabi Luth dan pengikut setianya juga terbebas dari bencana alam yang mengerikan itu. Demikian pula virus dahsyat yang dibawa oleh serangga Ababil hanya menghancur luluhkan pasukan Abrahah. Dalam riwayat, Abu Thalib, kakek Nabi yang menyaksikan bencana itu tidak ikut korban dalam bencana itu.

Bentuk azab yang pernah menimpa umat terdahulu antara lain: 1) banjir besar (mungkin ini gelombang tsunami pertama) seperti yang ditimpakan pada umat Nabi Nuh; 2) bencana alam dahsyat berupa suara yang menggemuruh seperti yang ditimpakan kepada umat Nabi Syu’aib; 3) tanah longsor dahsyat seperti yang ditimpakan kepada umat Nabi Luth; 4) Virus hewan yang menular kepada manusia secara mengerikan, seperti yang menimpa umat Nabi Shaleh. Menurut Prof Opitz, seorang ahli sejarah penyakit, kemungkinan virus ini virus anthrax karena gejalanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits, hari pertama warna kulit mereka berwarna kuning, hari kedua berwarna merah, mungkin karena terjadi pendarahan yang hebat sehingga pori-pori mengeluarkan darah, dan hari ketiga berwarna hitam, mungkin karena empedu pecah dan seluruh cairan dalam tubuh berwarna hitam. Ujung hari ketiga virus ini bekerja pada sistem saraf termasuk sistem pendengaran, maka mereka mati bergelimpangan seperti mendengarkan suara yang amat keras.

Azab lain berbentuk bakteri yang mematikan dibawa oleh serangga sebagaimana ditujukan kepada umat pasukan Abrahah. Dalam Tafsir Al-Manar karya Muhammad Abduh, kata thair dalam surah al-Fil diartikan dengan serangga yang membawa virus dan kata al-hijarah min sijjil diartikan semacam zat yang mematikan. Cara kerja virus ini menurut Prof Opitz agak mirip dengan virus Ebola yang mengenaskan itu. Azab Tuhan sulit dipredeksi dan tidak akan pernah bisa ditangkal oleh kekuatan manusia. Sedangkan musibah dan bala ada kemungkinan untuk diprediksi dan diupayakan penangkalnya, antara lain dengan bentuk doa sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW.

Ringkasnya, tsunami, gempa bumi, dan berbagai macam bencana lainnya sudah dijelaskan dalam Alquran. Tidak ada yang aneh di dunia ini jika kita benar-benar beriman kepada Alquran. Semuanya akan binasa. Tunggu saja waktunya akan datang tiba-tiba!

Antek FFI menggugat :

Quote:
Nih keberatan seorang murtadin:
http://www.islam-watch.org/MuminSalih/My-Story-with-Quran-Losing-Religion.htm
Penggunaan kata2 aneh tidak hanya terjadi karena huruf2 digabungkan tanpa aturan saja; Qur’an sendiri ternyata memasukkan kata2 asing tanpa aturan pula sebagai bentuk praktek sihir. Jika kita lihat buku2 tafsir Qur’an tentang kata2 ababil (Q 105:3), sijjil (105:4), gheslin (69:36) dan lusinan kata2 lainnya, maka kita temukan bahwa kata2 itu tidak berarti jelas apapun, dan ini merupakan tanda bahwa kata2 itu pun dulu tidak jelas artinya bagi orang2 Arab jaman dulu (abad ke-7 M). Muhammad mungkin menggunakan kata2 itu agar orang terpesona. Para penyihir Arab memang sering menggunakan kata2 asing atau huruf2 yang didistorsi atau bahkan menciptakan huruf baru yang tiada artinya sama sekali untuk mempesona penonton yang bodoh dan mudah tertipu.Kalo emang allah swt mampu menjaga kabah dengan mengirimkan burung ababil, kenapa kabah 2x dihancurkan?

Muslim menjawab :

apakah yang keberatan merupakan saksi mata peristiwa itu, atau yang keberatan bukan saksimata tetapi orang yang hidup ratusan tahun sesudahnya?

dalam surat tersebut jelas mengingatkan kepada orang Arab saat itu tentang kejadian tersebut…

apakah anda bisa menunjukan bukti ada orang Arab yang hidup sejaman itu keberatan / menganggap ayat tersebut tidak jelas?

kalau keberatannya karena jauh sesudah itu Ka’bah pernah dihancurkan kenapa anda tidak berfikir juga bagaimana Tuhan menunjukan kekuasaanya melindungi para utusannya, sebagai contoh Musa yang mampu lolos dari kejaran Fir’aun karena diberi mukijizat bisa membelah laut…

tetapi bagaimana para nabi sesudahnya?

apakah Allah selalu melindungi / menyelamatkan Nabinya?
atau banyak para nabi yang terbunuh oleh para musuhnya..

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: