RSS

SEJARAH DAN KEASLIAN AL-QUR’AN BAG.3

Mushaf ‘Utsmany.

Pelayanan para sahabat terhadap al-Qur’an pada masa Utsman adalah upaya yang jenius dan kita harus bersyukur karenanya. Sejak itu pintu bagi upaya perubahan atas wahyu lebih tertutup rapat, jutaan Muslim di segenap penjuru dunia kini dapat dengan tenang mengaji dan mempelajari al-Qur’an dengan bahasa yang sama (bahasa Arab); tulisan yang sama, huruf perhuruf, ayat perayat, surat persurat; maka ketika seorang Muslim Indonesia mengutip satu ayat, Muslim lain di penjuru dunia tidak akan mempertanyakan kutipan ayat tersebut, sebab mereka juga membaca ayat yang sama persis. Kutipan ayat sejak masa awal diturunkan hingga hari ini juga tidak akan didebat oleh siapapun karena tetap sama, tidak ada perubahan atau pun perbaikan. Kebersamaan itu terwujud menembus ruang dan waktu, bukankah itu suatu keistimewaan tersendiri bagi umat Islam.

Al-Qur’an yang dipakai oleh Muslim Syi’ah pun menggunakan Rasm Uthmani seperti yang dituturkan Nurcholish Madjid ketika mengutip penjelasan yang dimuat di dalam beberapa mushaf terbitan Iran, kutipan tersebut seperti berikut :

(Ini adalah al-Qur’an) dengan penulisan yang sangat bagus dan jelas, yang diambil berasal dari cara penulisan (rasm al-khathth) al-Qur’an yang asli dan tua yang dikenal dengan sebutan rasm al-mushhaf atau rasm ‘Utsmani. Dan cara baca (qiraat)-nya berasal dari yang paling mu’tabar (absah), dari riwayat Hafsh dan Ashim, yan,g dari jurusan lain juga berasal dari Amir al-Mu’minin Ali (as.) dan dari jalan ini berasal dari pribadi Nabi yang mulia (s.a.w). Dalam memberi nomor ayat diambil berasal dari riwayat Abd Allah ibn Habib al­Sullami, dari Imam Ali ibn Abi Thalib (as), sehingga jumlah ayat itu ialah 6236 ayat. 48

Mushaf Imam Ali yang masih ada di Iran, disikapi dengan sangat bijak oleh Muslim Syiah dengan tetap menggunakan rasm Uthmani. Sehingga kreatifitas Ali bisa menjadi rujukan turunnya

surat secara kronologis, yang tentunya sangat berguna dalam arkeologi pemikiran keagamaan, tanpa mengubah susunan yang ada. Susunan yang sudah dihafal sejak masa awal ini menggambarkan cara penyajian sebuah teks yang agung.

Mushaf Uthmani yang dikirim ke beberapa wilayah Islam pada masa khalifah Utsman salah satunya kini masih ada di Tashkent Uzbekistan, seperti yang tampak pada foto di atas. Mushhaf tersebut disimpan oleh “The Muslim Board of Uzbekistan’; sebuah lembaga Islam Uzbekistan yang berdomisili di 103, Zarkaynar street, 700002, Tashkent, Uzbekistan, Telpon: (7+3712) 40.08.41/40.39.33. Mushaf ini menjadi milik dan kebanggaan Uzbekistan, dan perawatannya selain oleh lembaga di atas juga oleh Komite Keagamaan pemerintah Uzbekistan.

Mushaf Utsman ini ditulis di atas kulit, dengan ukuran 53 x 62 cm, setebal ± 250 halaman, dan ditulis dengan khat Kufi. 50 halaman dari manuskrip ini ditemukan berada di tangan colektor di London 2 abad yang lalu. Sedang manuskrip Mushaf Utsman yang lain berada di Sana’a dan di Kairo.

Tentang Mushaf Utsman yang berada di Tashkent menurut riwayat yang berkembang di daerah tersebut, terdapat dua versi tentang masuknya Mushaf tersebut dari tempat penulisannya di Madinah.

Versi I: Kerabat dari Khalifah Utsman membawa al­-Qur’an tersebut ke Maverannahr (Maa waraa’a an-nahr) saat terjadi fitnah dalam pemerintahannya di Madinah.

Versi II: Ali bin Abi Thalib membawa Mushaf tersebut ke Kufa, dari sana Amir Taimur membawanya ke Samarkand saat kembali dari penyerangan ke Irak.

Pada tahun 1868 Mushaf Utsman ini dikirim ke Imperium Rusia oleh Jendral Von Kaufman dan disimpan di Perpustakaan Umum di St. Petersburg. Setelah revolusi Oktober 1917 kaum Muslim Kazan membawa kembali Mushaf tersebut ke daerah mereka. Perselisihan seringkali terjadi antara Muslim Kazan dan Muslim Uzbekistan. Akibatnya, manuskrip tersebut dikembalikan ke Tashkent 1924. Disimpan di musium sejarah hingga tahun 1989, hingga akhirnya diberikan kepada Majlis Muslim Uzbekistan.49

Catatan

Ibarat sebuah kue, al-Qur’an telah dinikmati oleh umat Muslim sejak diturunkan hingga hari ini, sementara umat lain sibuk memperkarakan dari mana asalnya. Al-Qur’an tak henti­ hentinya dikaji oleh umatnya (kini bahkan orientalis semakin banyak yang mengkaji al-Qur’an), dan para penentangnya juga tidak pernah berhenti menghujat. Kini, tinggal bagaimana sikap kita sebagai umat yang di amanati al-Qur’an. Amat disayangkan jika umat Muslim ikut sibuk memperkarakan resep dan pembuamya, padahal kue di atas perjamuan tersebut belum juga habis dan tidak akan habis, apalagi kadaluarsa. Isyarat-isyarat di dalamnya selalu aktual, isyarat yang 14 abad lalu belum dipahami oleh umat Muslim kini berkat kemajuan teknologi dapat mereka saksikan maknanya, tidak hanya memahaminya.

Berkat usaha para sahabat Rasulullah yang melakukan standarisasi al-Qur’an umat Muslim lebih menekankan pada penggalian kandungan al-Qur’an ketimbang memperdebatkan Sejarah penulisannya. Perbedaan pendapat dikalangan umat Muslim dalam kajian ulum al-Qur’an lebih baik kita pahami sebagai kekayaan khazanah intelektual. Coba bayangkan kalau banyak versi al-Qur’an, masing-masing saling mengunggulkan kebenarannya sendiri sementara yang diperdebatkan belum habis dikaji. Standarisasi yang dilakukan oleh Uthman di setujui oleh para sahabat. Imam Ali yang juga menulis mushaf (pribadi) memuji tindakan yang diambil oleh sahabat Uthman. Apakah mungkin para sahabat yang sangat jujur, kritis, pemalu (seperti Uthman) melakukan kebohongan publik ? Khalifah Uthman sendiri yang oleh Dr. Robert Morey disudutkan bahkan pada masalah pribadi beliau adalah salah satu sahabat yang oleh Rasulullah disebut sebagai salah satu penghuni surga -selain sembilan lainnya-.

Ide penulisan ulang al-Qur’an sesuai kehendak masyarakat modern, yang justru keluar dari kalangan Muslim, adalah upaya membangun hotel ditengah danau. Kenapa tidak membangun hotel disamping danau, sehingga banyak orang yang menikmati dan mungkin mengikuti. Ulama’ terdahulu sudah mencontohkan pembangunan hotel berbentuk tafsir, asbab an-Nuzul, i’rab al­Qur’an dan lain-lainnya yang terhitung. Hotel-hotel itu tidak pernah kosong, hingga saat ini masih banyak yang datang mengkajinya, bahkan direnovasi dengan bermacam-macam bahasa. Suatu saat nanti kita hanya ditanya seberapa banyak yang sudah kita amalkan dari ajaran itu.

Penyudutan orientalis sefiacam Dr. Robert Morey terhadap al-Qur’an tidak lepas dari tradisi Kristen dalam memandang Bibel yang hanya disebut sebagai “karangan”, kita bisa melihat langsung di Bibel bagaimana masing-masing Injil diberi judul “Karangan”. Hal itu sangat dimaklumi karena Bibel (Taurat dan Injil) sampai ketangan mereka setelah banyak peralihan bahasa dan yang terakhir adalah berbahasa Latin Romawi. Dari sisi materipun banyak ajaran yang tidak mungkin dipakai. Bagaimana mungkin sebuah kitab suci melecehkan ‘tuhan’ dan nabinya sendiri, belum lagi ayat-ayat porno. Itulah sebabnya tidak heran jika banyak dari mereka yang jujur, menyatakan bahwa ajaran yang sebenarnya dari Nabi Isa As. telah diturunkan Allah melalui Nabi Muhammad Saw.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: