RSS

Ismail atau Ishak yang dikurbankan : Versi Islam dan Kristen

Pendahuluan

Topik yang akan dibahas dalam artikel ini adalah untuk mencari kebenaran, siapakah yang dikurbankan oleh Ibrahim (Abraham). Ismail (Ismael) atau Ishak (Ishaq) ? Pada artikel ini, pertama-tama saya akan memberikan penjelasan yang ada di al-Qur’an dan hadits, setelah itu, barulah kita membahas apa yang dijelaskan oleh Bible (Taurat kitab Kejadian).

Kisah kurban dalam QS Ash Shaaffaat 100-113

QS Ash Shaaffaat 100-113

100. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.
101. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.
102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
103. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).
104. Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,
105. sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
107. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
108. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,
109. (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.”
110. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
111. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
112. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.
113. Kami limpahkan keberkatan atasnya (Ismail) dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.

Tafsir
Nabi Ibrahim berdoa agar Tuhan menganugerahinya anak. Doa nya adalah :

Robbi hablii minashshoolihiin
(Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh).

Lalu Tuhan berfirman :
Fabasysyarnaahu bighulaamin haliim
(Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar).

Kedewasaan anak Ibrahim itu dapat dimengerti dari disifatinya dia sebagai seorang yang halim, yakni sikap lapang dada, kesabaran yang baik, dan ketidakliaran dalam segala hal.

Dan anak ini adalah Ismail, karena Ismail adalah anak pertama yang diberitakan kepada Ibrahim sebagai kabar gembira. Dia lebih tua daripada Ishak. Demikian menurut kesepakatan ulama Muslim dan kalangan Ahlulkitab (Yahudi dan Nasrani). Bahkan dalam Taurat mereka dinyatakan bahwa Ismail dilahirkan ketika Ibrahim berusia 86 tahun, sedangkan Ishak lahir dikala Ibrahim berumur 100 tahun.

Memang kesabaran manakah seperti kesabaran Ismail karena di kala ia hampir dewasa, ayahnya datang kepadanya dan hendak menyembelihnya. Namun Ismail justru berkata :

Satajidunii insyaa Alloohu minashshoobiriin.
(Engkau akan mendapatiku, insya Allah termasuk orang-orang yang sabar).

Dan memang benar Ismail menepati janjinya, dan melaksanakan dengan baik dan patuh dalam menunaikan apa yang diperintahkan kepadanya. Oleh sebab itu, Allah SWT berfirman dalam QS Maryam ayat 54 tentang Ismail :

Wadzkurfilkitaabi ismaa’iila innahukaana shoodiqolwadi wa kaana roosuulannabiyyaa
(Dan ceritakanlah kisah Ismail di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi)

Kemudian Allah menceritakan jalannya pelaksanaan kisah itu. Firman-Nya :
Falammaa aslamaa watallahuliljabiin
(Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). )

Dan tatkala kedua orang itu berserah diri dan tunduk kepada perintah Allah dan menyerahkan segala urusan kepada Allah, tentang qadha dan qadarnya, dan Ibrahim telah menelungkupkan wajah anaknya dengan memberi isyarat kepadanya, sehingga dia tidak melihat wajah anaknya itu yang bisa mengakibatkan rasa kasihan kepadanya.

Diriwayatkan dari Mujahid, bahwa Ismail kepada kepada ayahnya, “Janganlah engkau menyembelihku sedang engkau melihat kepada wajahku. Boleh jadi engkau kasihan kepadaku, sehingga tidak tega padaku. Ikatlah tangan dan leherku. Kemudian letakkan wajahku menghadap tanah.” Maka, Ibrahim pun menuruti permintaan anaknya.

Wanaadaynaahu ayyaa ibroohiimu qod shodaqtarru’yaa
(Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim)

Malaikat utusan Allah menyeru Ibrahim :

Qodshoddaqtarru’yaa innaakadzaalikanajzilmuhsiniin
(sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.)

Innahadzaa lahuwalbalaaulmubiin
(Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata).

wafadaynaahu bidzibhin ‘aziim
(Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.)

Setelah Allah mengaruniakan (karunia pertama) Ibrahim dengan tebusan seekor hewan kurban sebagai pengganti Ismail, maka Dia pun mengaruniakan kepada Ibrahim karunia berikutnya, yakni :

1. Karunia Kedua yakni pujian kepada Ibrahim

“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS Ash Shaaffaat 108).

Sehingga Ibrahim menjadi orang yang dicintai dikalangan semua pemeluk agama manapun. Islam, Kristen, dan Yahudi sama-sama mengagungkan Ibrahim. Mereka mengatakan, “Sesungguhnya, sekalipun kami menganut agama Ibrahim, Bapak kami”. Hal itu merupakan dikabulkannya doa Ibrahim ketika dia mengatakan :

“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (QS Asy Syu’araa’ 84)

2. Karunai ketiga yakni salam sejahtera kepada Ibrahim

“(yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” (QS Ash Shaaffaat 109)

3. Karunai keempat yakni nikmat anak yang bernama Ishak

“Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. ” (QS Ash Shaaffaat 112)

Dua hadits yang saling bertentangan

Dikalangan Islam terbagi dua golongan hadits yang saling berbeda yakni yang menyatakan bahwa Ishak adalah anak sembelihan Ibrahim, sedangkan dipihak lain menyatakan Ismail anak sembelihan Ibrahim.

Riwayat yang menyatakan Ishak adalah anak sembelihan Ibrahim
1. Antara lain :
Dikutip dari vivaldi (seorang Kristen)
Nama Ishak dinyatakan oleh Abu Kurayb- Zayd b. al-Hubab- al-Hasan b. Dinar- ‘Ali b. Zayd b. Jud’an- al-Hasan- al-Ahnaf b. Qays- al-’Abbas b. ‘Abd al-Muttalib- Rasul Allah dalam percakapan berkata, “Kemudian Kami tebus dia dengan korban yang luar biasa.” Dan dia juga berkata, “ANAK YANG DIKURBANKAN ADALAH ISHAK”

Menurut Abu Kurayb – Ibn Yaman-Mubarak – al-Hasan-al-Ahnaf b. Qays-al – ‘Abbas b. ‘Abd al-Muttalib : Kutipannya, ” Kemudian Kami tebus dia dengan kurban yang luar biasa.” DENGAN MENGACU KEPADA ISHAK.”

Menurut al-Husayn b. Yazid al-Tahhan – Ibn Idris – Dawud b. Abi Hind – ‘Ikrimah – Ibn ‘Abbas : ANAK YANG DISURUH UNTUK DIKURBANKAN ADALAH ISHAK.

Menurut Ya’qub – Ibn ‘Ulayyah – Dawud – ‘Ikrimah – Ibn ‘Abbas : ANAK KURBAN ADALAH ISHAK.

Menurut Ibn al-Muthanna – Muhammad b. Ja’far – Shu’bah – Abu Ishaq – Abu al-Ahwas: Seseorang menyombongkan diri dihadapan Ibn Mas’ud, “Saya begini begitu, saya anak dari keturunan terhormat” Dan Abdallah ibn Mad’ud berkata, “Ini adalah Joseph b. Jacob, anak ISHAK, YANG DIKURBANKAN, anak Abraham, sahabat Allah”

Menurut Ibn Humayd – Ibrahi, b. al-Mukhtar – Muhammad b. Ishaq – ‘Abd al-Rahman b. Abi Bakr – al-Zyhri – al-’Ala’ b. Jariyah al-Thaqafi – Abu Hurayrah – Ka’b : Ketika Tuhan berkata, “Kemudian Kami tebusnya dengan kurban yang ajaib”, DIA SEDANG BERBICARA TENTANG ISHAK ANAK ABRAHAM.

Menurut Ibn Humayd – Salamah – Muhammad b. Ishaq- ‘Abdallah b. Abi Bakr – Muhammad b. Muslim al-Zuri – Abu Sufyan b. al-’Ala’ b. Jariyah al-Thaqafi, seorang sahabat dari bani Zuhrah – Abu Hurayrah – Ka’b al-Ahbar : ANAK ABRAHAM YANG DIPERINTAHKAN UNTUK DIKURBANKAN ADALAH ISHAK.

The History of al-Tabari, Vol. II, Prophets and Patriarchs, Ibnu Jarir at Tabari (trans. William M. Brenner), State University of New York Press, Albany 1987, halaman 82 : “Cerita-cerita awal tidak sependapat tentang siapa anak yang dikurbankan. BEBERAPA MENGATAKAN ISHAK, SEMENTARA YANG LAIN MENGATAKAN ISMAEL. Kedua pendapat didukung dengan pernyataan yang berasal dari Rasulullah. Jika kedua pendapat berimbang, hanya Al-Qur’an yang dapat dijadikan bukti dimana Al-Qur’an menyebutkan nama ISHAK YANG LEBIH BISA DITERIMA SEBAGAI ANAK YANG DIKURBANKAN.
2. Cerita yang disampaikan Al-Baghawi dari Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, dan Al-Abbas, bahwa yang disembelih adalah Ishak

Riwayat yang menyatakan Ismail adalah anak sembelihan Ibrahim

Imam Ahmad recorded that Ibn `Abbas, may Allah be pleased with him, said, “When the rituals were enjoined upon Ibrahim, peace be upon him, the Shaytan appeared to him at the Mas`a and raced with him, but Ibrahim got there first. Then Jibril, upon him be peace, took him to Jamrat Al-`Aqabah and the Shaytan appeared to him, so he stoned him with seven pebbles until he disappeared. Then he appeared him at Al-Jamrah Al-Wusta and he stoned him with seven pebbles.
(Imam Ahmad merekam bahwa Ibn Abbas berkata, “Ketika ritual, setan menampakkan dirinya di Mas’a dan beradu cepat dengannya, namun Ibrahim telah tiba lebih dahulu. Kemudian Jibril memburunya hingga ke Jamrat Al-`Aqabah dan Setan menampakkan dirinya kepadanya, jadi Setan dilempari dengan tujuh batu kerikil hingga dia menghilang. Kemudian Setan menampakkan dirinya di Al-Jamrah Al-Wusta dan Setan dilempari dengan tujuh batu kerikil.

As-Suddi and others said that he passed the knife over Isma`il’s neck, but it did not cut him at all, because a sheet of copper was placed between them.
(As-Suddi dan yang lainnya berkata bahwa pisau Ibrahim melewati leher Ismail, namun tidak memotong semuanya, karena selembar tembaga ditempatkan diantara mereka.)

Imam Ahmad recorded that Safiyyah bint Shaybah said, “A woman from Bani Sulaym, who was the midwife of most of the people in our household, told me that the Messenger of Allah sent for `Uthman bin Talhah, may Allah be pleased with him.” On one occasion she said, “I asked `Uthman, `Why did the Prophet call you’ He said, `The Messenger of Allah said to me, I saw the horns of the ram when I entered the House [i.e., the Ka`bah], and I forgot to tell you to cover them up; cover them up, for there should not be anything in the House which could distract the worshipper.)”’ Sufyan said, “The horns of the ram remained hanging in the House until it was burned, and they were burned too.” This offers independent evidence that the one who was to be sacrificed was Isma`il, peace be upon him.
(Imam Ahmad merekam bahwa Safiyyah bint Shaybah berkata, “Seorang wanita dari Bani Sulaym berkata bahwa Rasulullah mengirim bagi Uthman bin Talhah. Pada satu peristiwa wanita tersebut berkata kepadanya, ” Saya bertanya Uthman, Mengapa Nabi memanggilmu” Ia menjawab, “Rasulullah berkata kepadaku, saya melihat tanduk domba jantan ketika saya memasuki Bait (Ka’bah), dan saya lupa untuk memberi tahu kepada kamu untuk menutupi; tutupilah, karena disana seharusnya tidak ada suatupun di Bait yang dapat mengalihkan perhatian penyembah.) Sufyan berkata, “Sisa tanduk domba jantan menggantung di Bait hingga saatnya dibakar, dan mereka membakarnya.” Ini bukti independen yang menyatakan bahwa yang dikurbankan adalah Ismail.)

Sa`id bin Jubayr, `Amir Ash-Sha`bi, Yusuf bin Mihran, Mujahid, `Ata’ and others reported from Ibn `Abbas that it was Isma`il.
(Sa`id bin Jubayr, `Amir Ash-Sha`bi, Yusuf bin Mihran, Mujahid, `Ata’ dan yang lainnya melaporkan dari Ibn Abbas bahwa yang dikurbankan adalah Ismail.)

Ibn Jarir narrated that Ibn `Abbas said, “The one who was ransomed was Isma`il. The Jews claimed that it was Ishaq, but the Jews lied.”
(Ibn Jarir meriwayatkan dari Ibn Abbas yang berkata,”Satu yang ditebus adalah Ismail. Yahudi mengklaim bahwa yang ditebus adalah Ishak, namun Yahudi berdusta.”)

It was reported that Ibn `Umar said, “The sacrifice was Isma`il.”
(Dilaporkan bahwa Ibn Umar berkata, “Yang dikurbankan adalah Ismail.”)

Ibn Abi Najih said, narrating from Mujahid, “It was Isma`il.”
(Ibn Abi Najih berkata, riwayat dari Mujahid.”yang dikurbankan adalah Ismail”)

This was also the view of Yusuf bin Mihran.
(Keyakinan ini juga yang menjadi pandangan Yusuf bin Mihran).

Ash-Sha`bi said, “It was Isma`il, peace be upon him, and I saw the horns of the ram in the Ka`bah.”
(Ash-Sha`bi berkata, “yang dikurbankan adalah Ismail, dan saya melihat tanduk domba jantan di Ka’bah”.)

Muhammad bin Ishaq reported from Al-Hasan bin Dinar and `Amr bin `Ubayd from Al-Hasan Al-Basri that he did not doubt that the one of the two sons Ibrahim was commanded to sacrifice was Isma`il.
(Muhammad bin Ishaq reported from Al-Hasan bin Dinar and `Amr bin `Ubayd from Al-Hasan Al-Basri bahwa ia yakin bahwa salah satu dari dua anaknya Ibrahim yang diperintahkan untuk dikurbankan adalah Ismail.)

Ibn Ishaq said, “I heard Muhammad bin Ka`b Al-Qurazi say, `The one whom Allah commanded Ibrahim to sacrifice of his two sons was Isma`il.’ We find this in the Book of Allah, because when Allah finishes the story of the one of the two sons of Ibrahim who was to be sacrificed, He then says: (And We gave him the glad tidings of Ishaq — a Prophet from the righteous), and (So, We gave her glad tidings of Ishaq and after Ishaq, of Ya`qub) (11:71). He mentions the son and the son of the son, but He would not have commanded him to sacrifice Ishaq when He had promised that this son would in turn have a son. The one whom He commanded him to sacrifice can only have been Isma`il.”
(Ibn Ishak berkata,”Saya mendengar Muhammad bin Ka`b Al-Qurazi berkata, “Seorang yang Allah memerintahkan Ibrahim untuk mengorbankan dari dua anaknya adalah Ismail. Kita menemukan di kitabullah, karena ketika Allah menyelesaikan cerita satu dari dua anak Ibrahim yang dikurbankan, Ia lalu berfirman :”Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishak seorang nabi yang saleh”. dan maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang Ishak dan dari Ishak, Ya’qub (QS 11:71). Ia menyebutkan anak dan anak dari anak, namun Ia tidak memerintahkan Ibrahim untuk mengurbankan Ishak ketika Ia telah telah menjanjikan bahwa anak ini (Ishak) akan memiliki seorang anak (Yakub). Satu yang Allah perintahkan kepada Ibrahim untuk menyembelih adalah Ismail.”)

Ibn Ishaq reported from Buraydah bin Sufyan bin Farwah Al-Aslami that Muhammad bin Ka`b Al-Qurazi told them that he mentioned that to `Umar bin `Abd Al-`Aziz, may Allah be pleased with him, when he was Khalifah, while he was with him in Syria. `Umar said to him, “This is something about which I have never given any thought, but I see that it is as you say.” Then he sent for a man who was with him in Syria, a Jew who had become a Muslim and was committed to Islam, and he thought that he had been one of their scholars. `Umar bin `Abd Al-`Aziz, may Allah be pleased with him, asked him about that. Muhammad bin Ka`b said, “I was with `Umar bin `Abd Al-`Aziz. `Umar said to him, `Which of the two sons of Ibrahim was he commanded to sacrifice’ He said, `Isma`il. By Allah, O Commander of the faithful, the Jews know this, but they were jealous of you Arabs because it was your father about whom Allah issued this command and the virtue that Allah mentioned was because of his patience in obeying the command. So they denied that and claimed that it was Ishaq, because he is their father.”’
(Ibn Ishaq melaporkan dari Buraydah bin Sufyan bin Farwah Al-Aslami bahwa Muhammad bin Ka`b Al-Qurazi berkata kepada mereka bahwa ia menyatakan kepada Umar bin Abd Al-Aziz, ketika ia menjadi khalifah, sambil ia bersamanya di Syria. “Umar berkata kepadanya, “Ini adalah sesuatu hal yangmana saya tidak pernah diberi pemikiran, namun saya melihat bahwa sebagaimana kamu katakan. “Kemudian ia mengirim seorang laki-laki yang bersamanya di Syria, seorang Yahudi yang menjadi muslim, dan komitmen untuk Islam, dan ia menyampaikan bahwa ia adalah salah satu dari sarjana-sarjananya. Umar bin Abd Al-Aziz berkata kepadanya mengenai hal itu. Muhammad bin Ka’b berkata bahwa, “Saya sedang bersama dengan Umar bin Abd Al-Aziz. Umar berkata kepadanya,”Yang manakah dari dua anak Ibrahim yang dikurbankan”. Ia berkata, Ismail. Yahudi mengetahui hal ini, namun mereka iri hati kepadamu orang-orang Arab karena Ismail ayahmu yang dengan kesabarannya telah mematuhi perintah Allah. Jadi mereka (Yahudi) menolaknya dan mengklaim bahwa yang dikurbankan adalah Ishak, karena Ishak adalah bapak bagi mereka.”)

Abdullah bin Al-Imam Ahmad bin Hanbal, may Allah have mercy on him, said, “I asked my father about which son was to be sacrificed — was it Isma`il or Ishaq” He said, “Isma`il.”
(Abdullah bin Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata,”Saya menanyakan kepada ayahku mengenai yangmanakah anak yang dikurbankan–Ismail ataukah Ishak”. Ia berkata,”Ismail.”)

Ibn Abi Hatim said, “I heard my father say, `The correct view is that the one who was to be sacrificed was Isma`il, peace be upon him.”’ He said, “And it was narrated that `Ali, Ibn `Umar, Abu Hurayrah, Abu At-Tufayl, Sa`id bin Al-Musayyib, Sa`id bin Jubayr, Al-Hasan, Mujahid, Ash-Sha`bi, Muhammad bin Ka`b Al-Qurazi, Abu Ja`far Muhammad bin `Ali and Abu Salih, may Allah be pleased with them all, said that the one who was to be sacrificed was Isma`il.’
(Ibn Abi Hatim berkata,”Saya mendengar ayahku berkata,”Pandangan yang benar adalah bahwa yang dikurbankan adalah Ismail.” Ia berkata, “Dan masalah ini juga diriwayatkan bahwa Ali, Ibn `Umar, Abu Hurayrah, Abu At-Tufayl, Sa`id bin Al-Musayyib, Sa`id bin Jubayr, Al-Hasan, Mujahid, Ash-Sha`bi, Muhammad bin Ka`b Al-Qurazi, Abu Ja`far Muhammad bin `Ali and Abu Salih berkata bahwa anak yang dikurbankan adalah Ismail.”)

Al-Baghawi said in his Tafsir, “This was the view of `Abdullah bin `Umar, Sa`id bin Al-Musayyib, As-Suddi, Al-Hasan Al-Basri, Mujahid, Ar-Rabi` bin Anas, Muhammad bin Ka`b Al-Qurazi and Al-Kalbi.” This was also reported from Ibn `Abbas and from Abu `Amr bin Al-`Ala’. (And We gave him the glad tidings of Ishaq — a Prophet from the righteous.) having given the glad tidings of the one who was to be sacrificed, who was Isma`il, Allah immediately follows that with mention of the glad tidings of his brother Ishaq. This is also mentioned in Surah Hud (11:71) and in Surat Al-Hijr (15:53-55).
(Al-Baghawi berkata didalam tafsirnya, “ini adalah pandangan dari `Abdullah bin `Umar, Sa`id bin Al-Musayyib, As-Suddi, Al-Hasan Al-Basri, Mujahid, Ar-Rabi` bin Anas, Muhammad bin Ka`b Al-Qurazi, dan Al-Kalbi.” Ini juga dilaporkan dari Ibn Abbas dan dari Abu `Amr bin Al-`Ala’. (Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.) Setelah pengurbanan Ismail, Allah berikutnya menyebutkan kabar gembira dengan Ishak. Ini juga diterangkan dalam QS Hud 11:71 dan QS Al-Hijr 15:53-55).

Mengapa bisa timbul 2 golongan hadits yang saling bertentangan?

Dalam hal ini, Ka’bu ‘l-Akhbar mempunyai peranan penting dalam menceritakan berita-berita seperti ini dan semisalnya, yang diterima begitu saja oleh orang-orang Islam dari dia. Dia menceritakan berita-berita seperti itu dari kitab-kitab terdahulu, padahal kitab-kitab seperti itu memuat berita-berita yang gemuk maupun yang kurus kebenarannya. Oleh karena itu, Umar pun pernah membenarkan dari Ka’bu ‘l-Akhbar. Namun demikian para periwayat tsiqat memerlukan penyelidikan tentang berita-berita dari Ka’bu ‘l Akhbar, lalu memilah yang baik dari yang jelek dan yang benar dari yang tidak benar.[1]

Ibnu Khaldun, sejarawan Islam, menganalisis masuknya Israiliyat [2] dalam penafsiran al-Qur’an diawali oleh keadaan orang Arab yang waktu itu mempunyai pola Al-Badawah (nomad) dan ummiyah (buta huruf). Mereka tidak banyak tahu tentang sebab-sebab penciptaan alam, kapan dimulai, dan apa rahasia-rahasia yang terkandung dalam penciptaan alam itu. Oleh karena itu, mereka bertanya kepada Ahlulkitab (Yahudi dan Nasrani). Akan tetapi, para ahlulkitab yang ada pada masa itu sama saja ke-badawah-annya dengan orang kebanyakan (orang awam) ahlulkitab sendiri. Tatkala orang-orang ahlulkitab tersebut memeluk agama Islam, mereka tetap berpegang pada penafsiran mereka sebelum masuk Islam. Dengan demikian, tafsir-tafsir al-Qur’an dikalangan umat Islam dimasuki cerita-cerita Israiliyat. Contoh orang-orang seperti ini antara lain adalah Wahab bin Munabbih (34-110) dan Abdullah bin Salam (wafat 43H). Keduanya sebelum masuk Islam adalah ahlulkitab.[3]

Menurut Muhammad Husein az-Zahabi, Israiliyat masuk ke dalam tafsir al-Qur’an sejak zaman sahabat. Dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an, para Sahabat pertama kali berpegang pada penjelasan Rasulullah SAW. Setelah Rasulullah SAW wafat, jika tidak ada penjelasan dari Rasulullah SAW terhadap ayat yang ingin dipahami, para sahabat berusaha memahami ayat tersebut sesuai dengan pengetahuan bahasa Arab yang telah dimiliki mereka. Dalam hal-hal menyangkut peristiwa masa lalu, yang tidak mereka temukan penjelasannya dalam sabda Rasulullah SAW, mereka berusaha menanyakannya kepada para Sahabat lain yang dahulunya beragama Yahudi atau Nasrani. Mereka yang disebut terakhir ini berusaha memberikan penjelasan atau penafsiran dari ayat, yang tidak terlepas sama sekali dari pengaruh agama dan kebudayaan mereka dahulu, bahkan ada pula diantara mereka yang sengaja memasukkan unsur-unsur Yahudi dan atau Nasrani ke dalam penafsiran mereka.[4]

Pada masa Sahabat, Israiliyat diseleksi sedemikian rupa, sehingga sedikit sekali Israiliyat yang diterima mereka. Itu pun terbatas pada kisah-kisah masa lalu yang tidak menyangkut akidah dan hukum. Sekalipun penyeleksian yang dilakukan para Sahabat terhadap Israiliyat begitu ketat, tetapi Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Amr bin As, Abdullah bin Salam (sebelum masuk Islam beragama Yahudi), dan Tamim ad-Dari (sebelumnya beragama Nasrani), disebut oleh Goldziher (seorang orientalis yang hidup pada tahun 1850-1921) dan Ahmad Amin (tokoh pembaru Mesir), sebagai para Sahabat yang memasukkan Israiliyat kedalam penafsiran al-Qur’an.[5]

Tingkat kehati-hatian yang dimiliki dan ditradisikan para Sahabat dalam menerima Israiliyat di zaman Tabiin[6] mulai longgar. Misalnya kurang hati-hati dalam membedakan penafsiran Rasulullah SAW dengan penafsiran Israiliyat, sehingga banyak Israiliyat yang menyebar. Para Tabiin yang dituduh memasukkan Israiliyat ke dalam tafsir diantaranya, Ka’b al-Ahbar, Wahab bin Munabbih, Muhammad bin Sa’ib al-Kalbi, Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij, Muqatil bin Sulaiman, dan Muhammad bin Marwan as-Suddi.[7]

Selanjutnya, sesudah zaman Tabiin permasalahan Israiliyat melebar dan menyebar kedalam tafsir al-Qur’an, sehingga banyak kisah Israiliyat yang ditemukan dalam kitab tafsir-tafsir al-Qur’an, apalagi tatkala suatu penafsiran yang diberikan Rasulullah SAW, Sahabat, maupun yang lainnya, dituliskan tanpa mencantumkan sanad (para penutur)-nya. Keadaan seperti ini menyebabkan semakin sulit untuk membedakan yang Israiliyat dan yang bukan Israiliyat.[8]

Bila kita melihat kronologis alur cerita yang dipaparkan oleh firman Allah SWT dalam QS Ash Shaaffaat, maka sangatlah jelas bahwa nikmat pujian, salam sejahtera, dan nikmat anak (Ishak) kepada Ibrahim diberikan setelah peristiwa pengurbanan anak Ibrahim yang pertama yakni Ismail. Dan lokasi penyembelihan adalah di Mina yang kelak menjadi salah satu ritual ibadah Haji yang disyariatkan oleh Rasulullah SAW. Mina terletak beberapa kilometer dari Ka’bah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa yang disembelih sesungguhnya adalah Ismail, karena dia lah anak pertama Ibrahim.

Kisah Taurat : Ayat Jungkir Balik Yang Menandakan Bencana Tahrif

Pada QS Ash Shaffat :102, disebutkan bahwa tatkala usia anak yang dilahirkan pertama tersebut, dalam hal ini adalah Ismail sudah mencapai usia yang cukup untuk mengerti, maka Allah mengadakan ujian bagi Ibrahim antara kecintaannya terhadap Allah dan kecintaannya terhadap anak yang selama ini sudah dia nanti-nantikan.

Kisah ini jika kita kembalikan pada kitab Kejadian, sangat bersesuaian, dimana pada usia Ismail yang sudah lebih dari 10 tahun itu, beliau sudah cukup mengerti untuk berpikir dan tengah meranjak menuju kepada fase kekedewasan.

Ibrahim yang mendapatkan perintah dari Allah itu, melakukan dialog tukar pikiran dengan putranya mengenai pengorbanan yang diminta oleh Allah terhadap diri anaknya ini. Lalu bagaimana dengan penuturan Taurat, kita lihat dibawah ini :

Kejadian 22:2
“Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”

Dari sini saja kita sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa Kitab Kejadian 22:2 sudah mengalami distorsi dengan penyebutan anak tunggal itu adalah Ishak (Isaac).

Kejadian 16:16
“Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.”

Kejadian 21:5
“Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya.”

Berdasarkan kedua ayat itu, maka anak Ibrahim yang lahir lebih dahulu ialah Ismail; Jika Kejadian 22:2 menerangkan bahwa firman Tuhan kepada Ibrahim untuk mengorbankan “anak tunggal”, jelas pada waktu itu anak Ibrahim baru satu orang. Lalu kemana anak yang satunya lagi ? Padahal kedua anak tersebut masih sama-sama hidup !

Jadi seharusnya ayat yang menerangkan kelahiran Ishaq itu letaknya sesudah ayat pengorbanan. Jadi setelah ayat yang menceritakan pengorbanan barulah diikuti oleh ayat kelahiran Ishak. Inilah yang disebut dengan “tahrif” oleh al-Qur’an, yaitu mengubah letak ayat dari tempatnya yang asli ketempat lain sebagaimana yang disitir oleh QS An Nisa’ ayat 46 :

QS An-Nisa 46
“Diantara orang-orang Yahudi itu, mereka mengubah perkataan dari tempatnya…”

Dengan begitu semakin jelas saja bahwa Taurat memang mengandung tahrif (pengubahan, penambahan, pengurangan dsb), dan jelas pula bahwa kitab yang sudah diubah-ubah itu tidak dapat dikatakan otentik dari Tuhan melainkan merupakan kitab yang terdistorsi oleh ulah tangan-tangan manusia.

Orang Kristen berargumen bahwa penyebutan Ishak sebagai anak tunggal Ibrahim tidak lain karena Ismail terlahir dari budak dan merupakan anak tidak sah….. menurut saya pendapat ini konyol dan tidak beralasan… sebab Kitab Kejadian 16:3 secara jelas menyebutkan bahwa sebelum Hajar melahirkan Ismail, ia telah di nikahi secara sah oleh Ibrahim.

Kejadian 16:3
“Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, —yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan—,lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya.”

Adapula orang Kristen yang membantah dengan merujuk Kejadian 21:12 bahwa yang dimaksud dengan keturunan Ibrahim adalah yang berasal dari benih Sarah :

“Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak”. (Kejadian 21:12)

Tetapi pernyataan ini tertolak sendiri dengan ayat berikutnya yaitu Kejadian 21:13

Kejadian 21:13
“Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu”

Sehingga yang dimaksud oleh ayat Kejadian 21:13 bukan soal “Ishak adalah anak asli keturunan Ibrahim dan menjadi anak tunggalnya” namun karena masalah warisan Ibrahim sebagaimana isi dari ayat Kejadian 21:9-10

Kejadian 21:9-10
“Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri.. Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.”

Seandainya Kristen berargumentasi bahwa Ismail diusir Ibrahim, atau karena Ibrahim membenci Ismail….. jawaban saya atas pernyataan tersebut adalah “itu adalah kedustaan para pendeta Yahudi yang mengedit Taurat”!…. Ibrahim tidaklah mengusir Hajar (Kejadian 21:11 itu ayat editan Yahudi saja)…. Bahkan sebenarnya hubungan antara Ibrahim, Ismail, dan Ishak sangat erat. Taurat mencatat setelah Ibrahim wafat, anak-anaknya (termasuk Ismail) menguburkan ayahnya bersama-sama. Ini menandakan hubungan keakraban mereka.

Kejadian 25:7-9
“Abraham mencapai umur seratus tujuh puluh lima tahun, lalu ia meninggal…..Dan anak-anaknya, Ishak dan Ismael, menguburkan dia dalam gua Makhpela…..”

Bila memang benar Sarah cemburu dan mengusir mereka, itu adalah masalah lain. Namun yang terpenting adalah Ibrahim, Ismail, dan Ishak saling mencintai satu sama lain. Kita bisa sama-sama melihat hubungan antara Ishak dan Ismail yang sangat akrab, melalui pernikahan antara anak Ishak (Esau bin Ishak) dan anak Ismail (Mahalat bin Ismail dan Basmat bin Ismail).

Kejadian 28: 8-9
“maka Esaupun menyadari, bahwa perempuan Kanaan itu tidak disukai oleh Ishak, ayahnya. Sebab itu ia pergi kepada Ismael dan mengambil Mahalat menjadi isterinya, di samping kedua isterinya yang telah ada. Mahalat adalah anak Ismael anak Abraham, adik Nebayot.”

Kejadian 36:2-3
“Esau mengambil….. Basmat, anak Ismael, adik Nebayot.”

Ishak menginginkan agar keturunannya tidak bercampur dengan darah bangsa lain. Oleh karena itu Esau memperistrikan anak Ismail. Jadi kesimpulannya anak-anak Ismail adalah bangsa Ibrani juga. Ishak tidak akan membiarkan Esau memperisti anak Ismail jika Ishak menganggap anak Ismail adalah bukan Ibrani. Jadi Ibrani bukanlah hanya dialamatkan untuk bangsa Israel saja, melainkan bangsa-bangsa lain yang sedarah dengan Ibrahim.

Anak Remaja atau masih Balita ? Bukti Taurat Hasil Editan Yahudi

Untuk lebih mempertajam analisa saya mengenai kebenaran isi ayat al-Qur’an yang menyebutkan bahwa alkitab itu sudah terdistorsi oleh tangan-tangan jahil manusia, maka pada kesempatan ini sayapun akan memperlihatkan bukti-bukti lain mengenainya yang masih berhubungan erat dengan kasus Ismail dan Ishak ini.

Pengusiran Ismail dan Ibunya, Hajar yang dilakukan oleh Sarah sebagaimana yang dimuat didalam Kitab Kejadian terjadi pada waktu Ishak masih disapih karena ketakutan Sarah akan ikut terjatuhnya warisan ketangan Ismail yang juga merupakan putra dari Ibrahim (Lihat Kejadian 21:8-10).

Kejadian 21:8-10
“Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu. Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri. Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.”

Silahkan pembaca perhatikan, betapa Kejadian 21:8-10 kontradiksi dengan Kejadian 21:14-21

Kejadian 21:14-21

14. Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba.
15. Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak,
16. dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: “Tidak tahan aku melihat anak itu mati.” Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring.
17. Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: “Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring.
18. Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.”
19. Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum.
20. Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah.
21. Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir.

Kejadian 21:8-10 menceritakan Ismail sudah dewasa (berumur 14 tahun lebih) dan bermain dengan Ishak yang masih balita, hal ini membuat Sarah marah dan mengusir Ismail.

Keesokan harinya….nah inilah yang aneh…. cerita Kejadian 21:14-21 justru menceritakan hal yang bertentangan dengan ayat yang sebelumnya diceritakan.

Kenapa bertentangan ?

Karena dalam Kejadian 21:14-21 digambarkan seolah-olah Ismail masih seorang bayi yang digendong dibahu ibunya, kemudian Ismail yang menurut kitab Kejadian sendiri saat itu sudah berusia 16 tahun yang notabene sudah cukup dewasa kembali digambarkan bagai anak kecil yang mesti dibaringkan dibawah semak-semak (Kejadian 21:15) lalu diperintahkan untuk diangkat, digendong (Kejadian 21:18).

Masa iya sih Hagar harus menggendong seorang anak laki-laki “dewasa” yang berusia 16 tahun, apa tidak terbalik seharusnya Ismail yang menggendong Hagar ?

Kemudian disambung pada Kejadian 21:20 seolah Ismail masih sangat belia sekali sehingga dikatakan “…Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah”.

Jadi dari sini saja sudah kelihatan telah terjadi kerusakan dan manipulasi sejarah dan fakta yang ada pada ayat-ayat Taurat, jelas sudah Taurat adalah kitab suci editan para pendeta Yahudi.

QS An-Nisa 46
“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya…..”

Dalam satu perdiskusian agama dimilis Islamic Network beberapa tahun yang lampau, seorang rekan Kristen membantah kalimat “untuk diangkat, digendong… ” yang termuat didalam kitab Kejadian ini adalah dalam bentuk kiasan, jadi disana jangan diartikan secara harfiah, karena maksud yang ada pada ayat itu bahwa nasib hidup dan makan dari Ismail ada dipundak Hagar.

Padahal jika kita mau melihat kedalam konteks ayat-ayat aslinya, akan nyatalah bahwa apa yang dimaksudkan dengan bentuk kiasan tersebut sama sekali tidak menunjukkan seperti itu.

Mari kita kupas :

Kejadian 21:14 (Alkitab LAI 1974)
“Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba.

Tidak lupa saya akan mengutip juga beberapa terjemahan ayat diatas didalam beberapa versi alkitab yakni Douay Rheims Bible (DRB), English Standard Version (ESV), dan King James Version (KJV) :

(DRB) So Abraham rose up in the morning, and taking bread and a bottle of water, put it upon her shoulder, and delivered the boy, and sent her away. And she departed, and wandered in the wilderness of Bersabee.

(ESV) So Abraham rose early in the morning and took bread and a skin of water and gave it to Hagar, putting it on her shoulder, along with the child, and sent her away. And she departed and wandered in the wilderness of Beersheba.

(KJV) And Abraham rose up early in the morning, and took bread, and a bottle of water, and gave it unto Hagar, putting it on her shoulder, and the child, and sent her away: and she departed, and wandered in the wilderness of Beersheba.

Jadi menurut Taurat, Ibraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi

Lihat kalimat bahasa Inggris tidak menyebutkan Hagar dan Ismail tetapi hanya menyebutkan kata “…and sent HER away: and SHE departed, and wandered”[9]

Jadi jelas yang diusir dan berjalan disana adalah Hagar sendirian, sebab Ismail ada dalam gendongan Hagar. Mustahil anak berusia 16 tahun digendong!!

Lalu kita lanjutkan pada kalimat berikutnya :

Kejadian 21:15 Alkitab LAI 1974
“Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak,”

(DRB) And when the water in the bottle was spent, she cast the boy under one of the trees that were there.

(ESV) When the water in the skin was gone, she put the child under one of the bushes.

(KJV) And the water was spent in the bottle, and she cast the child under one of the shrubs.

Jadi semakin jelas, ketika bekal air didalam kirbat sudah habis, lalu Ismail (yang secara jelas disebut sebagai THE CHILD dan THE BOY) yang digendong itu diturunkan dari tubuhnya dan dibaringkan dibawah pohon.

Apakah masih mau bersikeras dengan mengatakan kalau kata “menggendong atau memikul” THE CHILD disana bukan dalam arti yang sebenarnya ?

Lalu kita lihat sendiri pada ayat-ayat berikutnya dimana Hagar akhirnya mendapatkan mata air dan memberi minum kepada anaknya (THE CHILD) yang menangis kehausan lalu anak tersebut dibawah bimbingan Tuhan meranjak dewasa, jadi anak itu pada masa tersebut belumlah dewasa, padahal usianya kala itu sudah hampir 17 tahun.

Lelucon Kejadian pasal 22

Ada 3 poin utama yang harus di perhatikan mengenai lokasi tempat tinggal :

Hajar dan Ismail melewati Bersyeba (kejadian 21:14), kemudian tiba dan berdomisili di Paran (Kejadian 21:21)

Peta Timur Tengah

# Ibrahim sedang berada di Bersyeba (Kejadian 21:33)
# Sarah dan Ishak berdomisili di Hebron, Sarah wafat di Hebron (kejadian 23:2)

Peta Bersyeba dan Hebron

Peta Bersyeba dan Hebron

Pada pasal 22,
langsung disebutkan bahwa nabi Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih anak tunggalnya. Artinya Ibrahim masih berada di Bersyeba.

Kejadian pasal 22

1. Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.”
2. Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”
3. Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.
4. Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh.
5. Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.”
6. Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
7. Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?”
8. Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
9. Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api.
10. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.
11. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.”
12. Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”
13. Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya.
14. Dan Abraham menamai tempat itu: “TUHAN menyediakan”; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: “Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.”
15. Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham,
16. kata-Nya: “Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri—demikianlah firman TUHAN—:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku,
17. maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya.
18. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.”
19. Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua bujangnya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba.

Bila kita simak dengan seksama, maka Kejadian pasal 22 memiliki dua keganjilan yakni :

Kejanggalan pertama
Kejadian pasal 22 ini mengisahkan seolah-olah Ishak berada di Bersyeba. Padahal tidak ada anak Ibrahim yang berdomisili di Bersyeba. Ishak dan ibunya justru tinggal di Hebron.

Kejanggalan Kedua
Setelah selesai ritual, pada Kejadaian 22:19 Ibrahim dan Ishak pulang ke Bersyeba. Jadi seolah-olah Sarah berdomisili di Bersyeba. Padahal Taurat mencatat Sarah berdomisili di Hebron hingga wafatnya (Kejadian 23:1-2).

Kesimpulannya :
Seandainya Ishak yang disembelih, seharusnya Kejadian pasal 22 menceritakan kepulangan Ibrahim ke Hebron, tempat tinggal Sarah, untuk membawa Ishak yang hendak dikurbankan. Kemudian setelah acara ritual pengurbanan selesai, mestinya Ibrahim mengembalikan Ishak kepada ibunya di Hebron. BUKAN DI BERSYEBA. Kedengkian pendeta Yahudi mengedit taurat sudah terlalu jelas didepan mata. Pendeta Yahudi mengedit nama tempat Paran (lokasi tempat tinggal Ismail) menjadi nama tempat tinggal Ishak. Namun pendeta Yahudi terburu-buru mengedit Paran menjadi Bersyeba, padahal harusnya Hebron. Serapat-rapatnya menutupi kebenaran akhirnya ketahuan juga, itulah perumpamaan untuk pengedit Taurat.

Allah berfirman :
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis alkitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS Al Baqarah 79)

Akhir Kata

“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. ” (QS Al Maa’idah 15)

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS An Nisaa’ 115)

“….. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran” (QS Al Baqarah 269)

Akhirnya saya mengharapkan semoga artikel ini menambah wawasan dan pencerahan.

Wassalam.

Catatan Kaki

[1] : Tafsir al-Maraghi.

[2] : Israiliyat adalah sesuatu yang dikaitkan kepada Israel yaitu Yakub bin Ishak bin Ibrahim. Israiliyat bersumber dari Taurat, Injil, dan tradisi bani Israel.

[3] : Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 3, Diterbitkan oleh PT. Ichtiar Baru Van Houve, Jakarta, Cetakan keenam, 2003, hal. 755.

[4] : Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 3, Diterbitkan oleh PT. Ichtiar Baru Van Houve, Jakarta, Cetakan keenam, 2003, hal. 755.

[5] : Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 3, Diterbitkan oleh PT. Ichtiar Baru Van Houve, Jakarta, Cetakan keenam, 2003, hal. 755.

[6] : Generasi para perawi Hadits yang digunakan ilmuwan Muslim :

* Generasi pertama, adalah Sahabat. Yakni mereka yang menemani nabi Muhammad SAW dan kenal dengan beliau secara pribadi
* Generasi Kedua, mereka yang pernah belajar melalui Sahabat disebut Tabi’in (Pengikut). Pada umumnya mereka tergolong pada generasi pertama Hijriah hingga seperempat pertama abad ke dua Hijriah.
* Generasi ketiga, atba’at-Tabi’in atau Penerus Pengikut. Kebanyakan berkelanjutan sampai pertengahan pertama abad kedua Hijirah.
* Generasi ke empat

Di era abad ke 2 Hijriah, sejarah menyaksikan kemunculan banyak buku Hadits bertarafkan ensiklopedia, seperti Muwatta’ Malik, Muwatta’ Syaibani, Athar Abu Yusuf, Jami Ibn Wahb, dan kitab Ibn Majishun. Abad ke tiga akhirnya merupakan demonstrasi lahirnya buku-buku besar, seperti Sahih Bukhari, dan Musnad Ibn Hanbal. (Sumber : The Histrory The Qur’anic Test From Revelation to Compilation-Sejarah Teks al-Qur’an dari wahyu sampai Kompilasi, oleh Prof. Dr.M.M.Al-Azami, hal.197)

[7] : Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 3, Diterbitkan oleh PT. Ichtiar Baru Van Houve, Jakarta, Cetakan keenam, 2003, hal. 756.

[8] : Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 3, Diterbitkan oleh PT. Ichtiar Baru Van Houve, Jakarta, Cetakan keenam, 2003, hal. 756.

[9] : Bible Contemporary English Version (CEV) telah mengedit kata “sent HER away: and SHE departed, and wandered” menjadi “sent them away. They wandered”

Kejadian 21:14 versi CEV
“Early the next morning Abraham gave Hagar an animal skin full of water and some bread. Then he put the boy on her shoulder and sent them away. They wandered around in the desert near Beersheba.”

Begitulah perilaku Gereja setelah menyadari kesalahan mereka sendiri, dengan bertopeng tembok tebal dan gerakannya secepat tikus gereja yang lolos dari pengamatan kita. Gereja benar-benar mengikuti perilaku pendeta Yahudi yang gemar mengedit ayat Alkitab.

Sumber

-Tafsir al-Qur’an Oleh Ibn Kathir
-Tafsir al-Qur’an al-Maraghi.
-Armansyah-Swaramuslim
-Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 3, Diterbitkan oleh PT. Ichtiar Baru Van Houve, Jakarta, Cetakan keenam, 2003
-Program Alkitab (Bible) KJV, DRB, dan ESV dapat Anda download di http://www.e-sword.net
-Alkitab LAI 1974
-The Histrory The Qur’anic Test From Revelation to Compilation-Sejarah Teks al-Qur’an dari wahyu sampai Kompilasi, oleh Prof. Dr.M.M.Al-Azami, hal.197

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 104 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: